Erabaru.net. Tablet Babilonia berusia 3.700 tahun baru saja diterjemahkan. Isinya adalah mengungkapkan tentang sejarah matematika, menunjukkan bahwa teori trigonometri mungkin telah dikembangkan sebelum zaman Yunani kuno.

Para ilmuwan mengatakan bahwa tablet tersebut membuktikan bahwa bangsa Babilonia telah mengembangkan teori trigonometri sekitar 1.500 tahun sebelum dikembangkan kembali oleh orang-orang Yunani.

Dr. Daniel Mansfield yang sedang memegang batu tablet tanah liat Plimpton 322 Babel di Perpustakaan Buku dan Naskah Langka di Universitas Columbia di New York. (Andrew Kelly / UNSW)

Tablet yang disebut Plimpton 322, ditemukan di Irak Selatan, sekitar pergantian abad yang lalu. Seorang ahli arkeolog Amerika dan diplomat bernama Edgar Banks, yang menjadi inspirasi bagi Indiana Jones menemukan tablet tersebut.

Seperti yang dicatat oleh Telegraph :

Namun tidak seperti trigonometri yang dipelajari masa ini, teori matematika Babel menggunakan sistem dasar 60, atau seksagesimal, dan bukan 10, yang digunakan saat ini. Karena 60 jauh lebih mudah terbagi tiga, menurut para ahli yang mempelajari tablet tersebut. Selain itu, perhitungannya juga jauh lebih akurat.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa Plimpton 322 menggambarkan bentuk segitiga sama sisi menggunakan jenis trigonometri baru berdasarkan rasio, bukan sudut dan lingkaran,” kata Dr. Daniel Mansfield, ilmuwan dari Fakultas Matematika dan Statistik di Universitas New South Wales, dalam sebuah rilis berita universitas .

“Ini adalah karya matematika yang menarik yang menunjukkan bahwa teori ini tak perlu diragukan lagi. Tablet ini tidak hanya berisi tabel trigonometri tertua di dunia.”

“Batu tablet ini juga satu-satunya tabel trigonometri yang benar-benar akurat, karena pendekatan Babilonia yang sangat berbeda terhadap teori aritmatika dan geometri yang banyak kita pelajari sekarang.”

Dia menambahkan bahwa isi tablet itu masih menjadi “misteri besar sampai sekarang.”

Plimpton 322: Tabel trigonometri pertama di dunia, (Perpustakaan Naskah dan Buku Langka, Universitas Columbia).

“Plimpton 322 adalah alat yang hebat yang bisa digunakan untuk mensurvei bidang atau membuat perhitungan arsitektural untuk membangun istana, kuil, bahkan piramida,” katanya.

Seorang astronom asal Yunani Hipparchus, yang hidup sekitar tahun 120 SM, memang dianggap sebagai bapak trigonometri. Namun tampaknya, posisinya akan tergeser paska penemuan batu tablet ini.

“Plimpton 322 hidup lebih dari 1000 tahun sebelum Hipparchus lahir,” kata profesor UNSW, Norman Wildberger.

“Ini membuka kemungkinan baru tidak hanya untuk penelitian matematika modern, tapi juga untuk kemajuan pendidikan matematika. Dengan Plimpton 322, kita melihat trigonometri yang lebih sederhana dan lebih akurat yang memiliki keunggulan dibandingkan teori trigonometri yang saat ini kita pelajari.”

Temuan mereka pun kini dipublikasikan di Historia Mathematica.

Sumber :  The Epoch Times

Share

Video Popular