Erabaru.net. Dalam kehidupan yang serba matrialistis sekarang ini, profesi seseorang tampaknya telah dilabeli dengan perbedaan yang disebut “Hina dan Mulia”.

Dalam anggapan beberapa orang, seakan-akan ada profesi tertentu yang dipandang mulia, dan beberapa profesi lainnya dianggap memalukan.

Berikut ini, seorang netizen cewek menceritakan seluk-beluk kehidupannya dengan ayahnya yang berprofesi sebagai kuli bangunan.

Ilustrasi

Waktu kecil, netizen ini sebut saja namanya Dina selalu mengatai ayahnya bau, kotor dan dekil saat memeluknya, tapi setelah beranjak dewasa, ia baru memahami perjuangan ayahnya ketika itu.

Akhirnya Dina mengerti tidak ada istilah hina maupun mulia dalam profesi seseorang, selama bekerja dengan rajin dan halal menafkahi keluarga.

Menurutnya, ayahnya yang kuli bangunan itu jauh lebih hebat dan membanggakan dari siapa pun di hatinya.

Berikut kisah mengharukan dari netizen cewek tersebut:

Sewaktu kecil, karena orangtuanya sibuk bekerja, Dina selalu tinggal di rumah tantenya.

Suatu ketika ayahnya menjemputnya dengan gembira sepulang kerja, tapi menghadapi kehangatan ayahnya saat melihatnya, Dina yang baru kelas 4 SD justru mendorong tangan ayahnya sambil berkata : “Ayah bau, jangan peluk Dina,”ujarnya spontan.

Ilustrasi

Seorang bocah yang baru duduk di bangku SD ini tidak tahu makna ucapannya itu bak sebilah pedang tajam yang menusuk, tapi wajah Dina seketika menjadi sedih saat melihat ekspresi wajah ayahnya.

Dina sadar kalau dia salah, dan kata-katanya telah menyakiti perasaan ayahnya.

Sampai setelah bertahun-tahun kemudian, Dina yang semakin beranjak dewasa baru mengerti dan sangat menyesali ucapannya ketika itu.

Sewaktu kuliah, Dina sering ke proyek untuk melihat ayahnya dan makan malam bersama ayahnya.

Bahkan, sewaktu ayahnya pulang kerja, dia langsung memeluk sang ayah yang masih dipenuhi dengan bau keringat.

Ia hanya berharap hal ini bisa menyembuhkan luka ayahnya atas kesalahannya dulu dengan perubahan dirinya sekarang.

Ilustrasi

Suatu kali, pacar Dina berkata kalau pekerjaan ayahnya itu adalah pekerjaan rendahan, seluruh badannya kotor dan bau, menurutnya itu sangat memalukan.

Dina yang mendengar itu pun langsung meresponnya, “Meski aku tidak tahu pekerajaan hina dan mulia itu seperti apa, tapi kalau menilai derajat pekerjaan hanya dari kebersihan pakaiannya, maka pekerjaan yang derajatnya paling tinggi itu adalah para “Tikus Berdasi”.”

Ilustrasi

Dina sadar ayahnya telah berkorban begitu besar untuknya dan segenap keluarga, uang yang digunakannya sejak kecil sampai kuliah, makan dan lainnya, semua itu adalah uang hasil tetesan keringat sang ayah yang banting tulang di bawah terik Matahari.

Bahkan meski ayahnya terluka saat kerja, sang ayah juga hanya akan secara diam-diam mengobatinya sendiri tanpa berkata apa pun.

Seringkali ketika membantu memijat lengan ayahnya, Dina baru bisa melihat luka yang pernah dialami ayahnya saat kerja ; Dina baru tahu kalau ternyata ayahnya pernah jatuh dari ketinggian di proyek.

Sewaktu makan dengan ayahnya, Dina selalu diam-diam melihat-lihat tangan dan mata ayahnya, baru mengetahui apakah ayahnya terluka atau tidak.

Kalau dia mendengar kabar ada proyek yang kecelakaan atau perancah yang jatuh, ia akan langsung teringat ayahnya dan meneleponnya.

Dia takut suatu hari nanti, yang mengangkat telepon itu bukan ayahnya, melainkan orang lain yang memberi tahu kabar buruk.

Jadi ketika mendengar kalimat itu dari pacarnya, Dina langsung menegaskan, “Mereka itu tidak kotor, pemikiran dan pandangan kalianlah yang kotor!”

Demi menghidupi keluarga, banyak orang yang rela membanting tulang bekerja keras di bawah terik Matahari dan diguyur hujan, bahkan rela mengerjakan pekerjaan yang mengancam Jiwanya.

Semua itu hanya demi keluarganya agar bisa makan setiap hari. Semangat seperti ini, tidak membedakan pekerjaan apa pun, sama-sama berharga, dan mengagumkan.

Semua orang yang bekerja memiliki kesulitan masing-masing yang perlu dihargai dan dihormati dan yang utama uang dari hasil kerjaan itu halal. Bukan seperti para koruptor.(jhn/yn)

Sumber: funpeer.com

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular