Erabaru.net. Jika Anda Baru baru ini mengkonsumsi kopi krimer, permen karet, atau cupcake vanili, kemungkinan Anda mengonsumsi titanium dioksida.

Anda mungkin pernah mendengar tentang titanium dioksida karena titanium dioksida juga digunakan pada produk tabir surya, cat, dan plastik.

Titanium dioksida dapat membuat makanan tampak lebih cerah seperti saus salad, serta mengubah tekstur beberapa produk, seperti cokelat dan donat.

Beberapa orang merasa tidak nyaman bila titanium dioksida yang terkandung di dalam cat juga terkandung di dalam krimmer kopi.

Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja CDC, AS, mengatakan partikel ultrafine titanium dioxida yang diameternya kurang dari 100 nanometer berpotensi menyebabkan kanker akibat terpapar bahan kimia ini.

Namun menghirup titanium dioksida saat melukis adalah sama sekali berbeda dengan mengonsumsi titanium dioksida, demikian kata Dr. Lauri Wright, PhD, RDN, LD, asisten profesor kesehatan masyarakat di Universitas North Florida dan juru bicara Akademi Nutrisi dan Diabetes.

“Bagaikan membandingkan apel dengan jeruk, di mana bentuk dan kadarnya sangat berbeda. Kadar titanium dioksida yang terkandung di dalam makanan adalah sangat berbeda dengan kadar yang terkandung di dalam cat,” kata Dr. Lauri Wright.

Faktanya, sebagian besar reputasi titanium dioksida dianggap sebagai penyebab kanker karena bentuk partikelnya yang kecil—bukan karena respons kimiawinya, demikian kata Hans Plugge, SM, MSc, ahli toksikologi yang juga adalah ahli 3E Company and American Chemical Society.

“Titanium dioksida mengiritasi lapisan paru, yang akhirnya menyebabkan luka yang menyebabkan respons mirip seperti kanker,” kata Hans Plugge.

Pada tahun 2015, donat Dunkin Donuts dan krim kelapa So Delicious sudah tidak mengandung titanium dioxida.

Pada tahun 1966, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyimpulkan secara umum titanium dioksida dianggap aman di dalam makanan, asalkan tidak lebih dari satu persen dari berat produk.

Pada tahun 2010, Agensi Internasional Penelitian Kanker (IARC) di bawah naungan Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa titanium dioksida sebagai penyebab kanker bagi manusia.

Hans Plugge mengatakan bahwa IARC tidak membedakan karsinogen yang berpotensi menyebabkan kanker untuk manusia versus binatang.

“IARC cenderung membuat pernyataan terselubung berdasarkan hewan. Banyak bahan kimia yang tidak menyebabkan malapetaka pada tikus namun menyebabkan malapetaka pada manusia dan sebaliknya,” kata Hans Plugge.

Penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, meneliti tikus yang menelan titanium dioksida setiap hari menunjukkan tanda sistem kekebalan tubuh yang berkobar-kobar dan lesi pra-kanker.

Jika titanium dioksida menghasilkan respons peradangan yang sama pada manusia, ada alasan kuat untuk tidak mengonsumsinya, demikian kata Dr. Lauri Wright.

“Dari sudut pandang nutrisi, kami benar-benar menyelidiki hal-hal apa terkandung di dalam makanan yang dapat menyebabkan peradangan dan yang dapat mengurangi terjadinya peradangan,” kata Dr. Lauri Wright.

Bagaimanapun, peradangan dikaitkan dengan penyakit yang parah, dari penyakit jantung hingga diabetes.

Hanya karena tikus percobaan mengalami peradangan akibat bahan kimia yang tidak menyebabkan peradangan pada manusia—terutama dalam jumlah kecil bahan kimia tersebut tetap diperbolehkan terkandung di dalam makanan manusia.

Dr. Lauri Wright mengatakan bahwa meskipun Anda makan makanan yang mengandung kurang dari satu persen titanium dioksida, namun Anda kemungkinan makan lebih dari satu persen titanium dioksida.

Titanium dioksida yang dulu kebanyakan terkandung di dalam permen karet dan pasta gigi, namun sekarang sudah menyebar sampai terkandung di dalam krimer kopi dan kue kering.

Dr. Lauri Wright memiliki alasan kuat untuk menghindari konsumsi titanium dioksida: Sebagian besar makanan yang mengandung titanium dioksida adalah makanan yang manis.

“Guna mengurangi terjadinya peradangan di dalam tubuh, saya tidak menganjurkan Anda makan permen, kue, dan donat—atau hanya kadang-kadang dimakan— karena mengandung lemak trans dan gula,” kata Dr. Lauri Wright.(vivi/yant)

Sumber: rd.com

Share

Video Popular