- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Pil PCC Ilegal yang Seharusnya Tak Beredar, Masyarakat Diminta Waspada! Inilah Hasil Uji Lab BPOM

Erabaru.net. Badan POM menyatakan keprihatinan dan meminta semua pihak untuk bekerja sama menyelesaikan permasalahan seperti terjadi di Kendari soal peredaran produk tablet yang mencantumkan tulisan “PCC”.

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menyatakan bahwa tablet PCC yang dikonsumsi korban di Kendari adalah produk ilegal yang tidak pernah terdaftar di Badan POM sebagai obat.

“Hal itu berarti tablet tersebut tidak boleh dikonsumsi oleh siapa pun,” kata Penny K. Lukito dalam jumpa pers di Gedung BPOM, Jakarta Pusat, Senin (18/9/2017).

Hasil uji laboratorium Badan POM RI menunjukkan kandungan yang berbeda dalam tablet PCC. Ada tablet PCC yang mengandung parasetamol, carisoprodol, dan cafein. Ada juga tablet PCC yang mengandung parasetamol, carisoprodol, cafein, dan tramadol. Bahkan ada yang ditambahkan triheksifenidil.

[1]
Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito dalam jumpa pers di Gedung BPOM, Jakarta Pusat (18/9/2017)

Penny K. Lukito menjelaskan Parasetamol dan Cafein itu merupakan bahan baku obat yang masih digunakan hingga saat ini, sedangkan Carisoprodol itu ilegal, harusnya sudah tidak ada lagi dalam peredaran obat.

Carisoprodol merupakan bahan baku obat yang memberi efek relaksasi otot dengan efek samping sedatif dan euforia. Namun pada dosis yang lebih tinggi dari dosis terapi, carisoprodol dapat menyebabkan kejang dan halusinasi, serta efek lainnya yang membahayakan kesehatan hingga kematian.

Sebelumnya, obat yang berisi zat aktif carisoprodol diberikan izin edar Badan POM, namun banyak disalahgunakan. Karena itu pada 2013 silam, semua obat yang mengandung carisoprodol yakni Carnophen, Somadril, Rheumastop, New Skelan, Carsipain, Carminofein, Etacarphen, Cazerol, Bimacarphen, Karnomed dicabut izin edarnya dan tidak boleh lagi beredar di Indonesia.

[2]
Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito

Menyikapi maraknya penyalahgunaan obat-obat tertentu maupun peredaran obat ilegal di Indonesia, Badan POM telah melakukan serangkaian kegiatan intensifikasi pengawasan dan penegakan hukum, antara lain:

a) Januari 2014 ditemukan bahan baku ilegal Carisoprodol sebanyak 195 tong @25 Kg (4.875 Kg) di Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Utara.

b) September 2016 ditemukan 42 juta tablet ilegal yaitu Carnophen, Trihexyphenidyl (THP), Tramadol, dan Dekstometorfan di Balaraja – Banten. Tablet ilegal ini sudah dimusnahkan. Sebanyak 60 truk barang bukti yang dimusnahkan tersebut memiliki nilai keekonomian sekitar 30 miliar rupiah.

c) Operasi Terpadu Pemberantasan Obat-obat Tertentu (OOT) yang sering disahgunakan di wilayah Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Mataram, Denpasar, Makassar, Serang, dan Palangkaraya pada tanggal 17-21 Juli 2017. Dari hasil operasi terpadu tersebut ditemukan masih adanya peredaran OOT di toko obat, toko kosmetik, dan toko kelontong sejumlah 13 item (925.919 pieces) dengan total dengan nilai keekonomian mencapai 3,1 miliar rupiah.

d) Operasi Gabungan Nasional 5-6 September 2017. Ditemukan 436 koli atau sekitar 12 juta butir obat ilegal yang sering disalahgunakan yaitu Carnophen, Trihexyphenidyl (THP), Tramadol, dan Seledryl dengan nilai keekonomian mencapai 43,6 miliar rupiah di Banjarmasin. Temuan ini hasil Operasi Gabungan Nasional Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal yang dilakukan oleh petugas BBPOM di Banjarmasin bekerja sama dengan Tim Khusus “Bekantan” Polda Kalimantan Selatan.

e) Balai Besar POM di Makassar juga menemukan “PCC” sebanyak 29.000 tablet. pelanggaran tersebut merupakan tindak pidana di bidang obat. Badan POM akan mengambil langkah tegas termasuk merekomendasikan pencabutan izin sarana ke Kemenkes.

f) Balai POM di Mamuju menemukan 179.000 tablet di sarana ilegal yang terdiri dari Trihexyphenidyl dan Tramadol.

Aksi Nasional Pemberantasan Penyalahgunaan Obat akan dicanangkan pada 4 Oktober 2017 bersama Kemenkes, Kemendagri, POLRI, BNN, dan Kejaksaan Agung.

Badan POM RI bersama Kepolisian RI dan BNN akan terus menelusuri kasus ini sampai tuntas guna mengungkap pelaku peredaran obat ilegal tersebut beserta jaringannya.

Tidak hanya di Kendari, Balai Besar/Balai POM (BB/BPOM) di seluruh Indonesia juga bergerak serentak mengawasi kemungkinan adanya peredaran tablet PCC atau obat ilegal lainnya di wilayah masing-masing. (asr)