Erabaru.net. Waktu seperti air yang tidak pernah berhenti mengalir, dan tanpa kusadari, ayah-ibu pun sudah senja, rambut menjadi putih, wajah berkeriput, hanya cinta dan kasih sayangnya yang tidak pernah berubah.

Sejak aku masih kecil hingga aku Dewasa, Ibu telah meninggalkan terlalu banyak kenangan dan masa lalu yang terukir dalam hidupku.

Setelah tumbuh dewasa, ayah dan ibu tetap saja mencemaskan jodohku, masih ingat dalam benakku, ketika itu aku sedang sibuk bekerja, dan bertepatan dengan menjelang liburan saat itu, ayah tiba-tiba menelepon, aku pun kaget, karena biasanya ayah sangat jarang meneleponku.

Ilustrasi

Di ujung teleponnya, ayah bertanya : “Sudah libur ya? Atau masih harus lembur?”

“Libur tujuh hari,” sahutku seketika.

“Kalau begitu kamu pulang besok ya?” Kata ayah dengan penuh semangat.

Aku bisa merasakan kegembiraan ayah, dan aku merasa sedikit menyesal tadi bilang libur, kalau tahu begini, aku bilang lembur saja tadi.

Aku tahu ibu pasti kembali mengenalkan calon untukku, tapi sudah terlanjur bilang, aku benar-benar tidak mau pulang sebenarnya.

Saat sedang memikirkan bagaimana cara menghadapinya, ayah yang sepertinya khawatir aku tidak pulang, tiba-tiba dengan cemas berkata : “Kamu harus pulang besok, ibumu terjatuh, kakinya terkilir.”

Lagi-lagi alasan klasik, sebelumnya entah berapa kali sudah membohongiku pulang dengan alasan yang dibuat-buat, aku benar-benar tidak berdaya, terpaksa‘Ngh..ngh’…di ujung telepon.

Malamnya, makin dipikir hatiku semakin gundah, dan saat mandi tadi tiba-tiba mendapat satu ide, sebenarnya bukan ide juga, hanya saja alasan klasik ayah itu aku atasi dengan tipu daya, sehabis mandi aku pun langsung menelepon ayah.

“Ayah, tadi waktu mandi aku jatuh tergelincir, sekarang kakiku terkilir dan tidak bisa jalan, beberapa hari lagi nanti setelah agak baikan aku baru pulang, ya.” Kataku di telepon.

Tujuanku hanya ingin mengulur waktu, karena beberapa hari lagi liburan usai dan saatnya masuk kerja. Akhirnya ayah-ibu pun tak bisa berkata-apa-apa mendengar alasanku.

Ilustrasi

Tampaknya ayahku sangat khawatir mendengar aku jatuh terkilir, berpesan agar aku hati-hati, kemudian mulai cerewet, menyuruhku gosok dengan balsem-lah itulah-inilah, bla….bla….,kalau parah segera periksa ke dokter. Katanya cemas di ujung telepon.

Ayah benar-benar cemas, setelah cerewet beberapa waktu baru menutup telepon, dan hatiku pun seketika menjadi lega setelah ayah menutup teleponnya.

Bukan main senangnya aku dengan tipu dayaku yang berhasil, kemudian aku mulai merencanakan besok jalan-jalan sejenak bersama rekan-rekan kerja, tapi tak disangka peristiwa yang terjadi pada keesokan hari.

“Sin Sin, ada yang mencarimu.” Saat masih tidur, tiba-tiba terdengar teriakan rekan kerjaku menyuruh turun ke bawah.

Aku mengusap-usap mataku yang masih mengantuk, kemudian turun ke bawah, dan tiba-tiba aku merasa kakiku rasanya sangat berat setiap kali melangkah seperti ada beban, dan tanpa sadar mataku jadi sembab.

Aku melihat ayah memapah ibu berjalan ke arahku, kaki ibu tampak dibalut dengan kain perban, berjalan menghampiriku selangkah demi selangkah dengan susah payah sambil bersandar pada tongkat.

Aku pun buru-buru berlari menghampirinya, dan aku tak menyangka kali ini kaki ibu benar-benar cedera.

Ibu langsung mengangkat tongkatnya mau memukulku begitu aku tiba di hadapanya, tapi ia turunkan lagi sebelum tongkatnya melayang ke tubuhku.

“Ayah-ibu, ada apa ke sini? Bukankah kaki ibu cedera ?” Tanyaku salah tingkah.

“Ibumu dengar kamu tergelincir dan keseleo, ia menjadi cemas, tidak bisa tidur sepanjang malam, dan bersikeras ingin melihat keadaanmu apakah serius, jadi, pagi-pagi sekali ayah menemani ibumu naik kereta ke sini,” kata sang ayah.

Ilustrasi

Air mataku seketika menetes mendengar penjelasan ayah, kaki ibu yang sakit pasti sangat menyiksa jauh-jauh naik kereta ke sini hanya untuk melihat keadaanku.

Kemudian berkata dengan kesal : “Katanya kakimu keseleo ? Tapi kok bisa melompat-lompat?”

Tiba-tiba aku terdiam, dan dengan sedih bertanya, “Bu, ibu baik-baik saja kan?”

Sebelum ibu menjawab, aku mendongak memandangi ibu, wajahnya terlihat kusam dan pucat, jejak usia yang membekas di wajahnya membuatku tak tahan menahan air mata.

“Bu, ayo kita pulang, sekarang juga kita pulang … …” kataku spontan, dan saat itu aku melihat ibu tersenyum, dan senyumnya itu selamanya selalu begitu damai dan penuh kasih sayang.

Ini hanya cerita tentang peristiwa yang terjadi antara aku dan ibu, di masa-masa pertumbuhanku, segala sesuatu yang ibu lakukan selalu membuatku tersentuh, membuatku menangis haru, dan sekarang ibu sudah tua, tapi masih saja selalu memikirkan masa depanku.

Ibu mengorbankan segalanya tanpa pamrih untukku. Kini tiba saatnya bagiku berbakti kepadanya, tapi karena bekerja dan tinggal jauh dari ibu, sehingga tidak bisa selalu menemaninya, hatiku sedih dan merasa bersalah, balasan apa yang bisa kupersembahkan untukmu… ayah-ibu tercinta.(jhn/yant)

Sumber: goodtimes.my

Share

Video Popular