Erabaru.net. Baru-baru ini seorang netizen berbagi sebuah kisah yang sangat menyentuh di internet. Tentang seorang pemilik kedai yang menjual kembang tahu, sebut saja namanya pak Zhang.

Suatu hari warung pak Zhang didatangi seorang ibu berkursi roda bersama anaknya dan memesan semangkuk kembang tahu dan satu mantou (roti kukus). Setelah pesanannya datang, si ibu itu menyuruh anaknya segera menghabiskan makanannya, agar tidak ketinggalan mengikut upacara di sekolah.

Tapi karena terburu-buru, ibu itu langsung pergi tanpa membayar dulu makanan, awalnya istri pak Zhang bermaksud mengejarnya, tapi dicegah oleh pak Zhang.

“Mereka pasti lagi buru-buru, sehingga lupa bayar, sudahlah jangan dikejar,” kata pak Zhang.

Para tamu yang kebetulan berada di kedai ketika itu juga mengatakan bahwa kedua ibu dan anak itu mungkin tidak sengaja, bahkan ada yang bersedia membayar makanan mereka, karena merasa iba dengan kedua ibu dan anak itu, tapi ditolak pak Zhang.

Tapi saat itu, tiba-tiba istri pak Zhang menangis, ia marah-marah pak Zhang terlalu baik, sambil mengeluh dengan kondisi ekonomi keluarga.

Ternyata keluarga pak Zhang bukan orang berada, setiap hari harus bangun pagi-pagi menyiapkan kembang tahunya, agar bisa segera mengumpulkan biaya pengobatan penyakit jantung bawaan anak perempuannya.

Meski dia tahu keluhannya itu tak ubahnya seperti orang yang kikir, semangkuk kembang tahu dan satu buah mantou yang tidak seberapa saja dipersoalkan, tapi dia cemas karena dokter sudah memperingatkan risiko yang dihadapi anaknya jika pengobatannya tertunda.

Para tamu yang mendengarkan keluhan istri pak Zhang seketika menjadi hening terbawa suasana hati yang tak menentu.

Seorang pria paruh baya yang sering menikmati kembang tahu di kedai pak Zhang menyerahkan 1.000 NTD (400 ribu rupiah)  untuk membantu meringankan beban sekeluarga pak Zhang.

Namun, pak Zhang yang polos dan baik hati itu merasa malu menerima maksud baik orang lain, dan pak Zhang pun mengembalikan uang itu kepada pria tersebut sambil mengucapkan terima kasih.

Di saat suasana warung mulai hangat kembali, ibu berkursi roda itu datang lagi ke warung, katanya, ia diingatkan anaknya bahwa ia belum membayar makanan yang mereka makan tadi pagi, dan untuk meyakinkan, ibu itu bertanya pada pak zhang.

Pak Zhang tersenyum dan berkata, “Anda memang belum membayar,” jawab pak Zhang, seketika membuat si ibu itu penasaran lalu bertanya, “Tapi kenapa waktu itu bapak tidak mengejar saya?”

“Saya melihat fisik Anda yang tidak nyaman, dan itu tidak mudah bagi seorang ibu, sementara anak Anda, sedikit banyak ia akan merasa malu, jadi, jika saya mengejar dan menagih, saya khawatir Anda akan jadi salah tingkah, dan takut akan melukai harga diri anak Anda,” kata pak Zhang.

Tak disangka pak Zhang bisa memaklumi kondisi ibu berkursi roda ini. Ibu ini lupa membayar karena memang sedang terburu-buru, agar tidak melukai perasaan anaknya, dan mempertimbangkan harga diri pada ibu yang cacat itu, jadi pak Zhang pun mencegah istrinya.

Kata-kata pak Zhang itu seketika mendapat tepukan tangan yang meriah dari para pelanggan, dan kata-katanya yang penuh perhatian itu juga membuat si ibu berkursi roda meneteskan air mata haru.

Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih pada pak Zhang, dengan penuh rasa syukur ibu itu berkata : “Anda adalah orang yang penuh kasih, saya mewakili anak saya mengucapkan terima kasih.”

Keesokan harinya, saat pak Zhang baru membuka warungnya, tampak banyak orang yang antri di depan warungnya, menunggu untuk menikmati kembang tahunya.

Banyaknya pelanggan-pelanggan baru ini bahkan berlangsung selama beberapa hari berturut-turut.

Sejak itu, warung pak Zhang semakin ramai, kembang tahunya pun terkenal dari mulut ke mulut.

Dengan penasaran pak Zhang pun bertanya-tanya, dan baru tahu, ternyata ibu berkursi roda itu adalah seorang jurnalis, dia telah menulis kisah mengesankan yang dialaminya itu dan diposting di internet.

Ia mengajak orang-orang untuk ikut mendukung dengan aksi nyata kepada pemilik warung kembang tahu yang hangat dan baik hati itu.

Belakangan ibu berkursi roda itu kembali mengunjungi warung kembang tahu pak Zhang.

Pak Zhang dan istrinya terus mengucapkan terima kasih begitu si ibu berkuri roda yang merupakan jurnalis senior itu datang.

“Kalian tidak perlu mengucapkan terima kasih pada saya, karena saya yakin setiap perbuatan baik itu pasti akan dibalas dengan berkah, karena kalian mencurahkan kasih tanpa pamrih, jadi kalian mendapatkan berkah ini,”kata si ibu berkursi roda itu.

Bahagia sekali melihat kehangatan keluarga pak Zhang, putri mereka kini juga dalam proses pemulihan di rumah.(jhn/yant)

Sumber: goodtimes.my

Share

Video Popular