Erabaru.net. Saat berusia sekitar 8 tahun, ayah tiba-tiba meninggal karena kecelakaan mobil.

Setelah ayah dikuburkan, tak sampai setengah tahun, ibu mengalami depresi dan akhirnya bunuh diri.

Perlahan-lahan semua orang yang dulunya dekat denganku mulai meninggalkan aku satu persatu.

Aku merasa diriku seperti beban dan pembawa sial, tidak ada yang mau membesarkanku.

Masih hangat dalam ingatanku, ketika itu, kakek juga tak mau merawatku.

Sambil merokok kakek mengatakan bahwa dia sudah tua, tak sanggup merawatku lagi.

Sementara tante atau bibi juga tidak mau merawatku.

Waktu itu, hanya paman yang bersedia merawatku. Ia menggandeng tanganku sambil berkata, “Mari ikut paman pulang.”

ILUSTRASI. (i1.wp.com)

Sebenarnya, kondisi ekonomi keluarga paman juga tidak begitu baik.

Mereka mempunyai 2 orang anak laki-laki yang usianya lebih besar dariku. Sejak kecil hingga dewasa, aku sangat giat belajar. Mungkin karena aku tahu bukan anak kandung pamanku.

Saat aku lulus ketika itu, paman menyuruh anak sulungnya untuk putus sekolah karena nilainya tidak begitu bagus.

Paman menyuruh kakak untuk bekerja bersamanya, mencari uang untuk membiayai aku dan kakak laki-laki keduaku.

Tante atau isteri paman juga sangat baik padaku, aku dianggap seperti anak kandungnya.

Hanya saja, kondisi kesehatannya tidak begitu baik, ia sering sakit-sakitan.

Meskipun aku selalu kangen dengan kedua orangtuaku, namun terkadang aku merasa punya paman dan tante yang sangat menyayangiku itu juga sudah cukup.

Paman biasanya sangat keras terhadap kedua kakakku, dia selalu membentak dan memukuli mereka.

Namun, paman tidak pernah sekali pun memarahi aku dengan kata kasar, bahkan meski ia sedang tidak senang, paling-paling ia hanya diam membisu sambil menghisap rokok.

Setelah lulus kuliah, aku pun langsung mencari pekerjaan.

Awalnya aku ingin lanjut S2, namun aku tak ingin terus membebani mereka lagi.

Apalagi, sekarang kakak pertamaku sudah menikah, aku tak boleh sering-sering memakai uangnya lagi.

Kira-kira dua tahun lalu, aku pun mulai berpacaran. Pacarku orangnya baik, orangtuanya berprofesi sebagai guru.

Sangat bijak dan pengertian. Aku merasa sangat beruntung. Waktu dia melamarku, aku pun langsung mengiyakan.

Pada Maret lalu, aku membawanya menemui paman dan tanteku, dan mereka sangat mendukung hubunganku.

Tak lama kemudian, kami pun menggelar pesta pernikahan.

ILUSTRASI. (taj.tajhotels.com)

Masih terngiang di telingaku, satu hari menjelang pernikahan, tante memelukku sambil menangis.

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular