Erabaru.net. Dua pria ini mengunjungi peternakan monyet di Laos, di mana primata itu disimpan dalam kondisi terburuk yang tak bisa dibayangkan. Banyak yang kemudian dijual untuk digunakan dalam eksperimen ilmiah, di mana nasib mereka bahkan lebih buruk lagi. Sudah wajar bagi monyet ini untuk mati di dalam kandang dalam keadaan mengenaskan.

Pada tahun 2011, seorang jurnalis foto Jo-Anne McArthur dan seorang sutradara film Karol Orzechowski mengunjungi sebuah peternakan monyet di Laos. Mereka berpura-pura menjadi pembeli, di mana ribuan monyet dikembangbiakkan untuk memenuhi permintaan eksperimen ilmiah.

Itu adalah langkah yang harus diambil untuk mengekspos kekejaman yang dilakukan terhadap hewan, dan mendokumentasikannya dalam bentuk video dokumenter yang berjudul “Maximum Tolerated Dose “.

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

“Kami punya ide untuk melakukan ini,” kata McArthur kepada The Dodo .

“Kami mengatakan bahwa Karol membelinya untuk keperluan laboratoriumnya, dan dia juga membelinya untuk dijual kembali kepada orang-orang yang ingin membeli monyet untuk keperluan hiburan. Kami juga mengatakan bahwa alasan kami ingin memotret peternakan mereka adalah untuk melihat apakah mereka ditempatkan dalam kondisi baik, dan untuk mengembalikan informasi ini kepada klien kami di AS.”

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

Apa yang mereka temukan di sana sungguh di luar dugaan.

“Hewan-hewan dijaga dalam kondisi lapar, diperburuk oleh kondisi hierarki yang terbentuk di dalam kandang. Seekot monyet jantan laki-laki yang lebih tua menimbun makanan, sedangkan lainya sering berkelahi memperebutkan makanan, bahkan seringkali ada yang mati,” tulis McArthur di situs We Animals.

“Mereka hidup di kandang yang kecil dan sempit, serta kotor dan bau pesing. Beberapa dari mereka masih berusia muda, dan mereka sering meraba-raba lantai sekitar untuk mendapatkan sedikit makanan. Anda melihat wajah mereka penuh dengan luka dan berdarah, bahkan ada yang mengalami kebutaan, ” kata McArthur.

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)
(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

Bagi Anda, mungkin kondisi seperti itu terdengar sudah sangat mengerikan, tapi ini bukanlah akhir dari penderitaan bagi hewan-hewan ini.

Mereka kemudian dijual untuk eksperimen ilmiah, di mana nasib mereka bahkan bisa lebih buruk dari sebelumnya.

“Begitu berada di laboratorium, monyet digunakan untuk semua jenis percobaan eksperimen ilmiah, seperti percobaan toksisitas, percobaan transplantasi organ, eksperimen penyakit menular dan studi Ebola, yang mana itu sering mengakibatkan kematian pada mereka,” kata Dr. Theodora Capaldo, direktur eksekutif New England Anti-Vivisection Society (NEAVS) .

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

“Misalnya, seekor monyet akan digunakan dalam pengujian toksisitas. Ia akan diberi dosis tinggi zat kimia baru atau produk baru sampai 50 persen. Apalagi jika zat kimia tersebut berbahaya, maka bisa saja nyawa monyet itu melayang,” lanjut Capaldo.

“Atau mereka dipaksa menghirup zat beracun. Kemudian mereka akan terbunuh secara perlahan dan paru-paru mereka akan diperiksa demi tujuan penelitian ilmiah.”

Jika melalui cobaan mengerikan hewan tersebut tidak mati, mereka akhirnya akan dibunuh .

Beberapa binatang terkadang diselamatkan oleh kelompok penyelamatan hewan. Tapi itu sulit dilakukan, karena monyet tersebut bisa saja segera dipindahkan ke laboratorium baru atau disembunyikan.

Ketika satu kelompok penyelamatan hewan sudah pergi karena tak melihat ada yang ganjil, para monyet akan kembali dibawa masuk.

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

Begitu berada di laboratorium, monyet-monyet tersebut ditempatkan terpisah, yang membuat mereka menderita trauma.

“Anda akan melihat mereka melompat dalam lingkaran tanpa henti di dalam sangkar kecil. Anda akan melihat mereka menggigit diri mereka sendiri dan melakukan perilaku yang merugikan diri mereka sendiri.

“Anda akan melihat mereka menggigit jeruji sampai mereka mematahkan gigi mereka sendiri. Anda mungkin bisa melihat mereka merasa sangat frustasi dan putus asa, dan mereka mungkin berkata dalam hati, ‘Saya sangat marah, saya ingin keluar dari neraka ini!’ Monyet benar-benar melakukan itu, demi menunjukkan bahwa mereka sangat tertekan berada disitu,” kata Capaldo.

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

Sayangnya, penggunaan primata dalam penelitian bersifat ekonomis dan sudah merupakan praktik umum yang sering dilakukan di komunitas ilmiah.

Namun, Capaldo menyatakan, “Hasil dari penelitian hewan tidak harus dilakukan seperti itu, karena itu sungguh menyiksa mereka.”

“Kita tahu bahwa apa yang terjadi pada manusia laki-laki belum tentu berlaku untuk apa yang terjadi pada manusia perempuan. Jadi, jika manusia laki-laki dan perempuan tidak dapat selalu diprediksi satu sama lain tentang apa yang akan terjadi, lalu bagaimana kita dapat dengan andal mempertimbangkan spesies yang berbeda, seperti mereka untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada manusia? ”

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

Duo pria yang bekerjasama dengan Cruelty Free International, melaporkan temuan mereka ke CITES [Konvensi Perdagangan Spesies Flora dan Fauna dan Flora Langka Internasional].

“Pada 2016, CITES merekomendasikan bahwa semua negara anggota harus menangguhkan perdagangan monyet ekor panjang dari Laos,” kata Sarah Kite, direktur Proyek Khusus pada Cruelty Free International.

“Langkah ini secara efektif bisa menghentikan Laos untuk mengekspor monyet-monyet ini hanya untuk tujuan penelitian ilmiah.”

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

Akibatnya, dua dari tiga peternakan monyet di Laos kemudian ditutup, tapi tidak bisa dijamin bahwa mereka akan membuka lagi di kemudian hari.

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

McArthur menyatakan bahwa peternakan monyet adalah bisnis yang cukup populer di Laos, Kamboja, Vietnam, Tiongkok, dan Indonesia.

Semoga bisnis dan jenis perdagangan hewan seperti ini bisa segera diatasi oleh pemerintah Negara setempat.(intan/yant)

(Foto : Jo-Anne McArthur | We Animals)

Sumber : ntd.tv

Share

Video Popular