Menyusuri Tepat 52 Tahun Silam Peristiwa G30S/PKI di Rumah Saksi Bisu Jenderal Besar AH Nasution, Kisah Pilu Gadis Cilik Ade Irma Suryani

165
Diaoroma Kapten CZI Pierre Tendean diculik dan dibawa ke Lubang Buaya oleh pasukan Tjakrabirawa dengan todongan senjata api (Foto ; Asari/Ebnet)

Erabaru.net. Ratusan warga berbondong-bondong bahkan ada yang membawa rombongan untuk melihat secara langsung tempat saksi bisu di Jalan Teuku Umar  Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/9/2017) bertepatan peristiwa G30September/Partai Komunis Indonesia pada 1965 silam.

Pantauan Erabaru di lokasi, para pengunjung terlihat membludak diantara mereka terdiri rombongan mahasiswa, siswa dan warga beserta keluarga mereka.

Bahkan separuh Jalan Teuku Umar menjadi lokasi warga untuk memarkirkan kenderaan roda empat dan dua mereka.

Lokasi parkir yang dimiliki museum itu tak mencukupi untuk menampung kenderaan masyarakat hingga harus menumpang trotoar bangunan sekitar termasuk bahu jalan.

Rombongan warga berserta keluarga mereka datang silih berganti hingga suasana museum itu dulunya adalah rumah Jenderal Abdul Haris Nasution membludak dijejali dengan kehadiran masyarakat tak seperti pada hari biasanya.

Tepatnya di pintu masuk warga sudah mengantri untuk masuk sembari mengisi buku tamu setelah dipersilakan pemandu museum.

“Di sini tempat saksi bisu peristiwa G30S/PKI menjadi hari kelabu bagi kita, salah satu targetnya bapak kita Jenderal besar Nasution namun beliau bisa menyelmatkan diri melompat tembok, namun demikian Ade Irma Suryani gugur karena ditembak oleh Tjakrabirawa,” kata Kapten Surono kepada para pengunjung.

Di Bagian rumah ada patung diorama Jenderal besar Abdul Haris Nasution dengan posisi sedang menulis lengkap dengan kursi dan meja seperti yang ia gunakan masa hidupnya. Di sini pengunjung juga bisa melihat foto-foto Jenderal besar Abdul Haris Nasution saat masanya dalam sejarah.

Ketika selanjutnya menjejaki beberapa langkah sudah terlihat gambaran mengisyaratkan suasana mencekam tragedi G30S/PKI dengan diorama pasukan Tjakrabirawa sambil memegang senjata api bersiap untuk memuntahkan pelurunya.

Di sinilah kemudian terdapat bagian ruang tengah museum dulunya adalah di kamar ini Jenderal besar Abdul Haris Nasution dan sosok istri AH Nasution, Johanna Sunarti sembari menggendong Ade Irma yang penuh bercak darah.

“Serta merta pasukan pasukan Tjakrabirawa menembak ke arah ibu Johanna sehingga menembak sela-sela jarinya hingga tembus ke punggun Ade Irma dan digendong ibu Nasution dalam kondisi tertembak,” jelas Surono.

“Selanjutnya ibu Nasution menghantarkan pak Nas dalam kondisi atas tembok, pada saat itu pak Nas melihat putrinya dalam kondisi luka parah, dioromanya pada saat pak Nas mau melarikan diri dalam kondisi dilematis,” jelas Surono sambil menunjukkan tembok rumah Dubes Irak di Jakarta.

Setelah ibu Nasution menuju ruangan telepon yang terletak tak jauh dari ruangan itu, namun ternyata pada saat itu gerombolan pasukan Tjakrabirawa sudah siaga dengan todongan senjata api.

Pada ruangan ini bisa dilihat juga suasana diorama istri AH Nasution, Johanna Sunarti yang menggendong Ade Irma ketika berhadapan dengan diorama pasukan Tjakrabirawa.

Pada sebuah ruangan di sebelah kiri museum aksi mencekam lainnya bisa dilihat oleh para pengunjung yakni ruangan ajudan AH Nasution, Kapten CZI Pierre Tendean diculik dan dibawa ke Lubang Buaya oleh pasukan Tjakrabirawa dengan todongan senjata api.

Kapten CZI Pierre Tendean diculik dan dibawa ke Lubang Buaya oleh pasukan Tjakrabirawa dengan todongan senjata api.

Seorang pengunjung dan ternyata dulunya sebagai pelayan di rumah itu turut mengenang suasana pada saat itu. “Saya melayani Menkopolhukam/Kasad, ini beliau selamat karena kamarnya dua pintu dan terhalang tembok, saya saat itu ditempatkan di ujung jalan ini no 5,” kenang Nasikin sambil membawa fotonya dirinya ketika bersama dengan keluarga besar Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.

Menurut dia, bertepatan pada tanggal 1 Oktober mendengar ada temannya di Teuku Umar ditembak dan ada yang dibawa. Selanjutnya ketika dia melihat suasana rumah merasa kaget suasana pada saat itu.

Hingga akhirnya dia pada 2 Oktober dibawa ke tempat persembunyian Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Pada saat itu dia menuturkan merasa bahagia setelah bisa bertemu kembali dengan pak Nas. (asr)