Oleh Jasper Fakkert, Epoch Times

Sebuah ancaman oleh Presiden Donald Trump untuk menggunakan kekuatan yang luar biasa terhadap Korea Utara, jika Amerika Serikat harus membela diri ataupun membela sekutu-sekutunya, telah mengguncang kediktatoran komunis negara tersebut.

Selama beberapa dekade, Korea Utara selalu berhasil mencapai kesepakatan dengan presiden Amerika Serikat hanya untuk kemudian melanggarnya. Hasilnya adalah keberhasilan pengembangan senjata nuklir dan rudal, yang berhasil dilakukan rezim Korea Utara.

Dengan Trump duduk di kantor oval, kepemimpinan komunis Korea Utara telah mendapat reaksi keras dan tegas dari Amerika, media negara Korea Utara, telah menyampaikan ketidakpercayaannya terhadap ancaman Trump untuk menghancurkan negara tersebut, dan berspekulasi apakah presiden itu hanya “menggertak.”

Pemimpin Korea Utara telah mengalami kesulitan untuk memahami Trump sampai-sampai, menurut The Washington Post, para pejabatnya telah meminta kontak dengan para analis yang berhubungan dengan Partai Republik untuk mendapatkan saran. “Mereka tidak bisa memahaminya,” kata Washington Post, mengutip ucapan seseorang yang dekat dengan pihak analis.

Dalam foto yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Korea Selatan ini, tampak sistem rudal Korea Selatan sedang menembakkan sebuah rudal Hyunmu-2 ke Laut Timur selama latihan yang bertujuan untuk melawan rudal Korea Utara, pada 15 September 2017, di pantai timur Korea Selatan. (Kementerian Pertahanan Korea Selatan via Getty Images)

Trump telah mengambil pendekatan yang tidak masuk akal ke Korea Utara, menuntut dilakukannya denuklirisasi oleh rezim tersebut, sambil mempertimbangkan opsi diplomatik dan pada saat yang sama, juga menyiapkan opsi militer.

Berbicara di Majelis Umum PBB pada 19 September, Trump meminta “semua negara supaya bekerja sama, untuk mengisolasi rezim Kim sampai rezim itu menghentikan perilaku bermusuhannya.”

“Sudah waktunya bagi Korea Utara untuk menyadari, bahwa denuklirisasi adalah satu-satunya masa depan yang bisa diterima,” kata Trump.

Presiden Trump juga mengatakan bahwa “Rocket Man sedang dalam misi bunuh diri,” mengacu pada diktator Korea Utara Kim Jong Un, dan bahwa “Amerika Serikat memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar, namun jika dipaksa untuk mempertahankan diri atau mempertahankan sekutunya, kami tidak akan punya pilihan selain menghancurkan Korea Utara secara total.”

Media Korea Utara bereaksi dengan merasa terguncang atas pernyataan tersebut. Dengan beberapa artikel yang diterbitkan oleh media pemerintah, yang mengatakan bahwa mereka belum pernah menerima ancaman semacam itu sebelumnya dari para pemimpin Amerika Serikat periode-periode sebelumnya.

“Kita belum pernah mendengar hal semacam ini dari para pendahulunya,” kata satu artikel mengacu pada pernyataan Trump.

Artikel lain menyebut Trump sebagai “pembohong” dan “tidak kompeten,” mengatakan bahwa “bumi tidak akan pernah ada tanpa DPRK/ Democratic People’s Republic of Korea (Republik Rakyat Demokratik Korea).” Satu artikel menyebutkan bahwa seorang petani Korea Utara meminta supaya Trump dipenggal.

Sejak Korea Utara mulai mengembangkan senjata nuklir, sampai sekarang presiden Amerika Serikat belum pernah berhasil menghentikannya.

Pada tahun 1994, Presiden Bill Clinton mencapai kesepakatan dengan rezim komunis tertutup itu, mengijinkan mereka untuk memiliki dua reaktor nuklir air ringan, yang dibiayai oleh beberapa negara, serta 500.000 ton minyak berat setiap tahunnya, sebagai imbalan untuk Korea Utara yang setuju untuk menghentikan program nuklirnya.

Akhirnya Korea Utara melanggar kesepakatan tersebut dan berhasil melakukan uji coba nuklir pertamanya di tahun 2006. Upaya serupa oleh George W. Bush juga gagal mencegah rezim tertutup itu, untuk mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik.

Trump telah menjadi pengkritik keras atas respon Amerika Serikat ke Korea Utara selama bertahun-tahun.

“Presiden kita harus sangat berhati-hati terhadap pemuda eksentrik berusia 28 tahun di Korea Utara itu. Pada titik tertentu kita mungkin harus memberikan ancaman yang sangat sulit,” cuit Trump pada tanggal 6 April 2013.

Sejak menjadi presiden, Trump telah mengkritik pemerintahan sebelumnya karena kegagalan mereka dalam mencegah Korut untuk mengembangkan senjata nuklir.

“Situasi Korea yang seharusnya ditangani 25 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu, 15 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu, dan 5 tahun yang lalu, dan saat itu bisa ditangani dengan lebih mudah,” kata Trump pada sebuah konferensi pers pada 26 September.

Lebih Dekat dengan Bom

Media pemerintah Korea Utara mengatakan pada 26 September bahwa “mustahil untuk menunda ataupun menghentikan kemajuan saat telah dekat dengan kemenangannya,” merujuk pada program nuklirnya.

Sebuah pesawat pembom strategis jarak jauh B-1B dalam sebuah file foto. Pada bulan Juli tahun ini, Amerika telah menerbangkan dua pesawat pembom melintasi semenanjung Korea Utara dalam sebuah demonstrasi kekuatan. (Courtesy of USAF / Getty Images)

Media Korea Utara juga mengancam Amerika Serikat lagi, dengan mengatakan “wilayah daratan Amerika Serikat dan pangkalan militernya di teater operasional Pasifik, berada dalam jangkauan tembak [rudal Korea Utara] mereka.”

Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat, James Mattis mengatakan pada awal bulan ini bahwa, Amerika Serikat memiliki beragam pilihan militer terhadap Korea Utara, dan memiliki kemampuan untuk menghancurkan negara tersebut sepenuhnya, jika diperlukan.

Duta Besar Amerika untuk PBB, Nikki Haley mengatakan bahwa dia akan terus berusaha mencari solusi diplomatik namun “Jenderal Mattis akan mengurusnya “kalau solusi itu tidak berhasil. (Jul)

Sumber: theepochtimes

Share

Video Popular