Erabaru.net. Ia lahir di sebuah desa pegunungan terpencil di Cangshan, Shandong, Tiongkok. Tidak punya sepasang kaki, tapi bisa menaklukkan dunia!

Saat usia 3 tahun, ayahnya kecanduan judi, menjual habis semua barang-barang berharga di rumah.

Saat usia 6 tahun, orang tuanya bercerai, ia pun dibiarkan dirawat kekeknya yang sudah senja.

Di usianya yang ke-8 tahun, dimana karena tidak mampu membayar uang sekolah, ia pun hanya sempat duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, dan demi bertahan hidup, ia mulai mengikuti jejak kakeknya mengemis di jalanan.

Dan pada usia 13 tahun, karena kecelakaan, ia jatuh dari kereta api yang sedang melaju, dan untuk mempertahankan hidupnya, sepasang kakinya terpaksa diamputasi.

Pasca kecelakaan yang tragis, ia terbaring tak berdaya di tempat tidur selama empat bulan.

Dia memutuskan untuk hidup sesosok yang mandiri, lalu secara diam-diam dia kabur dari rumah, dan menjadi seorang pengemis cilik tak berkaki yang mengembara kemana-mana.

Menahan lapar, disiksa cuaca dingin membeku, dilecehkan orang-orang , dan dipukul oleh kepala geng pengemis, tapi semua itu bisa ditahannya dan dia berkata : “Adalah suatu anugerah bisa bertahan hidup di tengah penderitaan.”

Saat menginjak usia 18 tahun, tiba-tiba dia tersadarkan, bahwa dia harus belajar sesuatu untuk menghidupi dirinya, tidak boleh menjadi pengemis seumur hidup.

Kemudian, dia belajar keras untuk berjalan dengan sepasang tangannya, menjual koran, menyemir sepatu, memulung dan sebagainya untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini.

banyak pekerjaan yang dikerjakan, tapi bukan mengemis mengharapkan empati orang-orang.

“Bangkit berdiri itu bukan suatu cara untuk berjalan, tapi suatu sikap terhadap kehidupan,” katanya.

Buta huruf, tidak mengerti musik, tidak mengerti teori musik, dia mengandalkan hafalan, hingga akhirnya menjadi seorang seniman jalanan yang mengagumkan.

Hingga sekarang, dia telah menginjakkan kakinya ke lebih dari 700 kota di seantero negeri Tiongkok..

“Ini adalah pekerjaan terindah di dunia, karena dia bisa melakukan perjalanan ke seluruh pelosok negeri,” katanya.

Dia suka mendaki gunung, suka dengan sensasi ketika mencapai puncaknya.

Sejak usia 18 tahun, dia telah mendaki lebih dari 90 gunung tinggi di Tiongkok, dan hanya gunung Taisan saja dia sudah 13 kali menapakkan kakinya di gunung yang indah mempesona itu.

Pada tahun 2012 lalu, dia berhasil mendaki the Five Mountains (lima gunung suci) setinggi 8498 meter di atas permukaan laut, dan menjadi orang pertama di dunia sebagai pendaki “ The Five Mountains dengan sepasang tangan”.

Di usianya ke 19 tahun itu, dia mengembara ke Jiujiang, Jiangxi, Tiongkok. sinar mentari dan lantunan lagunya menyentuh kalbu seorang wanita cantik dan baik hati.

“Tidak apa-apa, tidak ada ayah-ibu, tidak ada rumah dan mobil, tidak ada uang juga tidak ada pekerjaan, dan tidak ada sepasang kaki, asalkan kamu memiliki sekeping hati yang mencintaiku, itu juga sudah lebih dari cukup bagiku,”kata gadisnya tersipu malu.

Sejak itu, dia pun mengiringinya mengembara kemana-mana. Dan kini, mereka telah mengisi hari-hari indahnya bersama selama 13 tahun, dia berhasil membeli rumah dan mobil setelah menikah, dan melahirkan sepasang anak yang manis.

Saat 7 Juli 2012 atau Valentines Day ala Tiongkok, dia dan istrinya melangsungkan pernikahan yang sangat mengesankan di puncak Taishan (Gunung Thai).

Orang-orang bertanya kepadanya, mengapa kamu begitu bahagia?

Dan dia selalu menjawabnya, “Jika suatu hari kamu bisa mencium istri dan anak-anakmu di puncak Lima Gunung Suci, maka kamu bisa merasakan kebahagiaan yang saya rasakan.”

Ada yang mengatakan dia adalah “manusia tertinggi” di dunia. Pasca gempa Sichuan, dia mengendarai sepeda roda tiganya selama 8 hari 8 malam baru sampai ke daerah yang dilanda gempa.

Dia mengelar 37 konser amal untuk daerah bencana, ia menyumbangkan tabungannya yang tersisa sekitar 68.6 juta rupiah untuk korban gempa.

Sejak tahun 2003, dia telah banyak menggelar ratusan konser amal untuk sekolah SD, remaja yang kecanduan internet, dan menyumbangkan lebih dari 600 juta rupiah untuk amal.

Orang-orang bertanya kepadanya, hidup mengembara begitu keras, darimana Anda punya begitu banyak cinta kasih itu ?

“Sudah lama saya mati kelaparan jika tidak ada begitu banyak orang baik hati yang memberi saya makan selama saya mengemis,” katanya singkat.

Pada Agustus 2013 lalu, dia naik panggung fi “Super Speakers”, dan pidatonya menyentuh semua hadirin! Bahkan Jimmy Lin dan juri lainnya langsung ke atas panggung memeluknya.

Dia adalah Chen Zhou.

Dia berkata : “Jangan selalu peduli dengan sepatu yang tidak cukup menarik, masih banyak orang yang tidak punya kaki di dunia ini.”

Chen Zhou, dia sangat bahagia, meski dia tidak memiliki sepasang kaki, tapi dia telah mengunjungi banyak tempat, dan kendati mengalami banyak dukalara, tapi dia jauh lebih kuat dari siapa pun!

Kebahagiaan Chen sangat sederhana, dia berkata : “Kebahagiaan tidak akan sirna hanya karena saya kehilangan sepasang kaki, saya selalu dikelilingi cinta kasih (keluarga) mereka, dan rasanya sulit untuk tidak bahagia.”

Kisah perjalanan hidup Chen Zhou tidak hanya menyentuh hati banyak orang.

Bahkan membuat lebih banyak orang merasakan begitu sederhananya kebahagiaan itu.

Dia tidak memiliki sepasang kaki, tapi dia merasa sangat bahagia.

Sementara kita yang lengkap seharusnya merenung apakah kita terlalu sulit untuk bisa merasa puas, selalu mencari kebahagiaan, padahal kebahagiaan yang dicari itu ada di sekitar kita, dan tak pernah meninggalkan kita.

Kisah nyata Chen zhou tidak hanya inspirasional, tapi juga membawa sinar dan energi positif, sekaligus membuat kita kagum dengan optimisme dan ketegarannya.(jhn/yant)

funpeer.com/Jhn

Share

Video Popular