Erabaru.net. Rekan kerja bercerita tentang pasangan suami-istri yang menikah atas pilihan orangtua yang dikenalkan oleh mak comblang.

Selama hidup seatap, suami-istri ini tidak pernah bertengkar, hari-hari dilewati mereka selalu dalam ketenangan.

Meski begitu, masih ada sesuatu yang mengganjal di hati istrinya, yaitu, sang istri tidak tahu sebenarnya suaminya itu mencintainya atau tidak.

karena pernikahan mereka itu atas kehendak orangtua masing-masing, jadi dia selalu mencari kesempatan untuk menanyakan hal itu secara jelas.

Saat menikah, sang istri bertanya kepada suaminya : “Kita diperkenalkan mak comblang, sebelum menikah kita tidak pernah bertemu, apakah kamu tidak menyesal setelah menikah sekarang ?”

Sang suami menatapnya sejenak : “Kamu kurang kerjaan ya, menanyakan hal ini ? Lebih baik kerjakan saja tugas dan kewajibanmu!”

Sang istri pun diam tidak bertanya lagi, namun, tetap saja masih ada yang mengganjal di hatinya.

Saat pernikahan perak (pernikahan ke-25 tahun), istrinya bertanya lagi kepada suaminya, “Sudah puluhan tahun kita menikah, anak-anak juga sudah menikah, apa kamu tidak merasa ada yang sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kamu ?”

Sang suami melotot menatapnya, “Kamu kurang kerjaan ya, mau cari gara-gara? Sana pergi!”cetus suaminya.

Sang istri pun diam, lalu pergi, namun, tetap saja ada yang mengganjal di hatinya, dan merasa gundah.

Saat pernikahan emas sang istri dengan lugas bertanya kepada suaminya : “Kita sudah seumur hidup bersama, saya hanya ingin mendengar sepatah kata darimu, sebenarnya kamu mencintaiku atau tidak ?”

Sang istri agak tersipu malu setelah mengucapkan kalimat itu.

Suaminya tiba-tiba melompat, dan volume suaranya melonjak enam belas derajat : “Seumur hidup ini, saya tidak pernah menyentuhmu (memukul) walau seujung jari pun, sepertinya hari ini kamu lagi kegatelan, minta bogem mentah ya!”

Kali ini suaminya benar-benar marah, membuat sang istri terkejut dan ciut seketika menyusut ke samping.

Akhirnya, pada suatu hari, saat sang suami menjelang ajal, setelah menyampaikan pesan terakhir kepada anak-anaknya, istrinya bertanya pada sang suami : “Ada yang mau kamu sampaikan kepadaku ?”

Sambil menatap istrinya, sang suami berkata : “Setelah aku tiada, kamu tidak boleh menikah lagi, dan harus dimakamkan bersamaku setelah kamu meninggal nanti, aku tidak mau sendirian di sana, dan aku tidak akan mengampunimu kalau kamu mengabaikan pesanku!”

Dan suaminya pun tutup mata selamanya.

Istrinya pun meneteskan air mata, ganjalan di hatinya selama ini akhirnya terjawab sudah.

Setelah hidup bersama seumur hidup, dan masih tetap ingin bersama saat tiada, apakah cinta ini masih belum cukup dalam ?

Suaminya tidak berbicara dengan kata-kata hampa tak bermakna, ia memberika cinta sejatinya.

Sang istri berbaring di sisi suaminya, memeluknya erat, dan tak lama kemudian, ia pun pergi menemuinya.

Saat itu, suaminya berusia 88 tahun, dan dia 86 tahun, mereka tidak lahir pada hari yang sama, tapi meninggal pada waktu yang sama.

Pasangan yang saling mencintai dengan tulus, tidak butuh kata-kata manis, bisa seiring bersama seumur hidup sampai ke akhirat, jauh lebih bermakna daripada berjuta-juta kata “Aku cinta kamu”.(jhn/yant)

Sumber: wechatpress.com

Share

Video Popular