Erabaru.net. Kurang dari setahun aku menjalin hubungan dengan tunanganku, Namun keluarga tidak setuju dengan hubungan kami, aku pun meninggalkan mantan pacar.

Alasan orang tuaku, karena dia berasal dari luar daerah, apalagi orang tuaku sendiri juga tidak menyukainya.

Saat pertama kali aku mengajaknya ke rumah, dia tidak berani duduk saking takutnya, ayahku dengan wajah dinginnya mengajukan beberapa pertanyaan.

Lalu berakhir begitu saja tanpa kesan apa-apa, ayah tidak mengantarnya turun ke bawah, apalagi mengajaknya makan bersama, dan dari sikap ayah ini jelas bisa ditebak.

Ketika aku kembali seusai mengantarnya, ayah langsung berkata, tampang anak itu boleh juga, hanya saja karakternya seperti sosok orang yang lemah, dan rumahnya juga sangat jauh dari kota.

Dia juga tidak berencana membeli rumah disini, artinya kami harus menikah di sana.

ILUSTRASI. (Internet)

Jelas orang tuaku tidak akan setuju. “Bukannya mengembangkan karir di kota besar ini, masa kamu mau pindah ke kota kabupaten yang kecil itu?”

Aku buru-buru menimpali, kami tidak berniat membeli rumah di sini, kami berencana ke Zhu hai.

Sisi profesionalnya kebetulan diterima di perusahaan sana, pokoknya, orang tuaku tidak setuju kalau tidak membeli rumah atau tinggal di rumah kontrakan.

Belakangan, ibu mengenalkan banyak calon suami untukku, tapi semuanya kutolak.

Kami mempertahankan cinta jarak jauh. Bagaimanapun, hubungan kami sudah berjalan hampir tujuh dan memiliki dasar emosional.

Aku juga tidak merasa lelah, tapi tiba-tiba dia semakin menjauhkan diri dariku.

SMS ku sering lama sekali baru dibalasnya, ditelepon selalu bilang sibuk.

Aku benar-benar marah pada saat itu, kupikir dia telah berubah, tidak lagi mencintaiku, atau telah menemukan pacar baru.

Di pinggir pantai, aku diam, dia juga diam, aku tanya apa dia tidak mencintaiku lagi? Dia hanya menggelengkan kepala, tapi tidak menceritakan alasannya?

Sampai aku pergi, dia juga tidak menahanku. Aku benar-benar sedih, saat pulang ke rumah juga dia tidak menghubungiku, dan hubungan kami yang sudah terjalin tujuh tahun pun berakhir begitu saja.

Sejak itu, dia sudah menjadi orang asing bagiku.

ILUSTRASI. (Internet)

Kemarin saat pulang kerja, calon suamiku yang sekarang, Zhang Lei menjemputku, dia membawaku ke kafe untuk berbicara denganku.

Kupikir persiapan masalah nikah, tak tahunya dia mengambil sebuah paket kecil, lalu mengeluarkan sebuah catatan tulisan tangan.

Tiba-tiba perasaanku berkecamuk ketika melihat gaya tulisan dan sketsa yang begitu akrab, kemudian dia menyodorkan kepadaku.

Aku yakin itu adalah tulisan mantan pacarku.

Aku membacanya selembar demi selembar, di dalamnya semuanya adalah resep masakan, dan semua itu adalah makanan kesukaanku.

Total ada seratus halaman penuh, lebih dari 50 resep masakan, dan beberapa halaman terakhir ditulis untuk calon suamiku, terutama mengenai makanan pantanganku, dan kebiasaanku sehari-hari serta segala hal yang berhubungan dengan hidupku.

Singkatnya segala hal ihwal tentangku semuanya tertulis secara rinci, dan terakhir kata-kata restu, selamat menempuh hidup baru, semoga berbahagia hingga akhir hayat!

Sampai di sini, garis penglihatanku telah kabur, air mataku menetes di atas kertas, dan tunanganku kembali mengejutkanku dengan menceritakan alasan mantan pacarku waktu itu menjauhiku, semua itu karena ulah ayahku.

Tunanganku pernah mendengar cerita dari mak comblang ibuku, bahwa ayahku menelepon mantan pacarku, menyuruhnya memilih.

Ayahku bilang kalau memang mencintaiku, sebaiknya tinggalkan aku, biarkan aku menjalani hidupku sendiri.

Tunanganku yang sekarang memberitahuku begitu banyak juga mengatakan bahwa aku sendiri juga tidak ikhlas terhadap pernikahan kami ini, karena dibawah tekanan.

Dia bilang jika menikah denganku, dia akan merasa sangat bersalah.

Jadi dia memilih merestui aku dan mantan pacarku, sekaligus ingin membuka tali simpul yang kusut, memilih antara mereka berdua, dan tunanganku mengatakan bahwa dia sudah tahu jawabannya saat melihat aku menangis.

Atas kehendaknya sendiri, tunanganku kemudian membatalkan pernikahan kami, mengembalikan kebebasanku, aku benar-benar harus berterima kasih pada mantan tunanganku ini.

Dia benar-benar sosok seorang pria sejati, dan kebaikannya akan kuingat seumur hidup.

Dibanding dengan kearifannya, aku sama sekali tidak layak untuknya, sungguh.

Keesokan harinya, aku pun terbang ke Zhu hai, dan seperti biasa, aku bertemu dengannya di pinggir pantai.

Aku bertanya kepadanya, “Mengapa meninggalkan aku?”

“Tak pernah terlintas dalam benakku untuk meninggalkanmu,” Jawabnya.

Aku hanya menunggumu di tempat asal, agar aku bisa lebih mampu membawamu, dan jika tidak memiliki kemampuan ini, aku juga tidak akan menunda kebahagianmu bersama pilihanmu!

Mungkin inilah takdir! Akhirnya kita bersama lagi setelah melewati kerikil-kerikil di sepanjang jalan.

Aku bersyukur, Tuhan mempertemukan aku dengan dua sosok pria yang begitu baik dan pengertian.

Terima kasih Tuhan atas segala rencana indah-Mu. Terima kasih! (jhn/rp)

Sumber: happytify.cc

Share

Video Popular