Erabaru.net. Aku anak tunggal di rumah, tapi di rumah masih ada pamanku yang idiot (cacat mental). Sejak kecil aku tak pernah suka dengan paman, karena orang tuaku jauh lebih memperhatikan paman dibanding aku yang adalah putra tunggal mereka.

Setiap hari aku selalu bertengkar dengan orangtuaku karena paman. Saat marah aku pun melampiaskannya ke pamanku yang idiot itu, tapi meski aku caci maki juga paman hanya tertawa cekikikan.

Ilustrasi

Masih hangat dalam ingatanku, ketika paman membuat rusak mainanku, kemudian aku pun tidak bisa menahan diri lalu menampar paman, akibatnya aku pun dipukul ibu, dan sejak itu aku semakin benci pada paman.

Ketika duduk di bangku SD, semua teman-teman mentertawaiku karena paman, aku pun marah dan bertengkar dengan mereka.

Tidak ada yang mau duduk semeja denganku, dan tidak ada yang mau bergaul denganku.

Sejak itu aku selalu bermain sendirian. Ingin sekali aku mengusir pamanku ketika melihatnya setiap pulang sekolah.

Paman selalu menungguku di gerbang sekolah, saat itu, semua teman-temanku selalu mengejekku. Beberapa diantara temanku bahkan tak segan melempari paman.

Ilustrasi

Aku berusaha untuk menghindari paman, namun ia seperti kutu yang menempel, terus saja mengikuti kemana pun aku pergi sampai akhirnya aku dikenal dengan sebutan “keponakan si bodoh”.

Ketika duduk di bangku SMP, tak peduli apa pun yang paman lakukan untuk menarik perhatianku, aku hanya menganggapnya angin lalu.

Setiap hari aku habiskan waktuku dengan belajar, belajar dan belajar. Aku berusaha keras untuk dapat masuk ke SMA terbaik yang ada di kota agar aku bisa tinggal di asrama, meninggalkan rumah dan menjauh dari paman yang kubenci itu.

Belakangan, aku berhasil masuk di SMA favorit. Disaat setiap siswa menantikan waktu pulang ke rumah pada akhir pekan, aku malah berharap akhir pekan tak kunjung datang.

Setiap kali aku pulang ke rumah, paman selalu menungguku di depan pintu gerbang. Ia akan berlari secepat mungkin menghampiriku dengan senyum naifnya, kemudian membawakan semua barang-barangku ke dalam rumah.

Entah mengapa ketika itu paman seakan beranjak dewasa, ia tak lagi terus mengikutiku. Paman selalu tinggal di dalam kamarnya ketika aku sedang belajar, seakan mengerti aku tidak mau diganggu.

Tak terasa tiga tahun sudah aku menikmati kebebasan hidup di asrama sekolah.

Singkat cerita, aku pun sudah kuliah, dan aku semakin jarang pulang ke rumah. Aku menyibukkan diri dengan bekerja sambilan hingga kemudian aku pun mulai berpacaran dengan teman kuliahku.

Aku tak pernah menceritakan perihal keluarga pada pacarku, aku juga tak pernah memberitahu keluargaku bahwa aku telah mempunyai pacar.

Suatu ketika pacarku ingin aku mengajaknya ke rumahku. Karena terus didesak, aku pun akhirnya membawanya bertemu dengan keluargaku.

Minggu itu juga aku pun pulang ke rumah. Aku berencana memberitahu tentang pacarku kepada mereka.

Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, akhirnya aku pu sampai di rumah. Aku melihat ayah, ibu dan paman sudah menungguku di depan gerbang.

Seperti biasa, paman segera berlari menghampiriku. Ketika itu aku melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang dari samping.

Belum sempat aku teriak memberitahu paman, tubuh paman telah terhempas ke tanah oleh mobil yang menabraknya.

Dan ketika itu aku benar-benar terkejut, tiba-tiba waktu seakan berhenti seketika, aku hanya diam terpaku melihat ibu menangis histeris sambil memeluk paman, sedangkan ayah dengan panik melepon ambulan.

Ilustrasi

Namun, setelah rumah sakit berusaha menolong paman, tapi akhirnya paman pergi meninggalkan kita untuk selamanya.

Hari itu, sepulangnya dari pemakaman paman, ibu mengungkapkan sebuah rahasia besar yang telah ia pendam selama berpuluh tahun.

“Pamanmu sebenarnya seorang mahasiswa yang cerdas, asal tahu saja, tidaklah mudah untuk bisa masuk universitas ketika itu.

Sebenarnya pamanmu memiliki masa depan yang cerah, namun hidupnya berubah drastis karena menyelamatkanmu dari sebuah kecelakaan mobil kala itu.

Waktu itu, kamu yang baru berumur 4 tahun sedang asik bermain sendirian di tengah sawah. Namun, entah bagaimana ceritanya, di saat semua orang sedang sibuk dan tak memperhatikanmu, tiba-tiba kamu sudah berada di jalanan besar!

Kebetulan saat itu, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahmu. Melihat hal itu, pamanmu segera berlari menyelamatkanmu. Kamu selamat, namun pamanmu akhirnya menjad seperti itu “cacat mental…

Kakek dan nenek sangat terpukul dengan kecelakaan yang menimpa pamanmu, mereka terus sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal.

Sejak saat itulah pamanmu mulai tinggal bersama dengan kita. Meski pun pamanmu jadi cacat dan tampak bodoh, namun ia sangat menyayangimu. Ketika kamu mulai bersekolah di kota, pamanmu terus merindukanmu.

Ia selalu menyimpan semua makanan enak yang ia miliki untuk diberikan kepadamu ketika kamu pulang, entah sudah berapa banyak makanan yang akhirnya busuk tapi ia merasa sayang membuangnya.

Waktu itu, ketika pamanmu tahu bahwa kamu hendak pulang, ia sudah bangun sejak pagi dan menunggu di depan gerbang…”

Sambil mendengar cerita ibu, mataku mulai berkaca-kaca dan tak tahan mengalir deras membasahi pipiku. Ternyata aku telah berhutang begitu besar terhadap paman!

Betapa jahatnya aku semasa paman masih ada ! Andai saja waktu bisa berputar kembali.. Maafkan aku paman!!

Ilustrasi

Setiap tahun aku selalu ikut ibuku mengunjungi pusara paman, dan aku berlutut memberi hormat pada paman di pusara abadinya.

Sejak dulu hingga sekarang, yang namanya penyesalan selalu datang terlambat, jadi hargailah setiap waktumu bersama keluarga, jangan biarkan kebencian menguasai hingga berbuntut penyesalan.(jhn/yant)

Sumber: coco01.net

Share

Video Popular