Rudal balistik ditembakkan melintasi Jepang, sehari setelah Korea Selatan menjanjikan bantuan.

Oleh Paul Huang

Peluncuran rudal balistik terbaru Korea Utara terjadi satu hari setelah Korea Selatan menegaskan kembali niatnya untuk memberikan bantuan sebesar US $ 8 juta ke Korea Utara, menurut suatu laporan. Sebelumnya, Presiden A.S. Donald Trump mengkritik pendekatan Seoul ke Korea Utara sebagai upaya peredaan yang gagal.

Pada hari Kamis, Korea Selatan mengumumkan bahwa mereka masih berkomitmen terhadap rencana semula untuk menyumbangkan bantuan senilai US $ 8 juta ke Korea Utara, kendati ada serangkaian provokasi militer baru-baru ini, dari rezim Kim Jong-un di Utara yang terdiri atas penembakan sebuah rudal balistik di atas Jepang pada bulan Agustus, dan sebuah uji coba nuklir pada 3 September.

Bantuan tersebut merupakan bagian dari program kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang terdiri atas US $ 4,5 juta dimaksudkan untuk menyediakan nutrisi ke rumah sakit dan pusat perawatan di Korea Utara, dan $ 3,5 juta lainnya untuk proyek Dana Anak-anak PBB, untuk memasok vaksin dan obat-obatan.

Kurang dari 24 jam setelah pengumuman tersebut, Korea Utara menembakkan satu rudal balistik lagi pada hari Jumat, yang terbang melintasi Jepang dan mendarat di Samudra Pasifik, menggunakan lintasan yang serupa dengan peluncuran rudal pada 3 September lalu.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, yang mulai menjabat pada bulan Mei, telah dianggap moderat secara luas, ketika berhadapan dengan agresi Korea Utara. Bahkan sebelum peluncuran rudal terbaru Korea Utara pada hari Jumat, para kritikus telah mempertanyakan ketepatan waktu pengumuman yang dikeluarkan Seoul, karena itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Dewan Keamanan PBB memberlakukan sanksi baru terhadap Korea Utara.

SEOUL, KOREA SELATAN – 15 SEPTEMBER: Orang-orang menonton sebuah siaran televisi yang melaporkan peluncuran rudal Korea Utara di Stasiun Kereta Seoul pada tanggal 15 September 2017, di Seoul, Korea Selatan. Korea Utara meluncurkan sebuah rudal balistik ke arah Jepang beberapa hari setelah Dewan Keamanan PBB menerapkan sanksi baru terhadap rezim tersebut, atas uji coba nuklir keenam yang dilakukan pada 3 September. (Foto oleh Chung Sung-Jun / Getty Images)

“Pemerintah memiliki sikap dasar bahwa bantuan kemanusiaan untuk bayi dan wanita hamil di Korea Utara harus tetap diberikan tanpa mempedulikan situasi politik [sic],” kata juru bicara pemerintah Korea Selatan seperti dilansir Yonhap News Agency. Pemerintahan Moon belum menarik mundur pengumuman yang dilakukan hari Kamis untuk melanjutkan bantuan.

Kritik terhadap program bantuan PBB dan Korea Selatan ke Korea Utara, mengutip banyak bukti dari masa lalu bahwa bantuan semacam itu jarang sekali bisa sampai ke tangan rakyat kecil Korea Utara yang membutuhkan. Sebagai gantinya, rezim totaliter Kim hampir selalu mengambil alih setiap bantuan, untuk digunakan demi kepentingannya sendiri-terkadang bahkan menggunakannya untuk membeli senjata.

Pada tanggal 3 September, Presiden AS Trump menggunakan Twitter untuk mengungkapkan ketidaksenangannya dengan pendekatan Korea Selatan yang dia anggap hanya sebagai “upaya peredaan.” Tweet tersebut dilaporkan secara luas, dengan banyak media AS dan komentator mengkritiknya, karena dianggap telah menghasilkan gesekan yang tidak perlu antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan.

Korea Selatan baru tahu, seperti yang saya katakan sebelumnya kepada mereka, bahwa upaya peredaan yang mereka lakukan dengan Korea Utara tidak akan berhasil, mereka hanya paham satu hal!

Namun, Jepang juga memiliki masalah dengan pendekatan Korea Selatan. Yoshihide Suga, sekretaris kepala kabinet Jepang, mengatakan pada hari Kamis bahwa memberikan bantuan untuk Korea Utara dapat mengacaukan upaya internasional untuk menekan Pyongyang, menurut New York Times.

Sebelum Moon mulai menjabat, pemerintah konservatif Korea Selatan sebelumnya secara drastis membatasi bantuan kemanusiaan untuk Korea Utara selama beberapa tahun, dengan alasan bahwa bantuan tersebut hanya akan memicu agresi militer rezim Kim dan tidak akan bermanfaat bagi orang-orang Korea Utara yang miskin. (Jul)

Sumber: theepochtimes

Share

Video Popular