Erabaru.net. Mereka seperti anak-anak dalam novelis Inggris, Charles Dickens, akan tetapi mereka tinggal di era Tiongkok masa kini.

Dikarenakan adanya prasangka sosial, sehingga menyebabkan anak-anak dari pelaku kejahatan yang menjalani hukuman, sering kali dijauhi oleh keluarga besar mereka sendiri, dan menjadi belas kasihan negara.

Ribuan anak-anak yang diremehkan dan dirampas hidupnya ini, telah menemukan tempat berlindung di Sun Valley, sebuah panti asuhan komunal yang didirikan oleh Nenek Zheng, mantan penjaga penjara yang beralih menjadi pekerja sosial.

Kita akan melihat kehidupan di Sun Valley melalui kaca mata beberapa anak yang baru tiba dan yang tinggal lama di panti tersebut, yang direkam dalam sebuah film dokumenter Waiting for the Sun (Menunggu Matahari) hasil besutan sutradara kelahiran Denmark, Kaspar Astrup Schröder, yang diputar pada Festival Film AFI Docs 2017.

Ayah dari Zhang bersaudara (anak perempuan kembar dan seorang adik laki-laki) telah terbukti melakukan pembunuhan. Tidak dapat disangkal lagi timbul rasa penyesalannya, paling tidak sehubungan dengan anak-anaknya.

Semenjak ibu dari ketiga anaknya meninggalkan mereka sejak usia dini, maka sang ayah menjadi satu-satunya tumpuan hidup trio bersaudara ini. Sun Valley menjadi satu-satunya pilihan, yang akan menjaga mereka agar tetap saling memiliki.

Tiga anak laki-laki kembar itu berada pada nasib yang sama, namun usia mereka lebih muda. Dalam kasus mereka, sang ibu yang telah lama menjadi sasaran penganiayaan ayah mereka, akhirnya sudah tidak tahan menanggung penderitaan lebih lanjut dan membunuh suaminya.

Selain itu, ada juga beberapa kasus mirip Burning Bed (kasus yang terjadi di Amerika, pada tahun 1984 kisahnya diangkat ke layar lebar, dibintangi oleh aktris Hollywood ternama Farrah Fawcett) lainnya yang mewakili kasus di Sun Valley.

Namun, kasus yang paling menyayat hati adalah Strawberrry yang masih berusia 5 atau 6 tahun, ia ditemukan oleh polisi saat mereka menangkap sindikat perdagangan manusia yang tengah berusaha menjualnya.

Film ini melampaui era Dickensian. Tak satu pun dari anak-anak ini layak mendapatkan nasib mereka, namun mereka menanggung beban dosa orangtuanya. Tentu saja, penderitaan mereka bercampur dengan rasa bersalah dan pengabaian yang tak terelakkan.

Memang, Nenek Zheng dan staf seniornya tampaknya berada di sisi malaikat, tapi kita masih menyaksikan intimidasi yang cukup banyak terjadi di Sun Valley, juga beberapa pelecehan mengejutkan yang dilakukan oleh para karyawan yuniornya.

Terus terang, film Waiting for the Sun bisa menjadi kritik paling buruk terhadap sikap sosial Tiongkok maupun pemerintah komunisnya, yang pernah memfilmkannya.

Sejauh yang dapat dilihat oleh penonton, negara ini hampir tidak memiliki jaring pengaman dan memiliki lebih sedikit belas kasih untuk anak-anak yang paling rentan.

Setiap klaim solidaritas dan kesetaraan sistem hukum dan kesejahteraan, mungkin tampak lemah dalam menghadapi surat dakwaan sutradara Kaspar.

Dengan bijak dia menjaga dirinya agar benar-benar berada diluar gambar, memilih untuk setia merekam kenyataan yang ada di sekitar penduduk Sun Valley (Lembah Matahari), tidak dipilah dan tidak disaring.

Hasilnya memukau, drama manusia yang menggoncangkan jiwa. Ini adalah film yang akan mengejutkan Anda, tapi itu juga membuat Anda merasa sangat tajam.

Menjadi salah satu film dokumenter paling emosional tahun ini, Waiting for the Sun sangat direkomendasikan, dan sebagai bagian dari Dokumen AFI tahun ini di DC / Silver Spring. (ajg/yant)

Sumber: theepochtimes

Share

Video Popular