Erabaru.net. Jauh di dalam hutan di provinsi Papua Barat, tinggallah sebuah suku yang dikenal sebagai suku Korowai. Mereka dikatakan sebagai salah satu komunitas paling terpencil di bumi.

Sebenarnya, diyakini bahwa mereka pertama kali melakukan kontak dengan dunia luar pada tahun 1970an.

Suku Korowai diyakini pertama kali ditemukan oleh orang Barat pada tahun 1974, ketika sekelompok ilmuwan berkelana ke hutan ini, sambil menjelajahi wilayah tersebut.

Para peneliti dengan cepat mencatat kebiasaan sosial dasar dan interaksi yang dilakukan masyarakat suku tersebut, termasuk pengetahuan mereka tentang pembuatan api.

Pertemuan lain terjadi di tahun 2006, saat seorang pemandu wisata dan seorang wartawan bernama Paul Rafaelle melakukan kontak dengan suku tersebut.

“Hingga kini, suku Korowai termasuk di antara sedikit suku yang diyakini masih memakan daging manusia,”  tulis Rafaelle dalam sebuah artikel Smithsonian.

“Mereka tinggal di pedalaman hutan yang berjarak sekitar 100 mil dari Laut Arafura, di mana Michael Rockefeller, seorang putra gubernur New York, New Nelson Rockefeller, menghilang pada tahun 1961 saat ia melakukan penelitian dan mengumpulkan artefak dari suku Papua lainnya. Sayangnya, tubuhnya tidak pernah ditemukan.

“Kebanyakan suku Korowai masih hidup dengan sedikit pengetahuan tentang dunia di luar dan negara mereka tinggal. Mereka juga sering bertengkar satu sama lain. Ada yang bilang mereka juga gemar membunuh seorang penyihir pria yang mereka sebut  khakhua dan memakannya.”

Suku Korowai masih percaya akan adanya reinkarnasi dan sering melakukan pengorbanan hewan untuk menyenangkan para leluhur mereka.

Mereka juga percaya bahwa nenek moyang mereka mampu kembali ke dunia fana ini di masa depan, jika orang-orang suku Korowai yang masih hidup selalu berbuat sesuatu yang bisa menyenangkan leluhurnya.

Masyarakat suku Korowai juga dikenal sebagai pemburu yang hebat dan ahli dalam menangkap ikan. Struktur keluarga umumnya dibangun di atas konsep pria yang melakukan perburuan dan mengumpulkan makanan, sedangkan wanita bertugas merawat anak-anak.

Perilaku kanibalistik yang dianggap berasal dari suku tersebut dikatakan sebagian besar rumor, atau paling buruk, hanya terjadi pasa masa lalu saja. Kini, mereka diyakini telah berevolusi.

Perempuan dan anak-anak suku ini menghadapi ancaman dari suku saingan yang mencoba menangkap mereka dan menjualnya ke dalam perbudakan.

Sebagai tanggapan, banyak suku telah membangun gubuk yang kaku di atas permukaan tanah atau pohon, karena dianggap bisa memberikan perlindungan dari serangan musuh.

Beberapa anggota masyarakat suku ini mulai bisa menghasilkan pendapatan dalam bentuk tunai, dengan bergaul menjadi pemandu wisata atau bekerja di agen perjalanan dari kota-kota.

Mereka mengajak wisatawan berkeliling ke wilayah suku ini, sehingga suku tersebut diekspos untuk meningkatkan pengaruh eksternal.

Dipercaya bahwa suku Korowai adalah sebuah komunitas yang terdiri dari 3.000 orang. Tapi saat ini, mereka harus menghadapi berbagai ancaman berupa perambahan dan eksploitasi yang dilakukan rang-orang dari kota.

Pemerintah dilaporkan telah melewati beberapa langkah untuk melindungi suku tersebut dari serangan eksternal yang berbahaya.

Tonton video mereka di sini:

(intan/asr)

Sumber : AquaTravel/ntd.tv

Share

Video Popular