Riset Geosains Kelautan Mengungkap Misteri Potensi Bencana Samudera, Terdapat Data-data Tak Pernah Ditemukan Sebelumnya

246
Ilmuwan MIRAGE Jerome Dyment dan Nugroho Hananto (foto : Istimewa)

Erabaru.net. Riset geosains kelautan Marine Investigation of the Rupture Anatomy of the 2012 Great Earthquake (MIRAGE) berupaya menjawab pertanyaan tentang bagaimana gempa bumi besar terjadi di kerak samudera dengan memanfaatkan teknologi dan fasilitas penelitian mutakhir.

Wahana riset yang digunakan adalah Kapal Riset R/V Marion Dufresne, kapal riset terbesar yang dimiliki oleh Perancis. Dalam pelaksanaannya, MIRAGE dilaksanakan dalam dua tahap, yakni MIRAGE I telah dilakukan pada 2016 dan MIRAGE II pada 2017.

Kapal Riset Prancis (Istimewa)

MIRAGE merupakan kerja sama riset internasional yang dimotori oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) Perancis, dan Earth Observatory of Singapore (EOS), Nanyang Technological University Singapura.

Pada MIRAGE I telah dapat diakuisisi ~ 90 000 km2 data batimetri (peta dasar laut), 11.400 km gaya berat dan magnetik di Cekungan Wharton, Samudera India.

Data ini menunjukkan bahwa kerak Samudera India mengalami deformasi secara aktif dan ditunjukkan dengan adanya beberapa struktur patahan aktif bawah laut yang signifikan dan belum pernah ditemukan sebelumnya.

Selain itu terdapat sungai-sungai bawah laut pada kedalaman 3.500 – 4.800 m di bawah permukaan laut. Ditemukan pula struktur gunung bawah laut yang terpotong oleh suatu struktur sesar aktif berarah barat laut – tenggara.

Sementara itu dalam riset MIRAGE II akan dilakukan akuisisi data seismic refleksi guna mengetahui struktur sesar dan perlapisan kerak samudera yang ada dan sampai seberapa dalam struktur sesar tersebut berakar.

Ilmuwan MIRAGE Helen Carton (kiri), Jerome Dyment (dan), dan Nugroho Hananto (kanan) menyiapkan buku catatan untuk merekam batimetri, pemeriksaan ganda manual pada pengumpulan data elektronik (Istimewa)

“Diharapkan dengan data dan pengetahuan baru nantinya akan dapat dipahami asal mula dan implikasi tatanan geodinamika kawasan ini,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin dalam siaran persnya Jumat (22/9/2017).

Menurut Zainal, pada akhirnya temuan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk melakukan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami di kawasan Samudera India.

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Nugroho Dwi Hananto menambahkan, selain melakukan riset geosains dalam MIRAGE, dilaksanakan pula ASEAN – Komisi Oseanografi Internasional Pasifik Barat (IOC WESTPAC) Floating Summer School.

Kegiatan ini merupakan pelatihan teknis dan substantif penelitian geosains kelautan bagi para peneliti muda dan mahasiswa dari kawasan ASEAN dan IOC WESTPAC. Diharapkan pelatihan ini menumbuhkan semangat dan kemampuan generasi muda di kawasan untuk menjadi pemimpin pengembangan riset geosains kelautan di masa depan.  (asr)