Erabau.net. Kisah ini mungkin bisa menjadi pembelajaran para orangtua. Untuk para orangtua, jangan terlalu menganggap sepele rasa sakit yang dikeluhkan anak. Periksakan ke dokter secara intensif agar masalah yang lebih serius tidak terjadi.

Anak saya yang berusia 3 tahun. Karena dia suka tertawa, kami memanggilnya “Smiley”.

Belum lama ini, Smiley mengadu sakit telinga dan saya membawanya ke rumah sakit. Setelah Smiley diperiksa, dia didapati mengalami masalah radang telinga tengah (otitis media). Dokter awalnya memeriksa dan mencuci lubang telinganya serta memberikan resep obat.

Setelah perawatan, saya sangat yakin anak tidak perlu ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Beberapa hari setelah perawatan, saya menerima telepon dari seorang guru di taman kanak-kanak tempat Smiley sekolah.

Katanya anak saya sering mengeluhkan sakit telinga dan, kemudian, dia mulai menangis, meringis kesakitan. Smiley berada di klinik sekolah dan gurunya meminta saya untuk membawa anak saya ke rumah sakit sesegera mungkin.

Saya bergegas ke sekolah Smiley. Saat saya tiba, anak saya berkata, “Ma, saya tidak ingin pergi ke rumah sakit, saya takut dokter mencuci telingaku.”

Dari sejak kecil Smiley sangat takut bertemu dengan dokter. Selama ini, dia cukup beruntung memiliki kesehatan yang baik sehingga dia tidak perlu pergi ke dokter.

Saat itu saya perhatikan dia sepertinya tidak mengalami masalah serius, dan masih banyak lagi obat di rumah. Jadi saya memberi Smiley obat dan tidak membawanya pergi ke rumah sakit.

Pada beberapa hari kemudian, ketika saya sampai di rumah pada malam hari, saya menemukan Smiley dalam keadaan menderita. Saya bertanya apakah dia merasa tidak nyaman? Dimana itu

Smiley kemudiannya menangis. Saya coba menenangkannya dengan membawa alat-alat permainannya. Tidak berapa lama kemudian, anak tersebut terbaring kaku di lengan saya. Saya tidak dapat mendengar suaranya.

Saat saya mengangkat wajahnya, oh Tuhan! Mulutnya mencong; matanya menyilang. Saya takut memegang mukanya dengan kedua tangan saya. Kupikir dia tidak bisa mengendalikan otot di wajahnya.

Saya terus bergegas bersiap untuk membawanya ke rumah sakit, kebetulan pada saat itu suami saya baru pulang kerja. Kami membawa Smiley ke rumah sakit

Di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh dan berkata, “Wajah anak ini lumpuh. Kami menduga hal ini disebabkan karena peradangan telinga yang dideritanya. ”

Saya tidak pernah menduga risiko radang telinga bisa menimbulkan masalah serius seperti ini.

“Ada banyak jaringan saraf di telinga, saraf ini bisa mempengaruhi jaringan saraf-saraf yang bisa menyebabkan kelumpuhan pada wajah,” tambah dokter dan menyarankan agar Smiley mendapat perawatan di rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Perhatian kami beralih ke biaya perawatan Smiley di rumah sakit. Saat kami merasa gundah, bungkus rokok suami saya terjatuh ke lantai.

Melihat bungkus rokok yang terjatuh, dokter kemudian memeriksa jari suamiku. Dokter rumah sakit itu kemudian melihat jari tengah dan jari telunjuk suamiku sudah gelap.Dia menggelengkan kepala dan bertanya kepada suamiku, “Seberapa sering Anda merokok dalam sehari?”

“Kira-kira tiga pak sehari,” jawab suamiku.

Mendengar jawaban suami saya, wajah dokter berubah, “Bagaimana Anda bisa menghisap rokok di dekat bayi Anda? Tidakkah kamu ketahui betapa bahayanya itu?

“Tak heran penyakit radang anak Anda semakin parah. Bila nikotin rokok bercampur darah, itu akan menyebabkan pengerasan di pembuluh darah. Viskositas darah yang ditransmisikan ke daerah telinga akan meningkat, menyebabkan gangguan pendengaran yang serius.

“Rokok adalah agen karsinogenik yang bisa menyebabkan penyakit radang serius, kelumpuhan di wajah anak Anda karena Anda tidak peduli dengan masalah ini,” jelas dokter tersebut.

Setelah mendengar penjelasan dokter, saya kesal dengan suami saya. Saya membiarkannya merokok selama ini dan dia tidak pernah mau mendengar saran orang. Sekarang dia menyesal. Apa gunanya menyesal sekarang?(yant)

Sumber: erabaru.my

Share

Video Popular