Oleh Gu Qing-er, Koresponden Khusus Epoch Times

Seiring dengan semakin dekatnya masa transisi kepemimpinan Tiongkok yang dilakukan setiap lima tahun sekali, rezim ini sekarang sedang mempersiapkan diri dengan meningkatkan keamanan, penangkapan, juga penyensoran internet.

Kongres nasional ke-19 Tiongkok akan menentukan para elit penguasa negara Tiongkok untuk putaran selanjutnya. Pihak berwenang sangat peka terhadap apapun yang dapat menyebabkan kontroversi, ataupun dapat menjadi ancaman terhadap jalannya acara tersebut, mereka berusaha keras agar acara yang akan diadakan tanggal 18 Oktober nanti, berjalan dengan lancar.

Media Tiongkok melaporkan bahwa hari Selasa ini, Sekretaris Partai Beijing Cai Qi, mengadakan pertemuan dengan pejabat-pejabat partai daerah setempat, untuk mendapatkan komitmen mereka, supaya “menjaga keamanan dan stabilitas” di hari-hari menjelang kongres.

Pada hari Rabu, sistem kereta bawah tanah di Kota Guangzhou, yang terletak di ujung Selatan negara tersebut, mengumumkan bahwa mulai bulan Oktober, semua stasiun kereta bawah tanah akan meminta semua penumpang untuk melewati detektor logam. Di dekat Shenzhen, polisi melakukan latihan untuk menghadapi  keadaan darurat di pusat perbelanjaan setempat.

Rezim ini ingin mencegah kemungkinan demonstrasi ataupun ungkapan oposisi. Voice of America melaporkan bahwa pengacara hak asasi manusia, Di Yanmin, telah dibawa ke sebuah kantor polisi setempat di Beijing pada hari Senin, dan ditahan selama 24 jam. Rumahnya juga digeledah, dan komputer desktop serta laptopnya hilang sejak saat itu.

Aktivis demokrasi Guangzhou, Xu Lin, yang sedang mengunjungi ayahnya yang sakit di Provinsi Hunan, dibawa oleh pihak berwenang setempat pada hari Selasa. Rumahnya di Guangzhou digeledah dan barang-barang elektronik serta buku-bukunya disita, menurut situs Weiquanwang, yang memberi kabar terbaru tentang para pembangkang dan aktivis hak asasi manusia di Tiongkok.

Temannya, seorang aktivis Guangzhou, Liu Sifang, juga dibawa oleh pihak berwenang di Kota Yichun, Provinsi Jiangxi. Dalam beberapa tahun terakhir, Liu dan Xu telah berkolaborasi dalam menulis lagu tentang memperjuangkan hak asasi manusia di Tiongkok.

Tindakan keras lainnya ditujukan untuk para pengguna internet.

Sebuah smartphone yang menampilkan logo platform microblogging Tiongkok, Weibo, diambil pada 19 Maret 2014. (Peter Parks / AFP / Getty Images)

Pada hari Selasa, Weibo, suatu platform yang setara dengan Twitter di Tiongkok, mengumumkan melalui sebuah postingan online bahwa perusahaan tersebut sedang merekrut 1.000 orang untuk menjadi “agen pemantau” – penyensor online yang efektif – yang akan “memperkuat pemantauan terhadap netizen, membersihkan lingkungan sosial Weibo, dan secara efektif menghukum konten-konten pornografi, ilegal, serta konten berbahaya lainnya.”

Mereka yang melaporkan 200 postingan akan mendapatkan 200 yuan (US $ 30) sebagai bayaran setiap bulannya. 10 agen dengan pelaporan postingan paling banyak akan menerima iPhone, laptop, dan ponsel buatan dalam negeri sebagai hadiah.

Perjalanan luar negeri juga dibatasi. Orang-orang Tibet yang bekerja di bidang agen perjalanan, diberitahu oleh pihak berwenang, bahwa orang asing tidak akan diizinkan untuk mengunjungi wilayah tersebut dari tanggal 18 sampai 28 Oktober, Radio Free Asia melaporkan. Larangan tersebut juga berlaku bagi orang Tibet yang tinggal di wilayah Amdo di Provinsi Qinghai. Dalam beberapa tahun terakhir, protes Tibet terhadap peraturan Tiongkok telah mengakibatkan penindasan yang sangat parah.

Laporan tambahan oleh Yang Yifan dan Annie Wu. Terjemahan oleh Annie Wu. (Jul)

Sumber: theepochtimes

Share

Video Popular