Erabaru.net. Pasca serangan gas sarin yang beracun di Suriah, seorang ayah berusia 29 tahun bernama Abdul ini kehilangan seluruh keluarganya, termasuk istrinya Dala dan sepasang anak kembarnya bernama Ahmed dan Aya.

Dunia Internasional mengatakan bahwa Presiden Suriah Assad melancarkan serangan kimia, yang menewaskan setidaknya 80 nyawa.

Khan Sheikhoun, sebuah kota kecil di Provonsi Idlib, Suriah, dibombardir oleh gas Sarin pada April lalu.

Satu jam kemudian, kota itu diselimuti oleh gas beracun dan perlu evakuasi darurat dari seluruh kota.

Menurut laporan, Provinsi Idlib dikendalikan oleh pemberontak Suriah, sehingga serangan gas tersebut diduga dilakukan oleh pemerintah.

Setelah kehilangan seluruh keluarganya, perasaan Abdul pun hancur, dan tidak bisa mengendalikan tangisnnya.

Karena selain kehilangan istri, ia juga kehilangan sepasang anak kembarnya yang baru berusia 9 bulan, kini tinggal ia sendiri yang masih hidup dalam kedukaan.

Dalam dokumenter jurnalis internasional, bisa kita saksikan Abdul tengah berkabung di pemakaman sementara segenap keluarganya.

Ia jatuh lemas di atas tanah, sehingga harus dipapah teman-temannya, dan membantunya menyeka mukanya dari serpihan tanah dan debu, dia baru bisa terus berjalan.

“Anakku, anakku, betapa cantiknya mereka saat masih hidup…” teriak Abdul dalam sebuah wawancara video jarak dekat.

Betapa memilukan melihat suasana dan pemandangan itu!

Sepasang “malaikat cantik’bersandar kaku di lengannya, tapi hanya bisa berguncang mengikuti kesedihan sang ayah, dan dengan lirih dia berbisik :“Selamat tinggal … selamat tinggal! Anak-anakku.”

Abdul tidak dapat mengendalikan ratapan pilunya di pemakaman sementara, berkabung atas orang-orang terkasihnya yang tewas karena serangan kimia.

Pasca serangan kimia, tampak Abdul memeluk sepasang jenazah anak kembarnya untuk dimakamkan.

Di pemakaman sementara, Abdul terus berteriak : “Anakku, anakku …”, temannya terpaksa membantunya melangkah karena kedua kakinya lemas.

Wawancara yang memilukan, Abdul menceritakan kepada media bagaimana rumah keluarganya dihujani serangkaian serangan kimia dari udara, yang menyebabkan kematian yang tragis.

Untuk sementara Abdul mengesampingkan kesedihan atas tragedi yang menimpa keluarganya, di bawah bantuan petugas darurat, Abdul merangkak naik satu demi satu ke rumah warga untuk membantu orang-orang yang selamat.

Abdul, pria berusia 29 tahun ini duduk di pinggir jalan sambil menggendong jasad sepasang anak kembarnya setelah serangan kimia April lalu.

Pasangan kembar ini, adalah dua di antara jumlah korban tewas dalam serangan gas sarin, yang juga merupakan buah hati Abdul.

Untuk mengembalikan kebenaran, Abdul mengatakan kepada media yang mewawancarainya.

Menjelang pukul tujuh pagi waktu itu, seluruh keluarga masih tidur, Abdul terbangun oleh serangan udara.

Serrangan udara itu menghantam rumah sebelahnya, lalu dia pun segera membawa istri dan anak-anaknya menyelamatkan diri. Tapi saat itu dia tidak tahu serangan gas sarin.

Abdul terus menangis, “Mengapa ? Mengapa menyerang kami ? Mengapa kami dipaksa harus meninggalkan kampung halaman ? Saya lahir-tumbuh disini dan mati juga disini, kami tidak akan pergi kemana pun,”ujarnya dengan gejolak perasaan bercampur aduk.

Semoga perang saudara di Suriah bisa segera berakhir dan hidup secara damai.(jhn/yant)

happytify.cc/Jhn

 

Share

Video Popular