- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Prinsip Altruisme pada Mobil Tanpa Awak (3)

Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Erabaru.net. Mulai dari “tiga prinsip hukum ilmu robot” Asimov sampai contoh pada tingkat moralitas menyelamatkan pengemudi atau menyelamatkan pejalan kaki, berlanjut lagi sampai eksperimen klasik “masalah pelik kereta trem.”

Tidak sulit untuk melihat bahwa, dengan mematuhi prinsip hukum yang ada saat ini tidak dapat menjamin keselamatan manusia, baik keselamatan perorangan, maupun keselamatan keseluruhan.

Beroperasinya mobil tanpa awak, karena terkait dengan komunikasi antar mobil, koneksi antar mobil pasti akan menggunakan internet benda (internet of the things) untuk saling terkoneksi satu sama lain.

Salah satu dari pusat atau pos jejaring internet yang lebih tinggi tingkatannya, akan mengemban tanggung jawab dan kuasa koordinasi terhadap seluruh mobil atau mobil tanpa awak yang beroperasi di jalanan.

[1]
Mobil tanpa awak. (Internet)

Jika seandainya kekuasaan dan pusat kendali internet ini dibajak oleh hacker, atau dibajak oleh pemerintah otoriter (seperti Korut), pembajak akan dengan mudah memerintahkan seluruh mobil tanpa awak saling bertabrakan, atau saling menghancurkan.

Tentu bisa membinasakan penumpang yang ada di dalamnya, atau membinasakan penumpang tertentu yang ingin dihabisi oleh si pembajak.

Pada saat itu, robot dan mesin, kecerdasan buatan (AI) dan komputer, benar-benar akan menjadi kekuatan yang bisa mempermainkan takdir manusia.

Contoh terbaru kemungkinan membahayakan manusia oleh robot adalah penyusupan terhadap 700 juta akun surel di seluruh dunia.

Ini adalah ulah robot surel yang berasal dari Belanda, dengan memanfaatkan 700 juta akun surel yang dibajaknya untuk menyebarkan surel sampah yang berisi program trojan perbankan.

Robot ini adalah “kejahatan” skala terbesar dalam sejarah manusia dan berdampak paling luas, yakni setara dengan jumlah penduduk benua Eropa.

Dalam sebuah film Amerika berjudul “Ex Machinia”, disitu robot bahkan bisa memanfaatkan kelemahan dan perasaan manusia, untuk mengendalikan, menguasai serta mencelakakan manusia!

Dalam sebuah artikel di majalah “Times” edisi Maret 2016 oleh Matt Vella yang menjabarkan, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa manusia tidak seharusnya diijinkan mengemudikan mobil!

Walaupun mobil semakin aman, tapi angka kecelakaan lalu lintas justru terus meningkat.

[2]
Mobil tanpa awak. (Internet)

Di Amerika setiap tahun terjadi 6 juta kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan lebih dari 30.000 jiwa meninggal dunia.

Di seluruh dunia setiap tahunnya 1,3 juta jiwa meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Dan sebesar 94% laka lantas adalah akibat kesalahan manusia.

Data eksperimen menunjukkan, mobil tanpa awak memang lebih aman.

Dan saat dimana robot menggantikan, diperkirakan akan terjadi antara 2025 hingga 2050.

Manusia hanya memiliki waktu kurang dari satu dekade untuk mempersiapkan diri.

Kalangan hukum telah memastikan “pengemudi” pada mobil tanpa awak adalah komputer atau robot.

Tidak sulit membayangkan, dengan segera akan ada orang yang mengemukakan soal “hak asasi robot atau HAR”, yang mengusulkan kesetaraan antara manusia dengan robot.

Tapi betapa pun konflik kekuasaan sekuler dan gerakan kesetaraan digulirkan, masyarakat harus memahami serta juga bersikukuh bahwa derajat robot itu lebih rendah daripada manusia.

Kita tidak boleh mengakui “hak asasi robot” dan tidak boleh mengakui kesetaraan status robot dengan manusia.

Manusia tidak boleh mengijinkan robot mengorbankan nyawa manusia untuk menyelamatkan dirinya; tidak boleh memberikan kuasa bagi robot atau komputer untuk membunuh manusia, selamanya tidak boleh, dengan alasan apa pun.

Apakah di saat manusia mengalami konflik dengan jiwa orang lain, manusia akan membunuh orang tersebut?

Manusia yang baik tidak akan berbuat demikian, di saat akan membunuh orang, hati nurani banyak orang akan mendapati, dan akan meletakkan senjata, akan timbul belas kasihan, niat baik akan menang melawan niat jahat.

Semua itu adalah dikarenakan manusia memiliki batasan moral.

[3]
Mobil tanpa awak. (Internet)

Namun tidak demikian halnya dengan robot, begitu robot telah dioperasikan dengan program, robot akan melakukannya tanpa kompromi.

Dilema yang terjadi pada “masalah pelik kereta trem” adalah masalah siapa yang seharusnya hidup dan mati.

Dalam kondisi kematian belum sempat terjadi, ketika kita menyadari bahwa kematian sudah di ambang mata, apa keputusan kita?

Bagaimana kita akan memutuskan kematian siapa?

Ini adalah masalah yang sangat pelik dan sensitif, yang menyangkut batas ekstrim akal sehat manusia.

Karena hal ini menyangkut asal muasal dari suatu kehidupan, apa yang bisa menentukan berakhirnya sebuah jiwa.

