Dampak yang Ditimbulkan Cat Kuku Terhadap Tubuh Setelah 10 Jam Pemakaian

341
cat kuku

Erabaru.net. Apa, warna cat kuku favorit Anda? Jika Anda belum pernah melihat dari dekat ramuan di cat kuku Anda, Anda mungkin ingin memulai sekarang. Beberapa dari mereka dapat menimbulkan bahaya yang signifikan bagi kesehatan Anda.

Sebuah studi yang dilakukan oleh para periset di Duke University dan Environmental Working Group menunjukkan bahwa hanya dengan mengoleskan cat ke kuku Anda, memungkinkan senyawa berbahaya yang disebut difenil fosfat (DPHP) meresap ke dalam tubuh Anda.

DPHP terbentuk saat tubuh Anda memetabolisme kimia triphenyl phosphate (TPP), dan para ilmuwan percaya bahwa TPP dapat mengganggu hormon pada manusia dan hewan.

Periset menguji sampel urin peserta sebelum dan sesudah manikur mereka. Sekitar 10 sampai 14 jam setelah kuku mereka dicat, tingkat DPHP peserta tujuh kali lebih tinggi daripada rata-rata sebelum manikur.

Tingkat terus meningkat sampai mencapai puncak dan menurun sekitar 20 jam kemudian, studi tersebut menemukan. Kedengarannya menakutkan,bukan?

Bahkan, cat kuku dengan label tidak beracun juga tidak aman, menurut sebuah laporan baru dari California.

Banyak cat kuku yang diuji dalam laporan tersebut mengandung racun toluen, yang dapat menyebabkan cacat lahir dan masalah pertumbuhan anak yang dilahirkan oleh ibu yang terpapar racun toluen pada periode waktu yang signifikan.

Peneliti juga menemukan dibutil ftalat (DBP) di dalam beberapa cat kuku, yang telah dikaitkan dengan cacat lahir pada hewan percobaan.

“Kami tidak dapat mempercayai label pada beberapa produk cat kuku di salon yang diklaim tidak mengandung racun,” kata Rebecca Sutton, PhD, ilmuwan senior di Environmental Working Group kepada WebMD.

Para ahli mengatakan bahwa efek paparan jangka pendek terhadap bahan kimia yang terkandung di dalam cat kuku masih belum jelas.

Jadi Anda tidak perlu panik bila sesekali mengecat kuku. Namun, pekerja yang mengecat kuku di salon kuku berada dalam bahaya; karena mereka terpapar bahan kimia setiap hari.

Namun Rebecca Sutton berkata, “Ini bukanlah masalah kecil bagi konsumen. Bisa saja saya mengecat kuku sendiri, namun jarang ke salon. Wanita hamil harus menghindari kukunya dicat.” (vivi/yant)

Sumber: rd.com