Erabaru.net. Sudah lebih dari 30 tahun usia perkawinanku dengan suami. Kami membuka sebuah warung makan kecil di kota.

Anak kami pun bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing, dan kami juga merasa bangga dan bahagia dengan mereka.

Beberapa tahun yang lalu, putriku menikah, pihak pria memberi mahar hampir 500 juta rupiah, dan suasana pernikahan juga sangat meriah.

Tetangga kiri kanan bahkan merasa iri, katanya kami benar-benar beruntung dan pasti bahagia nantinya memilliki menantu yang kaya.

Ilustrsi.

Meskipun dia menikah dengan keluarga yang mapan, tapi saya dan suami tetap memberikan sedikit pegangan untuk putri kami, takut dia tertindas di keluarga baru.

Pada tahun kedua pernikahan putri kami. Putra kami pun mengajak pacarnya ke rumah dan mengatakan akan menikah.

Gadis itu lumayan baik menurut saya, mereka juga sudah pacaran selama beberapa tahun.

Tapi ketika berbicara tentang pernikahan, keluarga si gadis mengharuskan punya satu rumah, dan sebuah mobil baru akan menikahkan putrinya dengan putraku.

Aku dan suami mana punya tabungan untuk membeli rumah dan mobil, sama saja dengan mencekik leher kami.

Tapi kami juga tak berdaya, karena putra kami bersikeras akan menikah dengannya.

Dengan terpaksa saya dan suami pun menjual warung makan kami, dan meminjam sedikit uang sama saudara untuk tambahan.

Pada hari pernikahan, putra saya berlutut dan menuangkan teh untuk saya, dan sambil menangis ia berkata akan berbakti pada kami, orangtuanya, dan akan sering-sering menjenguk kami, ia juga berharap agar kami bisa ke rumah baru mereka dan menginap beberapa hari.

Ilustrasi.

Saya pikir yang penting mereka hidup bahagia, itu juga sudah cukup bagi kami, selaku orangtuanya.

Beberapa hari yang lalu, nyeri di pinggang suami kembali kumat, dan menjalani rawat inap di rumah sakit.

Menghadapi biaya pengobatan yang tinggi, saya pun menelepon anak-anak, tapi tak disangka, mereka hanya memberiku beragam alasan.

Dan tanpa bisa ditahan mata saya pun berlinang, sambil membayangkan betapa dengan susah payahnya kami, ayah-ibunya membiayai sekolah mereka berdua.

Sekarang ayah mereka sakit dan butuh biaya, namun tak satu pun dari mereka yang bisa diharapkan.

Akhirnya, setelah mengalaminya sendiri, baru saya sadari, bagaimana pun juga lebih baik menabung uang untuk keperluan diri sendiri, apalagi menjelang senja, sementara mereka (anak-anak) …(jhn/yant)

Sumber: happytify.cc

Share
Tag: Kategori: KELUARGA PARENTING

Video Popular