Gunung Agung yang Tak Bisa Diprediksi Kapan Meletus dan Gunung Sinabung Tak Dapat Diprediksi Kapan Akan Berhenti Meletus

141
Warga saat menyaksikan Gunung Agung di Bali pada 24 September 2017 (Sonny Tumbelaka/AFP/Getty Images)

Erabaru.net. Berdasarkan laporan yang dipublikasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak 127 gunungapi aktif di Indonesia, saat ini ada 2 gunungapi status Awas (level 4) dan 17 gunungapi status Waspada (level 2). Lainnya adalah normal.

Sebagaimana diketahui, dua gunung status Awas tersebut adalah Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali yang naik status Awas sejak (22/9/2017) sedangkan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara status Awas sejak (2/6/2015).

Saat kondisi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali dinaikkan menjadi Siaga 18 September 2017 (Foto : Dokumentasi BNPB)

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan ada ketidakpastian dari kedua gunung tersebut. “Gunung Agung tidak dapat diprediksikan kapan akan meletus, sedangkan Gunung Sinabung tidak dapat diprediksikan kapan akan berhenti meletus,” jelas Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/10/2017).

Menurut Sutopo, itulah uniknya gunungapi ditambah lagi setiap gunungapi memiliki karakter berbeda-beda sehingga penanganan dampak yang ditimbulkan dari letusan gunung juga berbeda.

Bahkan, jelas Sutopo, sosial dan budaya masyarakat yang terbentuk di tiap gunung pun berbeda. Ada kekhasan budaya masyarakat dalam memaknai dari gunung di sekitarnya. Bayangkan 13 persen populasi gunungapi aktif di dunia terdapat di Indonesia dengan segala berkah dan musibah yang menyertai setiap letusannya.

Gunung Agung hingga saat ini belum meletus. Kegempaan yang terjadi masih intensif dan mengalami fluktuatif. Tidak ada tanda-tanda aktivitas menurun. Gempa vulkanik yang sering terjadi menunjukkan ketidakstabilan aktivitas gunungapi.

Warga mengungsi dari ancaman letusan Gunung Agung di Karangasem, Bali (Sonny Tumbelaka/AFP/Getty Images)

Di kawah Gunung Agung sudah terbentuk rekahan dan keluar asap putih dengan tekanan lemah. Secara visual belum terlihat tanda-tanda Gunung Agung meletus. Tidak dapat dipastikan kapan akan meletus. Radius yang ditetapkan PVMBG untuk dikosongkan dari aktivitas masyarakat adalah di dalam radius 9 kilometer dan 12 kilometer di sektor utara – timur laut dan tenggara – selatan – barat daya.

Sebaliknya dengan Gunung Sinabung. Sejak status Awas, hingga saat ini hampir setiap hari meletus. Letusan disertai dengan lava pijar, gempa guguran, awan panas dan hujan abu. Tidak dapat diprediksikan kapan letusan akan berhenti.

Letusan Gunung Sinabung Rabu 2 Agustus 2017 (Foto : Dokumentasi BNPB)

Sebelumnya Gunung Sinabung tidak pernah meletus selama 1.200 tahun. Tahun 2010, tiba-tiba meletus freatik hingga tahun 2011. Berhenti sesaat, kemudian tahun 2013 meletus menerus hingga sekarang.

Kawasan rawan bencana terus meluas dibandingkan dengan sebelumnya. Radius berbahaya untuk dikosongkan dari aktivitas masyarakat adalah di dalam radius 3 km dari puncak, dan dalam jarak 7 km untuk sektor selatan-tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor tenggara-timur, serta di dalam jarak 4 km untuk sektor utara-timur G. Sinabung.

Awan panas Gunung Sinabung Rabu 24 Agustus 2016 (BNPB-BPBD Sumut)

Data BNPB menyebutkan, adanya pengosongan wilayah berkonsekuensi terjadi pengungsian. Pengungsi di Gunung Agung tercatat 141.213 jiwa di 416 titik pengungsian yang tersebar di 9 kabupaten/kota di Bali pada 4/10/2017 pukul 12.00 Wita. Sekitar 2.600 jiwa pengungsi dari desa yang aman telah kembali ke rumahnya.

BNPB menjelaskan sesungguhnya di dalam radius berbahaya hanya 28 desa dengan jumlah penduduk sekitar 70.000 jiwa yang harus mengungsi. Namun ternyata masyarakat yang mengungsi berasal dari 78 desa, di mana 50 desa adalah desa aman.

Gubernur Bali telah menghimbau masyarakat yang berasal dari 50 desa aman untuk kembali ke rumahnya.

Sedangkan di Gunung Sinabung, ribuan masyarakat harus mengungsi sejak tahun 2013. Bahkan ribuan pengungsi tidak boleh kembali ke rumahnya karena harus direlokasi. Jadi yang ditangani adalah pengungsi sementara dan pengungsi permanen atau yang harus direlokasi.

Lava Gunung Sinabung pada 15 Juni 2015. (AP Photo/Binsar Bakkara)

Namun demikian, Sutopo menambahkan tidak ada yang tahu kapan mereka boleh pulang karena Gunung Sinabung belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir letusannya. (asr)