Erabaru.net. Alih-alih menghabiskan waktunya demi meniti kariernya sebagai petugas medis profesional, Dr. Sr. Aquinas Edassery (65) rela melintasi hutan terpencil di Blok Thuamul Rampur di distrik Kalahandi, demi memberikan perawatan kesehatan ke daerah terbelakang Odisha.

“Memutuskan untuk pindah ke sudut terpencil negara yang sulit mengakses fasilitas dasar, untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat kesukuan dan bekerja dengan mereka, dan tidak mengetahui bahasa lokal mereka. Tentu bukanlah suatu keputusan yang mudah dibuat. Bahkan, bagi sebagian orang yang mendapat pekerjaan di sini, menganggapnya sebagai pemindahan hukuman,” katanya kepada The Better India.

Karena kurangnya fasilitas medis di desa tersebut, dilaporkan jumlah remaja yang meninggal saat melahirkan sangat tinggi, bersamaan dengan angka kematian anak.

Dr. Aquinas selalu rela dan ikhlas untuk memberikan perawatan kesehatan bagi mereka yang paling membutuhkannya.

Selama ia masih bekerja di Rumah Sakit St. Johns di Bangalore, dia melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjangkau orang-orang Kollegal, daerah pedesaan di distrik Karnataka.

Dengan bantuan rekan-rekannya, dia bisa mendidik masyarakat tentang pentingnya perawatan kesehatan primer.

Sumber: Aid India

Sebagai akibat langsung dari usahanya ini, tingkat kematian anak di Kollegal pun bisa ditekan, selama dia tinggal di sana.

Dokter tersebut mendapat inspirasi dari pekerjaannya di Kollegal dan memutuskan untuk menggunakan keahlian medisnya demi bisa membantu orang-orang yang kesulitan mendapatkan akses perawatan kesehatan dasar.

Tahun 2014 menandai dimulainya kehidupan dokter ini di Kalahandi, melalui LSM Swasthya Swaraj.

Bersama timnya, ia memiliki tugas untuk melayani masyarakat untuk mendapatkan akses perawatan kesehatan dasar.

Blok Kalahandi, Thuamul Rampur memiliki pusat kesehatan primer yang hanya memiliki satu dokter dan satu perawat, serta tak memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap.

Jadi tidak mengherankan saat mereka mengetahui bahwa tempat itu penuh dengan kasus tuberkulosis dan malaria stadium akhir.

(Sumber: Swasthyaswaraj)

Dr. Aquinas dan dua rekannya Angelina Thomas, seorang petugas laboratorium senior, dan Biji Mery, seorang perawat senior mendirikan dua pusat kesehatan di wilayah tersebut, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas kesehatan agar bisa memberikan layanan kesehatan berkualitas tinggi kepada masyarakat selama 24 jam per hari.

“Tapi kita tidak bisa selalu berada di klinik dan mengharapkan pasien datang setelah berjalan sejauh lebih dari 50 km. Terutama, anak-anak dan ibu hamil tidak bisa bepergian, jadi kami memutuskan untuk mendatangi mereka,” kata Dr. Aquinas.

Walaupun harus melewati medan yang rumit karena wilayah tersebut terletak di daerah terpencil, tidak mampu menghalangi tekad dokter untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Dr. Aquinas dan timnya yang lincah memastikan bahwa mereka mewujudkan keinginan mereka di daerah itu

“Pada musim hujan, membuat terobosan ke desa menjadi lebih berisiko. Tapi kita tidak berada di sini untuk melakukan pekerjaan setengah hati. Jika kita tidak melakukan usaha itu, akan ada banyak anak yang meninggal. Semua kesulitan itu akan terlupakan saat kita bisa menyelamatkan nyawa bayi dan ibu muda yang berharga,” kata sang dokter.

Para tim medis bergantung pada jaringan surat sebagai sarana mereka mendapatkan informasi dan kabar terbaru tentang kesehatan penduduk desa.

Sebagai dokter, mereka selalu dipanggil, dan jika ada kasus medis yang memerlukan perhatian segera, mereka segera menyalakan mobil jip untuk bepergian ke lokasi.

Dr. Aquinas berkata, “Kami bisa menangani 200 pasien dalam satu hari. Konsultasi, tes laboratorium dan pemeriksaan medis. Kami benar-benar harus bekerja keras untuk menyelesaikan semuanya sebelum bus terakhir mereka tiba”.

Tanpa mendidik masyarakat tentang pentingnya perawatan kesehatan dasar, pekerjaan Dr. Aquinas belum bisa dikatakan lengkap.

Misinya kemudian adalah untuk meningkatkan kesadaran medis di tengah masyarakat sehingga masyarakat menjadi ‘mandiri secara medis’.

Timnya mulai melatih wanita suku muda untuk menjadi penyedia layanan kesehatan primer di desa mereka, dan sekarang mereka sudah tahu bagaimana cara mendiagnosis penyakit umum, mengidentifikasi kehamilan berisiko tinggi sejak dini. Lalu mereka akan segera memberi tahu tim medis tersebut.

Untuk membangun kemajuan perawatan kesehatan disana, ia juga mengajarkan penduduk desa bagaimana pola hidup sehat.

Para tim dokter pun melanjutkan untuk melatih 20 pemuda untuk menjadi komunikator kesehatan.

Hampir 14.000 orang dari 76 desa telah menjadi lebih bijak terhadap pentingnya perawatan kesehatan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan penyebaran penyakit, dengan bantuan pria dan wanita yang dipilih sebagai komunikator kesehatan.

“Ada semacam kebangkitan yang sedang terjadi di wilayah ini. Banyak orang yang mau mendukung program ini,” kata Dr. Aquinas.

Dokter Aquinas pun mampu menunjukkan kepada kita bahwa usia itu hanyalah sebuah angka.

“Tidak, usia saya tidak terlalu penting. Sebagai dokter, penting bagi saya bahwa banyak orang bisa mendapatkan keuntungan dari pelayanan saya,” katanya. (intan/rp)

www.ntd.tv

Share

Video Popular