Oleh: Lin Chuan

Erabaru.net. Di Pulau Paskah (Easter Island), berdiri tegak lebih dari 900 patung.

Garis tubuh mereka cukup sederhana, dengan mimik serius, memberi kesan misterius.

Tidak seperti imajinasi manusia pada umumnya, patung-patung itu tidak menghadap ke laut, melainkan kebanyakan menghadap ke arah pedalaman pulau.

Ada orang menerka, pencipta patung-patung itu pastilah mengira bahwa pulau itulah dunia secara keseluruhan dan, tidak ada lagi manusia lain di luar sana.

Jadi sebagai pengawal penduduk pulau, para patung itu tidak harus menghadap ke laut, hanya perlu menghadap ke arah pedalaman pulau sudah cukup.

Orang-orang selalu berpikir bahwa patung-patung itu hanya memiliki kepala tapi tanpa tubuh.

Sebenarnya, pada 1914 silam sudah ada penjelajah paling awal yang telah menemukan bahwa patung itu memiliki tubuh.

Hanya saja karena ukuran kepalanya sangat besar, dan tubuh mereka pun terkubur di dalam tanah, orang lantas berpikir bahwa hanya kepala saja sudah begitu besar, bagaimana mungkin ada tubuhnya?

(UCLA)

Jo Ann Van Tilburg seorang arekeolog dari University of California, Los Angeles AS memimpin sebuah tim yang sejak awal 2009 melakukan serangkaian penggalian di pulau itu.

Penggalian patung Moya di Easter Island ini, beberapa bagian diangkut ke pantai, sedangkan sisanya dipertahankan di tambang batu.

Tim Van Tilburg telah mempelajari kedua kelompok patung tersebut. Mereka menemukan baik patung yang di tambang, maupun kelompok patung pantai, kedalaman mereka dikuburkan kira-kira sama.

Jadi mereka beranggapan bahwa batu-batu itu terkubur karena endapan tanah secara alami.

 

Dalam proses penggalian sebuah patung batu setinggi 7 meter, tim menemukan tali dan bekas batang pohon yang ditinggalkan pengrajin.

Berdasarkan peralatan ini, mereka memperkirakan bahwa para pengrajin terlebih dahulu mengukir bagian depan patung, lalu menegakkan patung itu serta mengukir bagian belakangnya.

 

Patung-patung batu itu, ketinggiannya berkisar antara 3 sampai 10 meter. Setelah dipahat di lokasi bahan baku, lalu mereka dikirim ke lokasi penempatan patung, bukan suatu pekerjaan yang mudah.

Itu sebabnya ada orang yang berspekulasi bahwa patung-patung itu, bukan hasil karya manusia primitif.

(UCLA)

Secara kebetulan, banyak bangunan kuno di dunia ini, bukan merupakan sesuatu yang mampu dijangkau oleh IQ manusia primitif.

Misalnya, di India terdapat Kuil Kailasa (Kailasa Temple) yang keseluruhannya merupakan hasil olahan dari sebongkah batu gunung besar.

Pada umumnya tukang pahat melubangi dulu batu cadas tersebut, lalu dari sisi batu dipahat melingkar secara datar.

Tapi kuil batu itu, adalah dari arah atas menuju ke bawah, memahatnya dan menyingkirkan bebatuan yang habis dipotong.

Diperkirakan bahwa untuk mendirikan kuil itu, secara total harus menyingkirkan 400.000 ton batu cadas.

Oleh karena dalam sejarah India tidak tercatat pembangunan kuil yang telah menghabiskan banyak waktu, maka sejarawan percaya bahwa kuil itu dibangun dalam tempo 18 tahun.

Apabila boleh mengandai-andai, dalam 18 tahun itu, para pengrajin bekerja 12 jam sehari, tak peduli ada terpaan angin atau hujan atau hari libur.

Tapi juga mengabaikan disain, perencanaan, dan ukiran halus, hanya mempertimbangkan untuk menyingkirkan sisa pahatan.

Menurut asumsi ini, para pengrajin harus menyingkirkan 5 ton bebatuan per jam!

 

Membangun kuil dewa ini, perencanaan awal sebelum memahat sangat penting.

Ada banyak saluran dan jembatan batu, jika tidak ada perencanaan yang presisi, dalam proses pemotongan maka jembatan-jembatan batu itu tidak dapat dihubungkan.

Ada banyak ukiran yang rumit di dalam kuil tersebut, di dalam kelopak bunga lotus yang berada di atap kuil, terdapat empat patung singa batu yang tersusun dalam formasi X, dapat dilihat dari udara.

 

Di daerah tersebut, ada beberapa kuil lainnya tapi Kuil Kailasalah yang paling kuno namun juga dengan skala terbesar dan teknik arsitektur paling canggih.

 

Secara kebetulan, piramida Mesir juga menunjukkan pengaturan seperti itu.

Piramida dinasti keempat, skala dan kualitasnya jauh melebihi piramida dinasti kelima, dan bedanya sangat jauh.

 

Dalam sejarah India tercatat seorang raja (Aurangzeb, 1618-1707) pernah memerintahkan penghancuran Kuil Kailasa.

Dia mengirim 1.000 orang dan menghabiskan waktu tiga tahun, hanya menyebabkan kerusakan kecil saja pada kuil.

Demikian pula, pada akhir abad ke-12, raja Mesir Al-Aziz yang memerintahkan penghancuran piramida.

Para tukang yang dia utus, memulai pekerjaan pembongkaran dari piramida terkecil di antara tiga piramida itu.

Mereka menemukan bahwa hanya satu atau dua batu yang bisa disingkirkan setiap hari, setelah menghabiskan waktu delapan bulan, mereka terpaksa membatalkan rencana tersebut.

Meski arkeologi modern sudah cukup maju, namun untuk sejumlah misteri yang terdapat di atas bumi ini para arkeolog belum mampu memberikan penjelasan yang masuk akal.

Barangkali umat manusia harus memandang dari sudut yang berbeda untuk mendalami kesulitan yang dihadapi oleh ilmu modern, siapa tahu mungkin akan dapat membuka perspektif yang lebih luas. (hui/whs/rp)

epochweekly.com

Share

Video Popular