Erabaru.net. Sebelum 80 tahun, dia sama sekali tidak dikenal dan hidup di pedesaan yang tenang. Setelah berusia 80 tahun, dia mendadak menjadi pelukis rakyat yang tersohor.

Dia memandang hobi melukis sebagai sesuatu yang dia suka untuk dilakukan, apalagi bisa menghasilkan uang ekstra.

Dia tidak bisa mengerti mengapa orang-orang rela menghabiskan uang yang banyak hanya untuk membeli lukisannya.

Lukisan perdananya terjual seharga 5 dollar AS, kelak dapat dijual dengan harga antara 8.000 sampai 10.000 dollar AS. Dia adalah “Grandma Moses”, sang ibu rumah tangga Amerika Serikat pada abad ke-20 lalu.

Lukisan Grandma Moses

Tema lukisan Grandma Moses diambil dari kehidupan kampung halamannya, meskipun temanya sangat biasa, tetapi menyiratkan daya tarik yang penuh pesona dan daya kejut.

Dia tidak menggunakan penyangga untuk melukis, tetapi sebagian besar menggunakan meja dapurnya dalam berkarya, itulah studionya.

Sejarawan seni Justin menilai lukisan Grandma Moses sebagai berikut: “Lukisannya menjadi sukses karena dia memiliki kemampuan untuk ‘mengekstrak tema lukisan dari kehidupan sehari-hari yang tampaknya tidak bernilai’, contohnya seperti: pembuatan saus apel, sabun, sirup maple, mengupas jagung dan membuat lilin, juga suasana perayaan di hari Natal, Thanksgiving dan Halloween, serta adegan pasar pedesaan, berkat lukisannya, adegan-adegan seperti itu telah terdokumentasikan.”

Inilah “kegilaan akan seni (Passion of Art)” dari Ilmu Estetika Perempuan yang didefi nisikan oleh seniwati Lucy Lippard pada 1978.

Memengaruhi sastrawan besar Jepang, Junichi Watanabe

Pada 2001, museum Washington mengadakan pameran lukisan “Grandma Moses di Abad ke-21”, pameran yang menampilkan 87 lukisan klasik dan koleksi peninggalan Grandma Moses di dalam dan di luar negeri, telah sekali lagi menimbulkan kehebohan.

Diantaranya terdapat kartu pos yang dikirim kepada seorang pemuda Jepang, yang menarik perhatian luar biasa.

Di kartu pos ini ada sebuah lukisan gudang dan kata-kata mutiara hasil karyanya sendiri: “Lakukan apa yang kau sukai (passion), Tuhan akan dengan senang hati membantumu membuka pintu sukses, bahkan jika dirimu kini telah berusia 80 tahun.”

Nama pemuda Jepang itu adalah Waki Agaru, mulanya adalah seorang dokter bedah. Dia mencintai sastra, tetapi kebingungan apakah akan melepaskan pekerjaannya yang telah mapan itu, dan berubah haluan menjadi seorang penulis yang menjadi passion-nya.

Jadi, ketika berusia 28 tahun, ia telah menulis surat kepada Grandma Moses yang sudah lama ia kagumi, berharap untuk mendapatkan nasihatnya.

Nasehat Moses memberikan inspirasi besar baginya, sehingga seni telah menjadi prestasi hidupnya yang luar biasa.

Dialah penulis Jepang terkenal di dunia yakni Junichi Watanabe, yang karya-karyanya termasuk “Taman yang hilang”, “Cahaya dan bayangan”, “Matahari terbenam yang menjauh”, dan 50 novel lainnya.

Filsafat hidup Grandma Moses

Dalam sebuah surat kepada anaknya dalam pidato di hari ulang tahunnya ke – 100, Grandma Moses menulis:

“Hidup manusia, dapat menemukan passion mereka sendiri adalah suatu keberuntungan. Orang yang memiliki passion-nya sendiri, barulah dapat hidup dengan menarik, barulah dapat menjadi orang yang dapat menikmati.

“Ketika kamu dengan seluruh jiwa dalam mengerjakan sesuatu, tidak memperhitungkan keuntungan dan balas jasa, di saat bisa melebur dalam rasa dan sukacita berprestasi, itulah panen dan penghargaan terbesar.”

Kehidupan Nenek Moses

Moses (1860-1961), nama aslinya Anna Mary Robertson, lahir di Greenwich Village New York berasal dari sebuah keluarga petani biasa.

Ketika berusia 27 tahun, dia menikah dengan seorang petani dan melahirkan 10 anak, lima meninggal ketika masih bayi.

Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya melakukan pekerjaan rumah tangga di waktu luangnya, selain itu dia suka membordir.

Ketika berusia 76 tahun, karena penyakit arthritis (nyeri sendi)-nya kambuh, dia terpaksa menghentikan aktivitas bordir dan beralih ke lukisan.

Awalnya, dia secara asal-asalan memamerkan karya lukisannya pada pameran karya lokal, pada suatu kesempatan lukisannya memperoleh perhatian dari seorang kolektor, Louis I Caldor dari New York.

Dengan penuh semangat dia dipromosikan, lukisan Moses (aliran Naive) pun mulai memasuki dunia seni Amerika.

Pada 1940, ketika Moses berusia 80 tahun, dia mengadakan pameran pribadi di New York. Orang-orang terpesona oleh ketulusan dan kesederhanaannya.

Ciri khasnya yang membumi, pragmatis, dan rendah hati terpancar di karyakaryanya, lukisannya bernuansa aneka warna cerah, segar dan penuh sensasi alam jagad raya, telah menggemparkan dunia seni di seluruh AS, dia tiba-tiba menjadi sangat terkenal. Melalui wawancara dengan radio dan televisi, dia pun menjadi tokoh, berkat karakternya.

Pada 13 Desember 1961, Moses meninggal di Huchekus New York, ketika meninggal berusia 101 tahun.

Dalam 20 tahun karier melukisnya, dia menciptakan 1.600 karya, termasuk “Menjenguk Nenek di Seberang Sungai,” “Menangkap Kalkun di Thanksgiving day”, dan “Pesta Caramel di Taman Pohon Maple”, dan seterusnya. Film dokumenter tentang kehidupannya berhasil masuk finalis Academy Award pada 1952. Otobiografinya diadaptasi menjadi “dokudrama” di televisi AS.

Karyanya pernah dipamerkan di New York, Paris, dan London, tetapi juga menjadi koleksi di Museum Metropolitan dan koleksi Gedung Putih.

Majalah terkenal Time dan Life pernah menjadikannya sebagai tokoh pada cover majalah.

Setelah dia meninggal, departemen pos federal khusus membuat perangkonya untuk memperingati jasanya.

Presiden AS John F. Kennedy dalam kata obituari sambutannya menyebutnya sebagai “seniman yang paling dicintai warga Amerika“. (hui/yant)

Sumber: theepochtimes

Share

Video Popular