Erabaru.net. Seorang wanita di Amerika Serikat ketika sedang menjalani operasi caesar, mengalami komplikasi dan masalah serius, jantungnya sempat berhenti selama 37 detik. Dan kemudian anaknya lahir dengan selamat, dia juga selamat, tapi meninggalkan trauma psikologis.

Untuk membantu memulihkan traumanya, dia manjalani terapis menggunakan metode hipnotis : saat sekarat dia tidak hanya melihat proses operasinya, dia bahkan sempat berkomunikasi dengan almarhum saudara laki-laki temannya. Pengalaman itu mengejutkan para dokter dan teman-temannya.

Pada tanggal 30 Mei 2013, Stephanie Arnold, seorang ibu dari Chicago berusia 41 tahun, mengalami komplikasi dan masalah serius ketika melahirkan anaknya (Jacob) jantungnya berhenti selama 37 detik.

Stephanie memeluk anaknya Yakob. (Courtesy of Stephanie Arnold)

Dr. Nicole Higgins, seorang dokter di Northwestern Memorial Hospital yang membantu Stephanie melakukan operasi caesar, mengatakan: “Dia menjelaskan kepada saya lokasi berdirinya para staf medis, misalnya, di mana saya berdiri, orang yang membantunya melakukan pemompaan dada. Dia juga menyebutkan bahwa situasi defibrilator pada saat itu mengalami masalah dan kami harus mengganti yang baru, dan dia menggambarkannya dengan sangat akurat.”

Stephanie akhirnya menulis sebuah buku berjudul “37 Seconds: Dive Revealed Heaven’s Help”.

Dalam video promosi tersebut, dokter kandungan, Dr. Julie Levitt, mengatakan bahwa pada saat itu jantung Stephanie telah berhenti, “Jika dia tidak berada dalam keadaan itu, tidak ada cara untuk mengetahui hal-hal ini.”

Dr. Julie Levitt, Ph.D.(screenshot)

Pengalaman yang luar biasa

Stephanie tidak hanya mengingat situasi di ruang operasi, tapi juga berkomunikasi dengan kehidupan di ruang lainnya – mungkin berkomunikasi dengan roh.

Misalnya, dia melihat seorang anak kecil yang terlihat seperti adik temannya. Dan Anak laki-laki itu berkata, “Beritahu kakakku, aku rindu ketika dia memintal rambutku.”

Setelah itu Stephanie memberi tahu temannya Rosalind, mungkin dia melihat saudara laki-lakinya yang telah meninggal.

Stephanie tidak tahu seperti apa adik laki-laki dari Rosalind, tetapi dia yakin itu adalah adik laki-lakinya.

Tapi saat dia mengulangi kata pria kecil tersebut, Rosalind “meletakkan telepon dan mulai menangis”.

Dia bertanya kepada Stephanie, “Bagaimana Anda bisa tahu? Saat masih kecil, saya memintal rambutnya setiap malam untuk membujuknya tidur.”

Dr. Levitt mengatakan bahwa Stephanie juga mengatakan kepadanya bahwa dia juga mendengar berulang kali ada yang mengatakan, “Ini tidak mungkin, itu tidak mungkin.”

“Saya memang mengatakan, tapi hanya di dalam hati saya.” Jawab Levitt.

Firasat persalinan akan berakibat fatal

Tidak hanya itu, Stephanie dalam fertilisasi in vitro 20 minggu kehamilan saat pemeriksaan ultrasound, mulai merasakan semacam perasaan buruk.

Saat itu dokter mengatakan kepadanya bahwa dia memiliki masalah plasenta. Setelah itu pikirannya dari waktu ke waktu akan muncul bayangan situasi pendarahan.

Beberapa minggu sebelum melahirkan, firasatnya semakin kuat: dia akan meninggal saat persalinan, dia yakin akan demikian.

Para dokter mengatakan bahwa pikirannya tersebut hanyalah kegelisahan para ibu sebelum melahirkan, namun masih ada seorang dokter yang percaya kepada kata-katanya, melakukan tindakan pencegahan konvensional.

Karena sudah melakukan persiapan sebelumnya, sehingga dapat menyelamatkan nyawa Stephanie.

Ketika melahirkan, dia mengalami emboli cairan amnion, komplikasi serius ini adalah cairan amnion, sel janin melalui plasenta masuk ke dalam darah ibu yang disebabkan oleh respons inflamasi, dapat menyebabkan gagal jantung dan paru-paru dan syok.

Rata-rata sekitar 40.000 ibu memiliki 1 yang emboli cairan amnion, jika terjadi angka kematian tujuh puluh persen.

Seperti yang dikatakan Stephanie: “Ini sama sekali tidak dapat diprediksi, tidak dapat dijaga, dalam banyak kasus berakibat fatal.” Untungnya, dia memiliki firasat.

Suami Stephanie adalah seorang ekonom yang mementingkan data, dalam hati enggan percaya bahwa pengalaman istrinya di balik ilmu empiris tidak cukup untuk menjelaskan faktor-faktornya.

Dia berjuang dengan Stephanie untuk menemukan jawabannya, dan akhirnya pasangan tersebut menyimpulkan bahwa pengalaman jiwa meninggalkan badan itu benar terjadi, jiwa tidak tergantung pada keberadaan otak.

Stephanie dan suaminya, anak perempuannya dan Jacobs yang baru lahir. (Courtesy of Stephanie Arnold)

Stephanie berbicara di sejumlah konferensi medis dan sekolah kedokteran (seperti Sekolah Kedokteran Pritzker Universitas Chicago) untuk menceritakan pengalamannya.

Para dokter mengatakan kepadanya bahwa mereka sangat menghormati dokter yang megoperasinya, dan kasusnya benar-benar menunjukkan bahwa saat ini ilmu kedokteran masih sangat terbatas.

Dokter: sains terbatas diluar dunia masih ada dunia lain

Dr. Elena Kamel dari Northwestern University School of Medicine mengatakan: “Ada hal yang tidak biasa terjadi pada hari itu, sesuatu yang melampaui kemampuan kita semua untuk mengerti.” ( screenshot)

Menurut laporan sebelumnya, banyak dokter dalam perawatan pasien sampai batas tertentu percaya pada intuisi mereka sendiri, ada banyak dokter yang bertemu dengan firasat pasien yang akurat.

Stephanie juga mengatakan kepada dokter, jangan abaikan diri sendiri dan firasat pasien, tapi juga untuk mengetahui bahwa pasien ketika kehilangan kesadaran masih bisa tahu apa yang terjadi disekitarnya.

Dia berkata dalam sebuah wawancara: “Jika Anda memiliki perasaan itu, katakan itu naluri atau intuisi ibu, tubuh Anda mendorong Anda – mungkin juga berasal dari beberapa kekuatan spiritual di sisi lain, Anda jangan ragu … jika saya bertindak sesuai dengan yang dikatakan semua orang, mungkin akan terjadi kesalahan, maka hari ini saya tidak akan ada di sini.”

Higgins berkata: “Sebagai dokter, kita percaya pada sains, kita belajar adalah untuk melihat kebenaran, dari awal, jika hal yang tidak mudah membuktikannya, kita akan meragukannya, tapi pengalaman ini memberi saya sebuah perasaan, mungkin ada hal lain yang (sains tidak mengenalinya).”

Stephanie beserta anggota keluarganya. (Courtesy of Stephanie Arnold)

“Segala sesuatu yang bergerak mungkin bukan hanya sains, ada kemungkinan ada faktor lain yang mempengaruhi apa yang kita lakukan setiap hari,” katanya.(hui/yant)

Sumber: epochtimes

Share

Video Popular