Erabaru.net. Setelah pemilik “Rumah paku” selama 14 tahun mempertahankan dan melindungi rumahnya, dia akhirnya harus setuju dengan keinginan pihak berwenang Shanghai untuk menghancurkan rumahnya.

“Rumah paku” terletak di tengah jalan dan menyebabkan arus lalu lintas tersendat selama 14 tahun terakhir.

Kredit: ImagineChina

Awalnya pemilik rumah diberi kompensasi agar rumahnya bisa dibongkar, tapi dia tidak setuju karena nilai kompensasi yang ditawarkan tak setimpal.

Akhirnya pemilik rumah tersebut menyetujui rumahnya untuk dirobohkan setelah jumlah kompensasi yang dibayarkan diperkirakan sekitar 2,7 juta yuan setara dengan Rp 5 Miliar.

Kredit: ImagineChina

“Rumah paku” biasa terjadi dalam perkembangan pesat pembangunan di Tiongkok. Istilah ini digunakan  menggambarkan rumah yang menolak untuk dibongkar.

Dari segi bangunan rumah ini berada persis di tengah jalan raya.  Akibatnya lalu lintas empat jalur yang luas menjadi dua jalur untuk menghindari rumah tersebut.

Kredit: AFP

Pembongkaran itu dilakukan beberapa waktu lalu dan hanya membutuhkan waktu sekitar 90 menit, menurut kantor berita setempat.

Rumah paku sering berada di lokasi konstruksi yang baru dibangun seperti terhadap sejumlah proyek infrastruktur. Keberadaan rumah ini tak lain keengganan pemilik rumah untuk menghancurkan rumah mereka.

Alasan warga menolak untuk digusur dikarenakan tanah yang mereka tempati tersebut merupakan warisan leluhur. Selain itu warga juga menilai kompensasi yang diberikan tidak sepadan dengan nilai bangunan. (asr)

Sumber : Erabaru.com.my

Share

Video Popular