Erabaru.net. Seorang miliarder berencana membiarkan putrinya merasakan sejenak apa itu hidup miskin. Dia berharap putrinya tahu apa itu “kemiskinan”, agar lebih bisa memetik hikmahnya !

Kemudian dia pun membawa putrinya ke desa untuk merasakan sejenak hidup dalam kemiskinan.

Putrinya tinggal selama tiga hari tiga malam dengan sebuah keluarga di desa.

Dalam perjalanan pulang, dengan lembut sang ayah bertanya kepadanya : “Bagaimana rasanya hidup di desa nak?”

“Bagus juga,” jawab putrinya singkat.

Sontak ayahnya terkejut bukan main, dan dengan cepat bertanya lagi : “Apa ada yang beda dengan tempat tinggal kita?”

Sambil tersenyum putrinya berkata, banyak sekali perbedaannya.

1. Kita punya satu ekor anjing di rumah ; Mereka ada empat ekor anjing.

2, Kita satu kolam renang ; Mereka ada empat kolam yang besar, airnya sangat jernih, banyak ikan-ikan yang berenang kesana-kemari ! Saya suka kolam ikan!

3. Kita punya lampu penerang di taman ; Tapi halaman mereka ada bintang dan bulan. Saya sering tidak bisa melihat bintang dan bulan di rumah!

4. Taman bunga kita tumbuh sampai ke pagar ; sementara halaman mereka sampai ke cakrawala.

5. Kita membeli makanan, mereka memasak makanan. Putrinya berkata, “Yah, ayah sudah lama tidak membuat masakan untuk adek! Adek ingin makan masakan ayah!”

6. Kita mendengarkan musik pop ; Mereka mendengarkan kicauan burung, katak dan konser musik hewan lainnya, saat mereka bekerja di ladang, semua musik yang merdu itu mengiringi mereka! Merdu sekali di telinga!

Saya suka berguling-guling di tanah mereka! Bahagia sekali rasanya!

7. Kita memasak dengan microwave ; Sedangkan mereka memasak mengunakan kayu bakar, lebih enak daripada masakan kita.

8. Rumah kita dikelilingi oleh tembok ; Sementara rumah mereka selalu terbuka kapan saja, menyambut kedatangan teman-teman.

9. Kita berhubungan erat dengan ponsel, komputer dan televisi ; Mereka berhubungan erat dengan langit biru, air jernih, rumput hijau, pohon-pohon rindang dan keluarga.

Sang ayah terperanjat kaget mendengar sudut pandang putrinya berkata seperti itu,.. Putrinya terakhir menyimpulkan : “Terima kasih, Ayah! Ayah membuatku tahu betapa miskinnya kita!”

Kita semakin miskin dari hari ke hari hari, karena kita tidak bisa lagi merasakan keindahan alam.

Di mata anak-anak, yang disebut “kaya” itu adalah keindahan-keindahan alam. Namun, di mata ayahnya, yang disebut “miskin” itu adalah pedesaan.

Memiliki uang tidak berarti memiliki “kekayaan”. Sekarang kita dipaksa mengejar harta kekayaan dan kepentingan, menganggap bahwa uang adalah sukacita.

Namun, ketika kita melihat ke belakang, masa kanak-kanak, menangkap kodok di sawah, dan bermain kelereng dengan teman-teman, itulah kebahagiaan dan kekayaan terbesar kita.

Meski kebutuhan material itu penting, tapi jauh lebih penting kehidupan spiritual, bukan ?(jhn/yant)

Sumber: ins.bldaily

Share

Video Popular