Erabaru.net. Sudah sekitar 8 tahun Hesty menikah dan menetap di desa suaminya, tinggal di rumah mertuanya. Namun penduduk desa jarang ada yang mau bergaul dengannya, karena penduduk desa tidak suka dengan mulutnya, suka ngomong sembarangan, serakah dan juga judes.

Suami Hesty bekerja di luar daerah, dan jarang pulang, sementara ibu mertuanya sudah lama meninggal, di rumah tinggal dia bersama ayah mertua dan anaknya.

Ayah mertuanya sudah berusia tujuh puluh tahun, mempunyai penyakit rematik yang dibawa semasa muda, kini semakin parah seiring bertambahnya usia.

Hari itu, cuacanya agak dingin, ayah mertuanya yang sedang memotong kayu bakar di halaman belakang perlahan-lahan merasakan sakit di lututnya.

Ternyata rematiknya kambuh lagi, ia pun duduk istirahat sejenak di kursi sambil memukul-mukul lututnya yang sakit, dan kebetulan dilihat oleh Hesty.

Melihat ayah mertuanya tidak memotong kayu, Hesty pun seketika emosi, lalu langsung berdiri di hadapan ayah mertuanya dan marah-marah

Tidak puas hanya memarahi ayah mertuanya, Hesty lalu menyuruhnya pergi mencari kayu bakar, dan mengancam tidak akan dikasih makan jika tidak membawa pulang kayu bakar.

Orangtua yang malang, mau tidak mau berjalan dengan setengah pincang sambil meneteskan air mata.

Saat mencari kayu bakar, ayah mertuanya terjatuh, setelah dibawa ke dokter, kata dokter kakinya retak.

Semula hanya masalah ringan, tapi karena Hesty tidak mau memberinya uang untuk berobat, sehingga memperburuk cederanya, dan akhirnya tidak bisa bergerak sama sekali terbaring lemah di tempat tidur.

Karena menganggap ayah mertuanya hanya merepotkan saja, Hesty kerap memarahinya, kalau bukan memberinya makanan sisa, pasti tidak dikasih makan, hanya dalam beberapa hari, badan ayah mertuanya pun tinggal kulit membalut tulang.

Pada hari itu, Hesty menyiapkan bakpao untuk ayah mertuanya, lalu langsung pergi.

Ayah mertuanya mengambil satu buah dan mengigitnya, dan ternyata bukan bakpao basi, tapi yang masih segar dan berisi daging ayam. Entah sudah lama ayah mertua Hesty ini tidak menikmati daging.

Bakpao pertama langsung pindah ke perutnya, dan ketika mau melahap yang kedua, sayup-sayup terdengar suara cucunya dari halaman rumah, sang kakek pun memanggil cucunya, dan si cucu langsung kepingin makan setelah melihat bakpao di meja.

Si kakek kemudian memberikan semua bakpao itu kepada cucunya, ia pun langsung makan dengan lahap, bahkan satu yang tersisa di piring juga sekaligus diambilnya.

Tiba-tiba, cucunya meringis dan berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya, lalu dari mulutnya keluar busa putih.

Si kakek yang melihat itu pun berteriak panik, tak lama kemudian, perutnya juga sakit, si kakek merangkak ke pintu sambil berteriak minta tolong dan menahan sakit yang melilit perutnya.

Ia berteriak minta tolong sekencangnya, hingga akhirnya teriakannya mendatangkan tetangganya, kemudian mereka segera melarikan cucu dan kakek itu ke rumah sakit.

Dari hasil pemeriksaan, kakek dan cucu itu keracunan makanan, namun, sang cucu tewas tidak tertolong.

Sementara kakek masih bisa diselamatkan setelah lambungnya dibersihkan, karena racunnya tidak terlalu banyak dan dalam.

Setibanya di rumah sakit, Hesty meraba jasad anaknya yang telah dingin, dan air matanya pun berlinang, kemudian dia berlari ke arah ayah mertuanya dan memukulnya, sambil berkata : “Mengapa kau memberinya bakpao itu, kau yang membunuhnya, mengapa bukan kau saja yang mati ? Aku ingin kau mati menemani anakku.

Ayah mertuanya diam saja tidak melawan, diam membisu seperti boneka yang dipukul dan dicaci maki.

Ia juga sedih melihat kematian cucunya. Ia bahkan merasa menantunya benar, dialah yang telah membunuh cucunya sendiri.

Orang-orang yang mendengar kata-kata Hesty menjadi mengerti duduk persoalannya, lalu menarik Hesty dan mengecamnya.

Jika bukan karena dia ingin meracuni ayah mertuanya, maka anaknya juga tidak akan menjadi korban, malang sekali bocah yang tak bersalah itu tewas di tangan ibunya.

Kecaman dan perbincangan orang-orang terdengar Hesty, kata-kata bahwa dialah yang telah membunuh anaknya sendiri terus terngiang dalam pikirannya.

Tiba-tiba, Hesty berteriak sambil memegang kepalanya, kemudian tertawa, dan dari bibirnya terus berkata : “Anakku, anakku….”

Akhirnya, Hesty pun menjadi gila, bahkan dia langsung memeluk dan berkata itu anaknya ketika melihat ada bocah seusia anaknya, sehingga membuat takut orang-orang yang ada di rumah sakit, lalu segera membawanya ke rumah sakit jiwa.

Sementara itu, suami Hesty langsung pulang begitu mendapat kabar mengenai keluarganya.

Ia merasa dunianya hancur mengetahui istrinya menjadi gila, anaknya meninggal, dan ayahnya juga kurus kering.

Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, ia pun menjadi benci pada istrinya, dan menceraikannya, dan sejak itu tidak pernah sekali pun menjenguk Hesty.

Kabar terakhir Hesty kabur dari rumah sakit jiwa, dan hidup di jalanan tak ada yang mempedulikannya.(jhn/yant)

Erabaru.net. twgreatdaily.com

Share

Video Popular