Erabaru.net. Ada yang mengatakan bahwa membesarkan seorang anak seperti sedang melakukan perang gerilya.

Sekarang, bayangkan jika anak itu berjumlah enam kali lipat!

Inilah kisah pengasuhan yang terlihat cukup kacau, namun penuh kebahagiaan dari sepasang suami istri yang memiliki anak kembar 6 atau sextuplet pertama yang masih hidup di dunia.

Setelah melewati pengobatan untuk meningkatkan kesuburan sebanyak tiga belas kali, Janet Walton pun sangat terkejut ketika mengetahui bahwa dia berhasil mengandung bayi.

Namun, ia diketahui mengandung lebih dari satu bayi, menurut laporan The Guardian.

Dan ketika dokter tersebut memberitakan bahwa dia mengandung enam bayi, dia benar-benar terkejut dan sulit mempercayainya.

“Tidak ada yang bisa membayangkan bahwa kita akan memiliki enam anak. Kami bertanya-tanya apa yang akan terjadi kedepannya,” kata Janet kepada Liverpool Echo.


© Getty Images | Gambar Malcolm Croft – PA

Akhirnya, pada 18 November 1983, Janet melahirkan keenam bayi perempuan pertama di dunia melalui operasi caesar.

Bayi-bayi itu, diberi nama Hannah, Lucy, Ruth, Sarah, Kate, dan Jennie, segera menjadi berita utama di seluruh negeri karena menjadi anak kembar enam yang pertama kali mampu bertahan semuanya.

“Mereka lahir sehat dan sehat pada saat usia kandungan Janet berumur 31 minggu,” kata suami Janet, Graham Walton, melaporkan The Guardian.

“Beberapa di antaranya masih berada dalam inkubator karena paru-parunya belum berkembang dengan baik”.

©Getty Images | Mirrorpix

Bayi-bayi itu akhirnya bisa dibawa pulang pada minggu pertama bulan Januari, dan segera, membuat kehidupan keluarga Walton pun terbalik.

Sepanjang hari, mereka harus terus memberi makan dan mengganti popok anak perempuan mereka.

“Selama dua tahun, Graham dan saya hanya tidur beberapa jam semalam,” kata Janet, menurut MailOnline.

“Kami tahu bahwa kami telah menghabiskan 11.000 popok setahun,” tambah Graham.


© YouTube Screenshot | Real Stories

Bagi mereka, ini adalah tugas yang sulit, dimana mereka harus membesarkan enam gadis sekaligus.

“Ketika mereka beranjak tumbuh dewasa, ini lebih merupakan ketegangan mental bagi kami. Dan kami selalu melewatkan hari dengan mengkhawatirkan keadaan mereka,” kata Graham.

Mereka memiliki berbagai argumen dan perbedaan pendapat. Mereka juga sering membanting pintu di rumah kami, menyetel musik dengan suara keras, dan malas merapikan kamar tidur.


© Getty Images | David Giles – PA Images

Meski memiliki beban kerja yang sulit, rumah itu juga selalu penuh dengan kegembiraan dan tawa. Apalgi, semua gadis itu sangat akrab satu sama lain.

Share

Video Popular