Erabaru.net. Pada 8 Agustus malam lalu ditakdirkan untuk menjadi malam tanpa tidur, terjadi gempa 7 skala richter di Jiuzhaigou Sichuan, Tiongkok, banyak tempat diguncang gempa dengan dahsyat.

Membaca sebuah berita di internet, pada malam ketika Bumi gonjang-ganjing, ada sepasang suami istri berasal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, bersama anak semata wayang mereka bertamasya ke Jiuzhaigou, pada saat mobil meluncur di dekat hotel Shen Xian Chi.

Celakanya mereka tertimpa batu besar dan sang istri meninggal di tempat. Sang suami yang sekarat dengan segenap upaya terakhir menghancurkan jendela mobil dan mendorong keluar anaknya yang masih di kelas enam SD.

Ilustrasi

Di malam kala mana bencana seolah turun dari langit ini, ada berapa banyak orangtua, disaat genting, yang dipikirkan untuk kali pertama bukan diri mereka sendiri, melainkan anak mereka yang masih balita?

Teringat pula ketika gempa Wenchuan (12 Mei 2008), petugas penyelamat menemukan seorang ibu diantara reruntuhan, tapi dia telah meninggal, sikap kematiannya tidak seperti biasanya, dia bertekuk lutut, kedua tangannya menopang tubuh, posisinya persis seperti orang bersujud.

Tim penyelamat terkejut saat mengetahui ternyata ada bayi kecil di bawah tubuh ibu tersebut, dan ada telepon seluler di antara pakaian anaknya, yang di layarnya terlihat pesan teks: “Anakku sayang, jika engkau bisa hidup, ingatlah bahwa aku mencintaimu.”

Kadang-kadang saya terpikir bahwa Tuhan mengabulkan seseorang menjadi orangtua, pasti secara diam-diam telah menganugerahkan pada mereka suatu kemampuan yang luar biasa.

Ilustrasi.

Jika tidak, pada saat genting, bagaimana mereka bisa melakukan seperti itu, air bah datang melawan air, api menjalar liar melawan api, ketika gempa terjadi, dengan tubuhnya yang terdiri dari daging dan darah tak ragu bertindak sebagai perisai bagi sang anak?

Bertahun-tahun silam saya pernah membaca sebuah kisah mini, bahwa pada 1952 di saat perang Korea berkecamuk, pada musim dingin yang bersalju, seorang prajurit Amerika bernama Wilson dalam perjalanan menuju medan tempur, tiba-tiba mendengar suara tangis bayi.

Di lokasi sunyi yang jauh dari pemukiman, kenapa ada anak kecil yang menangis?

Wilson pun merasa sangat heran, dan berjalan menuju sumber suara tangisan anak, serta mendapati tangisan itu berasal dari sebuah lubang gundukan salju.

Dia secara naluriah bergegas menyingkirkan timbunan salju itu, tiba-tiba pemandangan di depannya membuatnya tertegun: Ada seorang bayi di lubang salju itu dan seorang wanita bertelanjang bulat, bayi yang menangis sekencang-kencangnya itu dipeluk erat-erat oleh sang wanita.

Wilson menebak, mungkin telah terjadi badai salju dan si ibu terjebak didalamnya, untuk memberi kehangatan kepada bayinya, dia pun rela menanggalkan semua pakai¬annya, dengan harapan bayinya bisa bertahan hidup…

Adegan yang terbayang itu, dalam waktu yang sangat lama, sangat jelas membekas dalam benak saya, dalam terpaan badai salju, wanita telanjang itu jelas mengetahui bahwa dia akan mati membeku, tapi tetap saja dia membungkuskan semua pakaiannya ke tubuh mungil anaknya.

Saya percaya, di saat seperti itu, kebanyakan orangtua akan membuat pilihan yang sama.

Jangan bertanya mengapa, karena pada saat hidup dan mati, jika kita tidak melakukan segala upaya yang bahkan dapat membahayakan jiwa sendiri, nyawa anak kemungkinan tak akan tertolong.

Beberapa tahun yang lalu, di area puing-puing batu dan pasir yang sangat luas pasca banjir bandang di Meigu County, Provinsi Sichuan, seorang ibu muda yang pahanya hancur tergerus batu besar.

Namun dalam arus lumpur bercampur batu sedalam pinggangnya, dengan kedua tangannya dia mengangkat tinggi-tinggi bayinya yang baru berusia beberapa bulan.

Dia berjuang dengan teguh lebih dari 4 jam, bersikeras bertahan hingga petugas penyelamat berdatangan, ternyata bayinya ditemukan tanpa cedera sedikitpun!

Ilustrasi.

Tentu saja, di kehidupan sehari-hari, kasih sayang orang tua, tidak ditunjukkan secara ekstrim, melainkan bagai arus yang halus menghangatkan diri kita.

Dalam keseharian, sebagai orangtua, mungkin terkadang merasa kesal tatkala sang anak nakal dan tidak nurut, tetapi pada saat kritis, mereka akan berubah menjadi sangat kuat, sangat berani, dan bahkan memiliki kekuatan dengan daya ledak luar biasa.

Di dalam sekejap antara hidup dan mati, demi melindungi jiwa sang anak, mereka secara naluriah mampu melakukan hal-hal yang seolah mustahil!

Jika Anda telah menjadi orangtua, tentu bisa memahami perasaan seperti itu.

Jika Anda belum menjadi orangtua, maka, cobalah untuk memahami hati orangtua terhadap Anda, dan cobalah untuk lebih sabar dan lebih banyak mencurahkan kasih kepada mereka. (li qingqian/hui/yant)

Sumber: epochtimes

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular