Oleh Paul Huang

Ratusan aktivis mengadakan demonstrasi di Kota New York pada hari Sabtu siang untuk memprotes pengecualian Taiwan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional lainnya. Orang-orang Taiwan-Amerika, orang-orang yang dianggap sebagai pembelot Tiongkok, dan pendukung internasional Taiwan, bergabung dengan para aktivis dan politisi dari Taiwan untuk mendorong diijinkannya Taiwan agar boleh berpartisipasi di dunia internasional, saat Majelis Umum PBB memulai sesi barunya.

Peran Tiongkok dalam mengasingkan Taiwan dari komunitas internasional di berbagai negara menjadi sorotan saat para aktivis memulai pergerakan mereka ke Markas Besar PBB dari Konsulat Jendral Republik Rakyat Tiongkok di Hell’s Kitchen. Untuk mendukung demonstrasi tersebut, orang-orang terkemuka yang dianggap sebagai pembelot Tiongkok, yakni Yang Jianli dan Teng Biao memberikan pidato di depan konsulat.

Taktik Tiongkok yang tak kenal lelah dan semakin menindas, untuk menyingkirkan Taiwan dari masyarakat global hanya akan memberi konsekuensi berbahaya bagi umat manusia,” kata Yang Jianli, yang dipenjara oleh pemerintah Tiongkok dari tahun 2002 sampai 2006 karena aktivisme pro-demokrasinya. “Tentunya Taiwan memiliki banyak kontribusi untuk dunia, dan PBB harus membuka pintu bagi 23 juta orang dari negara demokrasi ini.”

Pembelot Tiongkok, Yang Jianli memberikan pidato pada 16 September di depan Konsulat Jenderal Tiongkok, di Kota New York untuk memprotes pemblokiran Tiongkok terhadap Taiwan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional lainnya. (Paul Huang / The Epoch Times)

Demonstrasi “Keep Taiwan Free” ini diselenggarakan oleh Komite Pendaftaran Masuk Taiwan ke PBB yang bermarkas di New York, dan juga diadakan bersamaan dengan Sidang Umum Majelis Umum PBB ke 72, yang diadakan pada 12-25 September. Para peserta yang hadir antara lain adalah delegasi dari Taiwan United Nations Alliance (TAIUNA) – sebuah LSM Taiwan yang selama 14 tahun telah mengadakan perjalanan tahunan ke Amerika Serikat untuk mengupayakan diikutsertakannya Taiwan dalam PBB.

Menurut panitia penyelenggara, sebanyak 600 peserta berpartisipasi dalam acara tersebut. Mulai pukul 4 sore, para demonstran berjalan melintasi Manhattan dan akhirnya sampai di Dag Hammarskjold Plaza di depan Markas Besar PBB sekitar pukul 5 sore. Pawai berlangsung damai dan menarik perhatian banyak orang New York yang sedang berjalan-jalan di tengah kota pada hari Sabtu siang.

Ratusan aktivis mengadakan demonstrasi pada hari Sabtu siang, mereka bergerak dari Konsulat Jendral Republik Rakyat Tiongkok di Hell’s Kitchen ke Markas Besar PBB di sisi lain Manhattan, untuk memprotes pengecualian Taiwan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional lainnya. (Paul Huang / The Epoch Times)

Ting, seorang pelajar Taiwan yang belajar di Amerika, mengatakan bahwa dia berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut, karena ingin negaranya dikenal oleh orang lain, dan dia merasa sangat yakin bahwa Taiwan harus memiliki identitas semacam itu. Diperkirakan ada 57.000 siswa Taiwan yang belajar di seluruh dunia, kebanyakan berada di negara-negara yang tidak mengakui negara bagian Taiwan secara diplomatis, termasuk Amerika Serikat, di mana 21.000 siswa Taiwan diyakini belajar disitu.

Presiden TAIUNA Michael Tsai, yang juga mantan Menteri Pertahanan Taiwan, mengatakan bahwa seharusnya tidak ada negara manapun yang dilarang berpartisipasi dalam PBB. Tsai berpendapat bahwa bahkan Palestina, yang dianggap sebagai “entitas non-negara” oleh banyak orang, dapat bergabung dengan PBB sebagai pengamat dua tahun lalu. Jadi, “kenapa Taiwan tidak bisa?”

Michael Tsai (tengah), mantan Menteri Pertahanan Taiwan dan presiden Aliansi Perserikatan Bangsa-Bangsa Taiwan, mengatakan bahwa seharusnya tidak ada negara manapun yang dilarang berpartisipasi dalam PBB. (Paul Huang / The Epoch Times)

Hsu Yung-ming, seorang legislator Taiwan dari New Power Party terbang dari Taiwan dan bergabung dalam demonstrasi tersebut. “Banyak orang mengatakan bahwa dorongan supaya Taiwan ikut dalam keanggotaan PBB adalah tidak mungkin dilakukan, tapi mereka gagal melihat apa yang dipertaruhkan di sini,” kata Hsu.” Taiwan perlu membuat suaranya didengar oleh masyarakat internasional. Kita perlu membuat ini menjadi masalah yang harus diatasi, dan perlu membuat dunia melihat ada 23 juta orang yang saat ini dikecualikan dari PBB.”

Chang Hung-lu dan Yu Wan-ju, dua anggota legislatif lainnya dari Partai Progresif Demokratik – partai berkuasa di Taiwan sekarang – juga ikut dalam demonstrasi tersebut. “Fakta bahwa Tiongkok memiliki kekuatan untuk menyingkirkan negara lain dari Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah pelanggaran terhadap filosofi pendirian organisasi itu sendiri, yang seharusnya mencakup semua negara,” kata Yu.

June Lin, salah satu anak muda Taiwan yang tinggal di Amerika, selama demonstrasi ‘Keep Taiwan Free’ pada 16 September, berpidato di Dag Hammarskjold Plaza di samping Markas Besar PBB. (Paul Huang / The Epoch Times)

Di Dag Hammarskjold Plaza, di samping Markas Besar PBB, para aktivis mahasiswa bergiliran memberikan pidato yang mendukung kembalinya Taiwan ke PBB. June Lin, salah satu anak muda Taiwan-Amerika, mengatakan bahwa persidangan Lee Ming-che baru-baru ini, yaitu seorang warga Taiwan yang dipenjara oleh Tiongkok, adalah contoh terakhir mengapa Taiwan harus membuat suaranya terdengar di panggung internasional.

Taiwan dibawah nama “Republik Tiongkok” telah dikeluarkan dari PBB oleh Resolusi Majelis Umum 1971, untuk memberi jalan kepada Republik Rakyat Tiongkok. Taiwan telah mencoba untuk masuk kembali ke PBB sejak tahun 1993, namun belum berhasil sampai sekarang. (Jul)

Sumber: theepochtimes

Share

Video Popular