Erabaru.net. Setelah regu penyelamat berhasil menyelamatkan gajah berusia 70 tahun dari industri gajah yang menyiksa.

Mereka memberinya kebebasan yang pantas didapatkannya. Beberapa orang percaya bahwa dia tidak layak “membuang-buang” waktu dan tenaga karena usianya yang mungkin, tak lama lagi di dunia.

Pada 30 Agustus, seekor gajah tua bernama Mae Mor meninggal dalam perjalanannya di Pusat Perlindungan Gajah Burm & Emily (BEES) di Chiang Mai, Thailand, beberapa bulan setelah dia menerima kebebasan dari cengkeraman industri gajah yang menyiksanya.

Gajah berusia 70 tahun itu berasal dari kamp trekking gajah, di mana ia sering mengalami penganiayaan, dan kebebasannya dibatasi dengan gelang berduri.

Dalam sebuah postingan yang dibuat oleh Emily McWilliam, salah satu pendiri dan pengelola pusat perlindungan gajah, dia menulis: “Ada beberapa orang yang memberikan komentar bahwa kita menghabiskan waktu dan energi kita, bahkan membuat saran sebaiknya kita membantu gajah yang lebih muda, karena mereka dalam kondisi sehat sehingga pasti bisa hidup lebih lama. ”

“Kami tahu kami harus membantunya, kami tidak bisa membiarkannya binasa di lapangan panas yang terik, mengalami luka-luka, tidak diberi makan makanan yang sesuai dan dibiarkan menghabiskan malam dengan rasa sakit, sendirian,” tambah McWilliam.

Setelah Mae Mor diselamatkan dan dibebaskan, tim penyelamat melihat bahwa “dia lemah dan kesakitan” dan “tidak tahu siapa kami dan bagaimana kehidupan barunya.”

“Karena ia sudah terbiasa disiksa dan hidup dalam kurungan kandang, ia terlalu takut untuk mengeksplorasi lingkungan baru.”

“Namun setelah sekitar 3 minggu, dia mulai membangun kepercayaan terhadap lingkungan barunya dan segera berjalan-jalan di hutan dan menjelajahi ladang rumput,” tulis McWilliam.

“Dia menikmati menghabiskan hari-harinya dengan mandi lumpur dan melakukan semua hal yang biasa dilakukan gajah.”

Tepat ketika Mae Mor mulai menikmati kebebasannya, kondisi kesehatannya terus memburuk.

“Mae Mor meletakkan diri untuk beristirahat pada dini hari pada tanggal 30 Agustus 2017. Dia memejamkan mata saat dia terbaring di tempat tidur empuk di kandang malamnya, dia tertidur lelap. Namun mereka tak menyangka bahwa ia akan tertidur selamanya,” tulis McWilliam.

“Kami bisa memastikan Mae Mor menderita penyumbatan esofagus di antara sejumlah komplikasi kesehatan lainnya,” tambahnya.

Tim penyelamatnya memberinya salam perpisahan.

Berbicara kepada The Dodo , McWilliam berkata, “Saya membutuhkan beberapa hari untuk menyesuaikan diri dengan fakta bahwa saya tidak akan bertemu dengannya setiap hari.”

“Sangat sulit menemukan kata-kata untuk berbagi dengan dunia bahwa dia telah pergi meninggalkan kita. Kami bersyukur diberi kesempatan untuk memiliki waktu yang kami dapatkan dengan dia.”

(intan/asr)

Kredit foto: Facebook | BEES Elephants .

Share

Video Popular