Sejarah Letusan Gunung Agung Pada 1963 Silam yang Menurunkan Temperatur Suhu Bumi

269
Letusan Gunung Agung pada 17 Maret 1963 Foto: Djazuli (Volcanological Survey of Indonesia)

Erabaru.net. Status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali kini dinaikkan dari Siaga (Level 3) menjadi Awas (Level 4) oleh PVMBG Badan Geologi. Level Awas adalah level tertinggi dalam status gunungapi. Status Awas berlaku terhitung mulai Jumat (22/9/2017) pukul 20.30 Wita.

Badan Geologi mencatat bahwa Gunung Agung pernah meletus pada 12 Maret 1963 berskala VEI 5, dengan tinggi kolom erupsi setinggi 20 km di atas puncak G. Agung dan disertai oleh aliran piroklastik yang menghancurkan beberapa desa di sekitar.

VEI merupakan skala pengukuran relatif letusan gunung.  Gunung Agung dengan VEI 5 dideskripsikan mengalami erupsi sangat besar. Saat itu letusan menewaskan sekitar ribuan jiwa, yang sebagian terkena aliran lahar.

Aktivitas Gunung Agung selesai pada tanggal 27 Januari 1964 dan menyisakan kawah dengan diameter 500 meter dan kedalaman hingga  200 meter.

Erupsi Gunung Agung pada 12 Maret 1963. Foto: K Kusumadinata (Volcanological Survey of Indonesia)

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan berdasarkan data sejarah letusan Gunung Agung pada 1963 silam, Gunung ini meletus selama setahun yakni mulai 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964.

Sutopo menjelaskan letusan Gunung Agung pada saat itu letusan yang eksklusif yang mana kolom ketinggiannya pada saat itu 20 KM. Bahkan muntahan material Gunung Agung ikut mempengaruhi tempratur suhu bumi.

“Letusannya adalah letusan yang eksklusif yang mana kolom ketinggiannya pada saat itu 20 km, kemudian memuntahkan apa material dan kemudian menyebar ke lapisan atmosfer yang mana temperatur bumi menurun 0,4 C,” kata Sutopo dalam jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Senin (25/9/2017).

Sutopo menambahkan letusan saat itu sangat besar dan mematikan. Adapun dampak letusan Gunung Agung jika berdasarkan data terbaru mengutip pada buletin vulkanologi pada jurnal science menyebutkan bahwa sebanyak 1.549 orang meninggal dunia, 1.700 rumah hancur, 225.000 orang kehilangan mata pencaharian dan 100,000 orang mengungsi.

Selain itu, dampak susulan letusan Gunung Agung ketika musim penghujan turun yaitu berupa banjir lahar hujan yang menghancurkan rumah pada sisi selatan Gunung Agung yang menyebabkan 200 orang meninggal dunia dan 316.518 ton produksi pertanian hancur.

Namun demikian, kata Sutopo, saat ini pihaknya tak memiliki data panjang erupsi Gunung Agung sehingga tak bisa diklasifikasikan periode pendek, menengah dan panjang terkait erupsi Gunung Agung.

“Kalau Gunung Merapi itu kita tahu periode pendeknya sampai 2 dan 7 tahun,” papar Sutopo. (asr)