Kaum atheis mungkin beranggapan bahwa jiwa muncul secara kebetulan, sedangkan orang yang ber-Tuhan beranggapan ini adalah suratan takdir.

Dalam menghadapi masalah nyawa, rezim Partai Komunis Tiongkok/PKT berada di puncak sesat yang teramat ekstrim.

Bagi PKT, dalam hal perampasan organ hidup-hidup, membunuh lawannya adalah hal lumrah dan bisa diterima, ini adalah contoh egoisme yang paling ekstrim.

Masyarakat manusia yang normal tidak akan demikian.

Manusia akan menegakkan prinsip hukum yang benar, akan melakukan “paham altruisme” yang berasal dari Tuhan.

Menjelang manusia memasuki tahap mobil tanpa awak, kita perlu menyerap kebijaksanaan dari ajaran ketuhanan yang agung, menanganinya dengan kebajikan, belas kasih dan prinsip mengutamakan orang lain terlebih dahulu.

Dengan mematuhi prinsip ini baru bisa mendobrak batasan pemahaman manusia.

Dengan adanya prinsip “altruisme” ini, maka tidak akan terjadi bencana besar.

Tapi jika tidak menerapkan prinsip ini, manusia yang naik ke sebuah mobil padahal sadar betul bahwa mobil tersebut pada kondisi darurat akan mengambil tindakan melindungi mobil itu sendiri dan mengorbankan penumpang di dalamnya atau mengorbankan pejalan kaki, ini tidak bisa dibiarkan.

Masalah ini, mungkin lebih tepat disebut dilema, adalah filosofi yang timbul akibat paham egoisme manusia, yang mengutamakan diri sendiri di atas orang lain.

Ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

Harus menempuh paham altruisme, tanpa ego dan mengutamakan orang lain, baru bisa menyelesaikan dilema ini.

Metode penanganannya seharusnya adalah mobil tanpa awak harus mentaati prinsip altruisme, desain mobil, programnya, mekanisme pengoperasiannya, logika perhitungan, pengaturan kecerdasan buatannya, harus memenuhi semua persyaratan itu.

Mobil adalah alat bagi manusia, harus bisa mengorbankan “diri sendiri” untuk melindungi penumpangnya atau pejalan kaki.

Pada saat sistem dibajak, maka sistem harus mengaktifkan prosedur untuk memusnahkan dirinya sendiri, agar tidak sampai jatuh ke tangan penjahat.

Karena terkoneksi dengan internet antar benda, mobil tanpa awak seharusnya bisa memperkirakan kecelakaan yang bakal terjadi, sehingga bisa mengurangi kecepatan lebih awal, menghindari kecelakaan, dan terhindari dari kondisi “dilema kereta trem”.

Bila dibutuhkan, mobil tanpa awak harus bisa mengorbankan dirinya untuk melindungi penumpang, bisa menjadi specimen “transformer”, disaat menghadapi bahaya berubah menjadi “tank” atau “panser”, dengan sendirinya mengaktifkan mekanisme proteksi.

Bahkan berubah wujud menjadi tameng dan parasut untuk bisa melindungi manusia.

Dengan kondisi ini, mobil tanpa awak baru bisa diberi kuasa.

Badan mobil tanpa awak, berikut kemampuan perlindungannya, tahan tubrukan, dan piawai mengelak, seharusnya memiliki kriteria lebih tinggi.

Ini bukan hal yang harus dipertimbangkan oleh masyarakat yang akan menjadi penumpangnya, melainkan hal yang harus dipikirkan oleh produsennya.

Keuntungan dan biaya mereka, harus mengandung pertimbangan ini.

Untuk membuat mobil tanpa awak memiliki pemikiran paham altruisme, mengorbankan diri sendiri, adalah seperti menuntut agar komputer bisa mentaati kriteria moralitas manusia.

Apakah mereka bisa mematuhi kriteria moral manusia?

Apakah robot dan komputer memiliki sifat ini?

Sepertinya sangat sulit.

Namun jika tidak bisa, maka robot dan komputer tidak boleh diberikan kuasa seperti halnya manusia, mobil tanpa awak juga tidak diperbolehkan beroperasi di jalan.

Robot adalah buatan manusia, robot harus melayani manusia, robot juga harus tunduk pada manusia, mutlak harus tunduk, bahkan tunduk sampai tahap bisa mengorbankan dirinya sendiri.

Jika tidak memenuhi syarat ini, maka robot tidak boleh eksis, dan tidak boleh diciptakan.

Paling cepat delapan tahun mendatang, mobil tanpa awak akan beredar luas.

Sekarang adalah saatnya, umat manusia seharusnya menghimbau para investor, teknisi, programmer yang berkecimpung di bidang mobil tanpa awak ini mulai dari Detroit sampai ke Silicon Valley.

Juga menyuarakan pada para anggota legislatif mulai dari Sacramento hingga ke Washington, bahwa manusia harus mengatakan ‘berhenti’ pada robot, AI (kecerdasan buatan), komputer mobil dan para pengendali di belakang komputer!

Jika mobil tanpa awak tidak bisa mematuhi paham altruisme, dan prinsip desain mengorbankan dirinya, maka tidak mungkin mobil tanpa awak dibiarkan untuk eksis.

Terlebih tidak mungkin dibiarkan ditumpangi di jalan raya milik manusia! (sud/whs/rp)

TAMAT