Manusia tidak boleh mengijinkan robot mengorbankan nyawa manusia untuk menyelamatkan dirinya; tidak boleh memberikan kuasa bagi robot atau komputer untuk membunuh manusia, selamanya tidak boleh, dengan alasan apa pun.

Apakah di saat manusia mengalami konflik dengan jiwa orang lain, manusia akan membunuh orang tersebut?

Manusia yang baik tidak akan berbuat demikian, di saat akan membunuh orang, hati nurani banyak orang akan mendapati, dan akan meletakkan senjata, akan timbul belas kasihan, niat baik akan menang melawan niat jahat.

Semua itu adalah dikarenakan manusia memiliki batasan moral.

Mobil tanpa awak. (Internet)

Namun tidak demikian halnya dengan robot, begitu robot telah dioperasikan dengan program, robot akan melakukannya tanpa kompromi.

Dilema yang terjadi pada “masalah pelik kereta trem” adalah masalah siapa yang seharusnya hidup dan mati.

Dalam kondisi kematian belum sempat terjadi, ketika kita menyadari bahwa kematian sudah di ambang mata, apa keputusan kita?

Bagaimana kita akan memutuskan kematian siapa?

Ini adalah masalah yang sangat pelik dan sensitif, yang menyangkut batas ekstrim akal sehat manusia.

Karena hal ini menyangkut asal muasal dari suatu kehidupan, apa yang bisa menentukan berakhirnya sebuah jiwa.

Kaum atheis mungkin beranggapan bahwa jiwa muncul secara kebetulan, sedangkan orang yang ber-Tuhan beranggapan ini adalah suratan takdir.

Dalam menghadapi masalah nyawa, rezim Partai Komunis Tiongkok/PKT berada di puncak sesat yang teramat ekstrim.

Bagi PKT, dalam hal perampasan organ hidup-hidup, membunuh lawannya adalah hal lumrah dan bisa diterima, ini adalah contoh egoisme yang paling ekstrim.

Masyarakat manusia yang normal tidak akan demikian.

Manusia akan menegakkan prinsip hukum yang benar, akan melakukan “paham altruisme” yang berasal dari Tuhan.

Menjelang manusia memasuki tahap mobil tanpa awak, kita perlu menyerap kebijaksanaan dari ajaran ketuhanan yang agung, menanganinya dengan kebajikan, belas kasih dan prinsip mengutamakan orang lain terlebih dahulu.

Dengan mematuhi prinsip ini baru bisa mendobrak batasan pemahaman manusia.

Dengan adanya prinsip “altruisme” ini, maka tidak akan terjadi bencana besar.

Tapi jika tidak menerapkan prinsip ini, manusia yang naik ke sebuah mobil padahal sadar betul bahwa mobil tersebut pada kondisi darurat akan mengambil tindakan melindungi mobil itu sendiri dan mengorbankan penumpang di dalamnya atau mengorbankan pejalan kaki, ini tidak bisa dibiarkan.

Masalah ini, mungkin lebih tepat disebut dilema, adalah filosofi yang timbul akibat paham egoisme manusia, yang mengutamakan diri sendiri di atas orang lain.

Ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

Harus menempuh paham altruisme, tanpa ego dan mengutamakan orang lain, baru bisa menyelesaikan dilema ini.

Metode penanganannya seharusnya adalah mobil tanpa awak harus mentaati prinsip altruisme, desain mobil, programnya, mekanisme pengoperasiannya, logika perhitungan, pengaturan kecerdasan buatannya, harus memenuhi semua persyaratan itu.

Mobil adalah alat bagi manusia, harus bisa mengorbankan “diri sendiri” untuk melindungi penumpangnya atau pejalan kaki.

Pada saat sistem dibajak, maka sistem harus mengaktifkan prosedur untuk memusnahkan dirinya sendiri, agar tidak sampai jatuh ke tangan penjahat.

Karena terkoneksi dengan internet antar benda, mobil tanpa awak seharusnya bisa memperkirakan kecelakaan yang bakal terjadi, sehingga bisa mengurangi kecepatan lebih awal, menghindari kecelakaan, dan terhindari dari kondisi “dilema kereta trem”.

Bila dibutuhkan, mobil tanpa awak harus bisa mengorbankan dirinya untuk melindungi penumpang, bisa menjadi specimen “transformer”, disaat menghadapi bahaya berubah menjadi “tank” atau “panser”, dengan sendirinya mengaktifkan mekanisme proteksi.

Bahkan berubah wujud menjadi tameng dan parasut untuk bisa melindungi manusia.

Dengan kondisi ini, mobil tanpa awak baru bisa diberi kuasa.

Badan mobil tanpa awak, berikut kemampuan perlindungannya, tahan tubrukan, dan piawai mengelak, seharusnya memiliki kriteria lebih tinggi.

Ini bukan hal yang harus dipertimbangkan oleh masyarakat yang akan menjadi penumpangnya, melainkan hal yang harus dipikirkan oleh produsennya.

Keuntungan dan biaya mereka, harus mengandung pertimbangan ini.

Untuk membuat mobil tanpa awak memiliki pemikiran paham altruisme, mengorbankan diri sendiri, adalah seperti menuntut agar komputer bisa mentaati kriteria moralitas manusia.

Apakah mereka bisa mematuhi kriteria moral manusia?

Apakah robot dan komputer memiliki sifat ini?

Sepertinya sangat sulit.

Namun jika tidak bisa, maka robot dan komputer tidak boleh diberikan kuasa seperti halnya manusia, mobil tanpa awak juga tidak diperbolehkan beroperasi di jalan.

Robot adalah buatan manusia, robot harus melayani manusia, robot juga harus tunduk pada manusia, mutlak harus tunduk, bahkan tunduk sampai tahap bisa mengorbankan dirinya sendiri.

Jika tidak memenuhi syarat ini, maka robot tidak boleh eksis, dan tidak boleh diciptakan.

Paling cepat delapan tahun mendatang, mobil tanpa awak akan beredar luas.

Sekarang adalah saatnya, umat manusia seharusnya menghimbau para investor, teknisi, programmer yang berkecimpung di bidang mobil tanpa awak ini mulai dari Detroit sampai ke Silicon Valley.

Juga menyuarakan pada para anggota legislatif mulai dari Sacramento hingga ke Washington, bahwa manusia harus mengatakan ‘berhenti’ pada robot, AI (kecerdasan buatan), komputer mobil dan para pengendali di belakang komputer!

Jika mobil tanpa awak tidak bisa mematuhi paham altruisme, dan prinsip desain mengorbankan dirinya, maka tidak mungkin mobil tanpa awak dibiarkan untuk eksis.

Terlebih tidak mungkin dibiarkan ditumpangi di jalan raya milik manusia! (sud/whs/rp)

TAMAT

Share
Tag: Kategori: OTOMOTIF TEKNOLOGI

Video Popular