Erabaru.net. Ini adalah sebuah kisah nyata, kisah tentang kegetiran hidup sebuah keluarga yang sangat sengsara.

Saat anaknya baru duduk di sekolah dasar, sang ayah meninggal, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya ini hidup saling menopang.

Mereka mengantar sang ayah ke peristirahatan terakhir dengan setumpuk tanah.

Sang ibu tidak menikah lagi sejak kematian mendiang suaminya. Dengan susah payah, dia membesarkan anaknya.

Saat itu belum ada aliran listrik di kampung, anaknya terpaksa belajar dibawah temaran cahaya lampu minyak, sementara ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuknya.

Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun pun berganti, ketika aneka piagam demi piagam menghiasi dinding penahan, sang anak pun bak pohon bambu di musim semi, perlahan-lahan tumbuh dewasa.

Melihat anaknya yang sudah tumbuh besar, terlihat senyum penuh makna di antara kerutan dari sudut mata sang ibu.

Saat memasuki musim gugur, anaknya berhasil lulus sekolah menengah atas.

Tetapi justru saat itulah sang ibu menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah, dan terkadang tidak cukup untuk makan.

Saat itu, setiap siswa harus memberikan 15 kg beras ke kantin sekolah. Sang anak mengerti ibunya tidak bisa memberikan beras itu.

“Bu, saya mau berhenti sekolah dan membantu ibu bekerja di sawah,” kata anak itu.

Ibunya mengelus kepala anaknya dan dengan penuh kasih sayang.

“Ibu senang kamu memiliki niat seperti itu, tetapi bagaimana pun juga kamu tetap harus sekolah. Jangan khawatir, kalau ibu sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjagamu. Kamu daftar dulu di sekolah, nanti ibu akan membawa berasnya ke sana,” kata ibu”.

Namun, sang anak tetap bersikeras tidak mau sekolah, ibunya kembali mengulangi, tapi anaknya tetap saja keras kepala.

Kali ini sang ibu pun seketika menampar anaknya, dan ini adalah pertama kalinya dia dipukul oleh ibunya.

Anaknya akhirnya pergi juga ke sekolah, sang ibu memandang bayangan anaknya yang semakin menjauh sambil merenung.

Tak lama kemudian, dengan terpincang-pincang dan nafas tersengal-sengal, ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

Pengawas yang bertanggung jawab mencatat dan menimbang beras kemudian membuka kantongnya, lalu mengambil segenggam beras dan melihat-lihat, kemudian mengerutkan kening.

Dia berkata, “Kalian para orangtua selalu suka mengambil keuntungan kecil, coba lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin ini tempat penampungan beras campuran.”

ILUSTRASI. (hindustantimes.com)

Wajah sang ibu pun seketika merona merah merasa malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Pengawas pun tidak banyak berkata lagi, akhirnya menerima beras sang ibu.

Awal bulan berikutnya sang ibu memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin.

Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat-lihat berasnya, keningnya tampak berkerut, lalu berkata, “Masih dengan beras yang sama”.

Pengawas itu pun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan pada ibu ini dan kemudian berkata, “Tak peduli beras apa pun yang ibu berikan, kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.
Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak akan menerimanya.”

Mendengar itu, sang ibu tampak panik dan memohon, “Ibu pengawas, beras di rumah kami semuanya seperti ini, jadi bagaimana?”

Pengawas itu pun tampak serba salah, dan balik bertanya, “Satu hektar lahan ibu bisa menanam berapa jenis beras ? benar-benar menggelikan.”

Mendapat pertanyaan seperti itu sang ibu pun akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Pada awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas langsung naik pitam melihat beras yang dibawa si ibu, dan dengan ketus berkata padanya.

“Aduh ibu, anda sebagai ibu kenapa begitu keras kepala sih? Kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu!” Cetus pengawas.

Share

Video Popular