Erabaru.net. Setelah seorang perwira polisi berusia 39 tahun harus menyerah saat ia melawan penyakit ALS, salah satu jenis penyakit saraf pada bulan Agustus lalu. Seluruh keluarga polisi yang menjadi rekan kerjanya pun menghormatinya.

Mereka memenuhi janjinya untuk mengurus keluarganya paska kematiannya, yang mana ia meninggalkan seorang istri dan anak perempuan yang baru berusia 3 tahun.

Saat hari pertama sekolah dimulai, enam petugas polisi mengantarkan gadis kecilnya masuk sekolah.

Seorang petugas polisi Matthew Hazelton (39) didiagnosis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), atau salah satu jenis penyakit saraf, pada Natal tahun 2016.

Penyakit ini biasanya melemahkan otot pasien, mengakibatkan si penderita mengalami kesulitan berbicara, menelan, dan akhirnya susah bernapas.

(Foto : Screenshot | WIVBTV)

Ia mengabdikan dirinya selama 14 tahun di Departemen Kepolisian Dunkirk di bagian utara New York, AS. Hazelton bekerja dengan Unit K-9, dan juga merupakan anggota tim penanggulangan kasus spesial di departemen tersebut.

Sebenarnya dia masih bisa bekerja beberapa bulan lagi setelah diagnosis namun terpaksa minggir dari tugasnya enam bulan sebelum kepergiannya.

(Foto : Screenshot | WIVBTV)

Kematian Hazelton yang begiru cepat mengejutkan istrinya, Jennifer, dan anak perempuannya yang berusia 3 tahun, Ava, dan juga keluarga besar polisi di tempat ia bertugas.

Sebelum dia meninggal, dia meminta rekannya sesama polisi untuk membantu mengurus istri dan anak perempuannya, dan dengan sungguh-sungguh, mereka menerima tugas tersebut.

“Istirahatlah dengan tenang dan damai, kami berjanji akan melakukan semua janji kami terhadap Anda, serta akan selamanya menganggap Jenn dan Ava menjadi bagian dari keluarga DPD,” kata perwakilan Kepolisian Distrik Dunkirk di situs mereka.

(Foto : Screenshot | WIVBTV)

Hazelton mendapat kehormatan dari departemen tersebut dengan digelarnya upacara kematiannya, serta penghormatan terakhir dari rekan-rekannya.

“Hari yang sangat suram untuk departemen kepolisian yang kami layani,” kata Kepala Kepolisian Dunkirk David Ortolano.

Mark Gruber, pengawas Hazelton, juga berbagi perasaannya: “Saya pikir menjadi petugas polisi adalah profesi yang sangat unik, dan terutama saat kejadian malang seperti ini terjadi, adalah saat kita bisa benar-benar berkumpul.”

“Mereka menyebutnya garis biru, tapi apa pun itu, kita tetaplah keluarga besar.”

(Foto : Screenshot | WIVBTV)

Untuk memenuhi sumpah mereka untuk menjaga istri dan anak perempuan Hazelton, mereka mengawal Ava pada hari pertama sekolahnya, karena ayahnya tidak akan berada di sana untuk menemaninya.

Ava benar-benar merasa terpukul saat ayahnya meninggal. Namun, kondisinya jauh lebih baik setelah beberapa polisi ini mengawalnya berangkat sekolah.

Saat itu adalah saat spesial ketika enam anggota Kepolisian Dunkirk (ditambah seekor anjing polisi) memastikan dia mendapat kelas yang aman dan mendapatkan keceriaan, seperti yang diinginkan ayahnya. Kisah mereka pun diliput oleh berita lokal maupun media sosial.(intan/yant)

Sumber : ntd.tv

Share

Video Popular