Erabaru.net. Berbicara tentang amal, mungkin akan terlintas dalam benak kita pada tokoh amal dunia yang terkenal : Warren Buffett dan Bill Gates.

Tapi tahukah Anda bahwa dalam kegiatan amal, dua dermawan super kaya yang terkenal ini memiliki kekaguman yang sama pada satu sosok ini dan memandangnya sebagai pahlawan dan guru dalam kegiatan amal, yang terus mengikuti langkahnya.

Ia adalah orang yang rendah hati, sengaja merahasiakan namanya untuk kegiatan amal, pada akhir tahun 2014 lalu, diam-diam ia telah menyumbang 45 miliar dolar AS.

Dan kakek yang berusia 86 tahun, dengan kekayaan ratusan miliar dolar AS ini, meski merupakan pendiri DFS group (Duty Free Service atau yang kerap dikenal dengan toko bebas pajak barang mewah), tapi ia tidak pernah memakai baju bermerek yang mahal, dan kesederhanaannya ini benar-benar mengejutkan.

Mengenakan pakaian seharga puluhan dolar AS, dan hanya memakai jam tangan Casio seharga $ 15 dolar sepanjang tahun.

Saat bertemu dengan Perdana Menteri Irlandia, dia mengenakan sepasang kacamata tua, kacamata yang dibelinya di toko kelontong.

Dia memiliki rumah mewah di London, Paris, New York Park Boulevard, tapi sekarang, tidak satu pun yang ditinggalinya. Ia dan istrinya tinggal di sebuah rumah kecil yang mereka sewa bersama di San Francisco.

Ia dan istrinya tidak punya mobil pribadi, mereka selalu memanfaatkan kendaraan umum ketika berwisata.

Anak-anaknya juga mendukung terkait sang ayahanda yang menyumbangkan dananya secara rahasia, “Hal ini membuat kita tidak berbeda dengan orang biasa.”

Dia adalah Chuck Feeney, seorang dermawan yang menyembunyikan namanya saat melakukan kegiatan amal selama beberapa tahun terakhir ini.

Dia selalu menjaga kerahasiaan sumbangannya karena tidak ingin menarik perhatian.

Chuck bukan berasal dari keluarga kaya, ayahnya adalah seorang pegawai asuransi, sementara ibunya adalah seorang perawat, tapi Chuck kecil memiliki otak bisnis yang mengagumkan.

Tumbuh besar dalam kondisi depresi berat mungkin berpengaruh terhadap gaya hidup hemat Chuck Feeney. Dengan moto hidup “Aku harus bekerja keras, bukan menjadi kaya,” .

Pendiri Duty Free Shoppers ini diam-diam telah menjadi milyarder, namun secara rahasia telah menyalurkan hampir seluruh kekayaannya melalui yayasan miliknya, Atlantic Philanthropies.

Selain menyumbangkan lebih dari 600 juta dolar AS kepada almamaternya, Cornell University, dia juga telah menyumbangkan milyaran untuk berbagai sekolah, penelitian, dan rumah sakit.

Pada tahun 1960, dua pemuda miskin mendirikan DFS-Duty Free Service (toko bebas pajak global), dan hanya dalam tempo empat tahun kemudian menyebar ke 27 negara di dunia.

Pesatnya perkembangan ekonomi pascaperang, kemakmuran industri pariwisata, banyak negara yang melonggarkan pembatasan perjalanan wisata, seperti pelancong Tiongkok saat ini, ketika itu, orang-orang Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara lain memiliki uang tunai yang cukup untuk berwisata.

Feeney memberikan filsafat ‘semangat hidup’yang menginspirasi Bill dan Melinda Gates untuk mendirikan yayasan amal serta Giving Pledge Warren Buffet, di mana beberapa orang terkaya di dunia telah berjanji untuk memberikan setengah dari kekayaan mereka selama hidupnya.

Sebagai pengguna setia transportasi publik, Feeney terbang di kelas ekonomi, membeli baju dari toko retail, dan tidak menghambur-hamburkan uang untuk sepatu.

“Kamu hanya mengenakan sepasang sepatu setiap kali,” cetusnya. Dia membesarkan anak-anaknya dengan cara yang sama, dan memastikan mereka mengambil pekerjaan musim panas serupa dengan remaja biasa lainnya.

Chuck berkata: ” Di Surga itu tidak ada bank. Setiap orang datang dengan telanjang dan meninggal dengan tangan kosong. Tidak ada harta apa pun yang bisa dibawa ke Surga nantinya!”

“Orang terbiasa berjuang keras mencari uang, dan menjadi kaya itu sangat menggoda bagi sebagian besar orang. Saya bukannya ingin memberi tahu apa yang harus dilakukan orang-orang, saya hanya percaya bahwa jika orang-orang dapat menyumbangkan untuk kesejahteraan masyarakat, mereka akan mendapatkan kepuasan yang besar dari kegiatan amal tersebut. ”

Dalam sebuah wawancara pers, Buffett dan Gates juga mengakui bahwa mereka akan menjadikan Chuck sebagai contoh dan tauladannya.

Dia tertawa dan berkata: Jika uangnya tidak bisa dihabiskan, saya tidak bisa beristirahat dengan tenang.

Dia menguasai banyak bahasa dunia, dan selalu berkeliling di berbagai tempat di dunia untuk memilih bentuk amal yang dipilihnya sendiri.

Chuck menyumbangkan dana keselamatan lalu lintas untuk anak-anak di Vietnam.

Dia juga membeli sejumlah besar persediaan medis untuk pelatihan dokter di Kuba, dan menyuntikkan sejumlah besar dana untuk mengendalikan wabah penyakit di Afrika.

Chuck sendiri akan merampungkan semua donasinya, dan yayasan Atlantic Philanthropies-nya juga akan berakhir pada 2020 mendatang, yang merupakan akhir dari misinya.

Chuck sangat tidak setuju mewariskan harta kekayaan kepada generasi berikutnya “Jika orang kaya menyerahkan kekayaannya itu ke generasi berikutnya, ini pasti akan menciptakan masalah besar bagi generasi berikutnya. Uang hari ini harus diselesaikan masalah hari ini, dan mengenai masalah yang akan terjadi pada generasi berikutnya, seyogianya diatasi sendiri oleh mereka. ”

Mengapa Anda menyumbangkan semua kekayaan? “Karena tidak ada kantong di kain kafan,” jawabnya singkat.(jhn/yant)

Sumber : goodtimes.my

Share

Video Popular