Oleh: Zhang Bingkai

Erabaru.net. Arkeolog menemukan amber bunga berusia seratus juta tahun di Myanmar.

Diantaranya ada 7 kelopak bunga kuno yang tersimpan utuh, hal tersebut sekali lagi membuktikan kekeliruan teori evolusi.

Para ilmuwan di Oregon State University Amerika Serikat menyatakan, meskipun bunga-bunga tersebut hanya berukuran 3,4 ~ 5 mm dan perlu dilihat dengan mikroskop baru jelas.

Namun mereka yang berasal dari zaman Kapur era dinosaurus 100 juta tahun silam itu memiliki makna teramat penting.

Melalui pengamatan cermat, para ilmuwan  dengan takjub menemukan bahwa struktur bunga-bunga itu masih tersimpan dengan sangat utuh dan baik.

Internet

Profesor George Poinar Jr. dari universitas tersebut menyatakan, bunga-bunga ini terlihat seperti baru saja dipetik dari kebun.

Menurut laporan Daily Science baru-baru ini, Profesor George Poinar Jr. bahkan berasosiasi dengan proses pembentukan dari amber bunga tersebut.

 “Mungkin dinosaurus menabrak ranting pohon dan bunga-bunga itu tertabrak runtuh berguguran, lalu jatuh ke dalam endapan resin di atas kulit pohon pinus Asia Tenggara, dan akhirnya berangsur-angsur menjadi amber,” katanya.

Para ilmuwan berdasarkan ciri bentuk bunga, dengan menggunakan Penta (lima) dan Pteron (sayap) dari bahasa Yunani memberinya nama: Tropidogyne pentaptera, karena setiap kuntum bunga dari zaman amat kuno ini memilik lima kelopak bunga yang berkembang sepenuhnya.

Mereka mengamati bahwa bunga-bunga ini mempunyai struktur kelopak ungu, nectar, ovarium, tangkai putik panjang dan halus dan benang sari.

Makalah ini diterbitkan di majalah “Palaeodiversity”baru-baru ini.

Kelopak bunga dan benang sari yang terlihat. (screenshot dari “Palaeodiversity”)

Dengan kata lain, bunga yang telah berusia 100 juta tahun itu memilikibentuk luar dan ciri structural yang sangat mirip dengan bunga di bumi saat ini.

Hal yang patut direnungkan adalah para ilmuwan tidak mampu menjelaskan penyebabnya berdasarkan teori evolusi, juga tidak mampu memperkirakan asal muasal dan waktu terjadinya.

Saat ini, para evolusionis masih sama seperti Darwin pada 100 tahun yang lalu yakni tidak mampu menemukan fosil spesies transisi gagasan tanaman berbunga atau tanaman tak berbunga dari yang disebut “seleksi alam”.

Secara khusus, fosil menunjukkan bahwa spesies tanaman ini pada ratusan juta yang lalu sama seperti spesies hewan yang lain yakni muncul dengan tiba-tiba.

Seperti berbagai specimen serangga yang tersimpan dalam berbagai batu amber, struktur semut, lalat dan serangga-serangga lain pada 100 juta tahun yang lalu tidak ada perubahan yang nyata dengan sekarang.  (lin/whs/rp)

Share

Video Popular