Erabaru.net. Puluhan remaja di Kendari, Sulawesi Tenggara harus dirawat di rumah sakit terkait penyalahgunaan obat bertuliskan PCC. Laporan sementara 57 orang yang harus dirawat terdiri usia remaja SD, SMP dan SMA serta pria dan wanita dewasa.

Bahkan ada korban tewas akibat konsumsi obat ini termasuk terjun ke laut hingga tewas usai menelan obat ini. Akibat lainnya menyebabkan para penelan obat tak sadar diri bak seperti zombie.

Atas kejadian ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) RI dalam keterangannya, Kamis (14/9/2017) menjelaskan bahwa kasus ini tengah ditangani oleh pihak Kepolisian RI bersama Badan POM RI guna mengungkap pelaku peredaran obat tersebut serta jaringannya.

Badan POM RI dalam hal ini berperan aktif memberikan bantuan ahli serta uji laboratorium dalam penanganan kasus tersebut. Tak hanya itu, Badan POM RI secara serentak telah menurunkan Tim untuk menelusuri kasus ini lebih lanjut dan melakukan investigasi apakah ada produk lain yang dikonsumsi oleh korban.

Sedangkan hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC  menunjukkan positif mengandung Karisoprodol.

BPOM menjelaskan, karisoprodol digolongkan sebagai obat keras. Mengingat dampak penyalahgunaannya lebih besar daripada efek terapinya, seluruh obat yang mengandung Karisoprodol dibatalkan izin edarnya pada tahun 2013 silam.

Menurut BPOM, obat yang mengandung zat aktif Karisoprodol memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot namun hanya berlangsung singkat, dan di dalam tubuh akan segera dimetabolisme menjadi metabolit berupa senyawa Meprobamat yang menimbulkan efek menenangkan (sedatif).

Lebih jauh lagi, BPOM menjelaskan penyalahgunaan Karisoprodol digunakan untuk menambah rasa percaya diri, sebagai obat penambah stamina, bahkan juga digunakan oleh pekerja seks komersial sebagai “obat kuat”.

Hingga saat ini Badan POM RI sedang dan terus mengefektifkan dan mengembangkan Operasi Terpadu Pemberantasan Obat-Obat Tertentu yang sering disalahgunakan dan memastikan tidak ada bahan baku dan produk jadi Karisoprodol di sarana produksi dan sarana distribusi di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu, untuk menghindari penyalahgunaan obat maupun peredaran obat ilegal, diperlukan peran aktif seluruh komponen bangsa baik instansi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat.

“Badan POM RI bersama Kepolisian dan BNN serta instansi terkait lainnya telah sepakat untuk berkomitmen membentuk suatu tim Aksi Nasional Pemberantasan Penyalahgunaan Obat yang akan bekerja tidak hanya pada aspek penindakan, namun juga pada aspek pencegahan penyalahgunaan obat,” BPOM dalam keterangannya. (asr)

Share

Video Popular