Gadis Ini Terpaksa Tidak Jadi Kuliah dan Bekerja di Restoran Mie, Saat Pemulung Tua Hanya Memesan Kuah, Dia Memberi Semangkuk Mie, Suatu Hari Seorang Pria Mendatanginya

143
xiangmei

Erabaru.net. Han Xiangmei tak bisa menahan gejolak kegembiraannya. Dia bergegas pulang ke rumah sambil memegang surat pemberitahuan dirinya diterima di perguruan tinggi, ia ingin berbagi saat yang membahagiakannya ini bersama ayahnya.

Tapi tak disangka, saat sampai di depan pintu Xiangmei mendengar ayah dan ibu tirinya bertengkar.

Xiangmei diam terpaku dan urung masuk ke rumah, dia mencoba mendengar apa yang sedang terjadi.

Ilustrasi.

“Meski putrimu pintar, tapi coba pikirkan kondisi keuangan keluarga. Mana ada uang lagi untuk membiayainya kuliah!”

“Apalagi dia anak perempuan, cepat atau lambat pasti akan menikah menjadi menantu orang lain, sementara anak laki-lakilah yang seharusnya kita perhatikan, karena dialah yang kelak akan mengantar kita ke tempat peristirahatan terakhir bila saatnya tiba,” kata ibu tirinya.

Ibu tiri menimbang-nimbang “untung-rugi” membiayai kuliah Xiangmei, dan menganggp kuliah tidak ada “manfaatnya”.

Sambil menghisap rokok, ayahnya menatap ibu tirinya, dari sudut matanya tampak berlinang air mata.

“Percuma berdebat juga, karena Xiangmei bukan putri kandungmu, jadi kamu tidak akan merasa sedih. Biar saya sendiri yang akan membiayai kuliahnya, tidak usah kamu bantu,” kata ayah, ini adalah pertama kalinya ayah berkata seperti itu pada ibu tiri.

Dulu, demi keharmonisan rumah tangga, ayah selalu mengalah dan mencoba bersabar meski ibu tirinya yang salah.

“Baguslah, kalau begitu pak Tua! Asal jangan cuma ngomong saja! Lain kali jalanin hidup masing-masing saja, ” cetus ibu tirinya kesal.

Malamnya, ayah melihat-lihat surat pemberitahuan penerimaan mahasiswa dan tersenyum, memuji-muji putrinya telah membuatnya bangga.

Tapi Xiangmei tidak bisa tersenyum lepas, mengingat kejadian siang tadi, dan juga keluarganya yang miskin! Apalagi ayah juga masih perlu ada yang mengurus karena kakinya yang cacat, dan sekarang harus memikirkan biaya kuliahnya.

Setelah ayah pergi, ibu tiri ke kamarnya. Setelah diam cukup lama, ibu tirinya baru bicara.

“Xiangmei, bukannya ibu kejam, kamu sendiri tahu persis kondisi ayahmu, apalagi adikmu juga masih kecil, hanya ibu sendiri yang memikul beban hidup keluarga,” kata ibu tirinya.

Sampai sekarang, rumah keluarga Xiangmei masih bertembok tanah beratap jerami, yang bisa saja ambruk kapan saja setiap diterpa angin dan hujan lebat.

Selama ini, ibu tirinya yang bersusah payah mempertahankan dan menopang hidup keluarga yang miskin ini.

“Sudahlah bu, tak perlu dibicarakan lagi, aku tahu apa yang harus kulakukan,” kata Xiangmei.

Tanpa diingatkan ibu tirinya juga, Xiangmei sudah berencana tidak melanjutkan kuliahnya, ia akan bekerja untuk mengurangi beban hidup keluarga.