Erabaru.net. Guru Wu berjalan cepat ke kelas, para siswa segera duduk di bangkunya masing-masing, dengan suara lantang para murid berkata: ” Selamat pagi Guru Wu!” Dia melirik murid-muridnya dan tersenyum, mengangguk kepada para siswa untuk duduk.

Guru Wu naik ke podium, dia perlahan mengeluarkan kapur tulis, lalu menulis di papan tulis “pembagian” simbol, dan berkata pada para siswa : “Saya telah mengajarkan Anda berkali-kali sebelumnya, hari ini kita akan belajar tentang pembagian.

“Tidak sulit sama sekali.”

Dia menatap kelas dengan cara yang penuh kasih, dan menanggapinya dengan tatapan naif dan penasaran.

Ruang kelas segera menjadi berisik, banyak siswa berebutan -buru menjawab pertanyaan, beberapa siswa tidak sabar mengatakan dengan suara keras: “setengah dari 8 adalah 4!

Sang guru tersenyum menyetujui, dan tiba-tiba pandangan matanya jatuh di bagian kanan kelas.

Dibarisan belakang sisi kanan kelas duduk seorang siswa tinggi dan kurus. Dia menundukkan kepalanya dengan tenang dan sangat kontras dengan murid lainnya.

Dia adalah murid baru, namanya Xiao Nan. Dia baru saja 1 minggu masuk sekolah dan belum terbiasa masuk ke lingkungan baru.

Guru Wu dengan pengalamannya selama bertahun-tahun mengajar, intuisinya mengatakan bahwa dia adalah seorang siswa berbakat, tapi sedikit pemalu dan introvert.

Dia berjalan perlahan ke dekat tempat duduknya dan bertanya kepadanya: ” Xiao Nan, tahukah Anda setengah dari 8 adalah berapa?

Dia masih malu menundukkan kepala ke bawah, dengan suara pelan dia menjawab: “Saya tidak mengerti mengapa setengah dari 8 adalah 4?

Segera terdengar tawa keras di kelas.

Beberapa siswi menyeringai, dan beberapa siswa berkata dengan suara keras, “begitu sederhana masih tidak tahu!”

Perkataan mereka sedikit tajam, guru Wu takut mereka akan menyakiti perasaan Xiao Nan. Wajah Xiao Nan telah memerah, kepala menunduk lebih rendah lagi.

Guru meletakkan jari telunjuk di mulut, menunjukkan siswa diminta diam.

“Lalu apa jawaban Anda? Anda bisa memberi tahu saya dan teman sekelas Anda?” Dengan lembut dia meminta Xiao Nan menjawab.

Xiao Nan berdiri dengan malu-malu, perlahan menuju papan tulis.

Dia melihat angka”8″ besar di papan tulis dan kemudian menutupi bagian atas dari angka”8″ dengan tangannya, dan kemudian berkata: “Setengah dari 8 adalah 0.”

Para siswa segera terdiam.

Dan kemudian dia meletakkan tangannya di sisi kiri dari angka 8, berkata: “8 setengah dari 8 juga bisa 3.”

Jawaban anak laki-laki itu tidak hanya membuat kelas hening, tapi juga semua orang tidak dapat membantahnya.

Dia berdiri di podium dengan cemas melihat gurunya, menunggu gurunya berbicara, jantung berdebar dengan kencang, tidak tahu apakah gurunya akan menerima penjelasannya.

Guru Wu perlahan-lahan berjalan ke podium, dengan lembut menepuk bahu Xiao Nan, lalu tersenyum dan berkata: “Jawabanmu hebat!

Hatinya sedikit tersentuh. Mengajar selama bertahun-tahun, tidak disangka hari ini siswa kelas dua ini memberinya pelajaran!

Wajah Xiao Nan sebenarnya sedikit cemas tiba-tiba berubah menjadi ceria, dia mendongak, para siswa mengekspos ekspresi iri.

Pada saat ini guru Wu dari sakunya mengeluarkan delapan kelereng, bertanya kepada Xiao Nan: “Berapa banyak kelereng di sini?”

Xiao Nan menghitung dan menjawab: “8 buah.”

Guru Wu membagi rata 8 kelereng menjadi dua bagian, bertanya: “Sekarang berapa buah di setiap sisi?”

Jawaban Xiao Nan : “4!”

“Sungguh pintar! Tetapi jika saya mengambil setengah dari kelereng, berarti saya akan mengambil setengah dari delapan kelereng, maka sekarang yang tersisa ada berapa buah?”

Wajah Xiao Nan berbinar dan nyaring menjawab: “4!”

Dia sudah mengerti kemudian kembali ke tempat duduknya, sambil berjalan dia mengatakan: “Rupaya setengah dari 8 juga bisa 4!”

Guru Wu melihat Xiao Nan sambil tersenyum.

Dia beruntung memiliki siswa semacam ini, dan dengan senang hati dia bisa mengilhami kebijaksanaannya dengan cara mendidik yang fleksibel.

Didalam hatinya percaya bahwa anak-anak ini akan tumbuh dewasa dan pintar di masa depan.(hui/yant)

Sumber: epochtimes

Share

Video Popular