Erabaru.net. Ketika anak saya menikah dengan seorang janda, saya benar-benar sangat menentangnya.

Karena sama-sama wanita, saya bisa memahami kondisinya, tapi tidak seharusnya dia membawa anak perempuannya saat menikah dengan anak saya.

Belakangan, saya juga tidak peduli lagi. Setelah mereka menikah, menantu ini sangat berbakti.

ILUSTRASI. (Internet)

Saya bisa bersikap ramah kepada siapa saja, tapi entah kenapa saya tidak bisa seperti itu terhadap menantu perempuan saya.

Setiap kali saya menegur atau memukulinya, dia selalu sabar, hanya menangis kalau dimarahi, atau sembunyi kalau dipukul, tidak pernah melawanku.

Sekarang usia saya sudah lebih dari 70 tahun, dan selama ini dia yang selalu melayani keperluanku.

Tapi saya selalu melampiaskan kepadanya kalau marah, dan seperti biasa dia tak pernah melawan, hanya menahan kekesalannya di dalam kamar.

Selama bertahun-tahun ini, saya juga merasa bersalah atas dirinya.

Belakangan, dia melahirkan seorang anak laki-laki, dan tentu saja saya sangat gembira.

ILUSTRASI. (Internet)

Sejak kecil saya selalu mengabaikan anaknya, saya lebih peduli dengan cucu sendiri.

Sampai mereka dewasa, tidak pernah sakali pun saya bersikap baik padanya dan juga anak perempuannya.

Seseorang, kalau sudah tua, hanya berharap anak-anaknya bisa sering-sering menemani, begitu juga saya.

Setiap kali meminta cucuku untuk menemaniku di rumah, dia selalu menolak dengan alasan sibuk, tidak sempat.

Saat itu, saya baru sadar kalau anak perempuan jauh lebih peduli daripada cucuku yang laki-laki itu.

Meski saya selalu bersikap kasar padanya, tapi dia selalu bersikap baik pada saya yang sudah tua ini, dia selalu menjengukku begitu sempat.

Dua tahun kemudian, cucu laki-laki saya membawa pulang seorang gadis, dan mengatakan bahwa mereka akan menikah.

Saya melihat gadis itu sepertinya sedikit manja dan sikapnya masih seperti anak kecil.

ILUSTRASI. (Internet)

Begitu masuk ke dalam langsung memanggilku nenek dengan manisnya, kemudian terlihat tidak suka melihat saya, mungkin karena saya sudah tua.

Saya juga tidak begitu suka dengan sikapnya. Belakangan cucu laki-laki saya bilang mau membeli mobil untuk menikah, tapi sepeser pun tidak saya kasih.

Dia pun kesal dan marah-marah, dan mengancam tidak akan mengakui saya sebagai neneknya.

Tentu saja saya kecewa dan sedih mendengarnya berkata seperti itu.

Kemudian, saat pernikahan cucu perempuan, saya ke pernikahannya. Dia meraih tangan saya dan berkata, “Nenek, sejak kecil ibu mendidik saya harus bersikap baik pada nenek. Meskipun saya bukan cucu kandung nenek, tapi nenek adalah nenekku satu-satunya, dan saya akan berbakti pada nenek dan ayah-ibu nanti.”

ILUSTRASI. (neutralmilkhotel.org)

Mendengar ucapannya yang tulus, mata saya pun berkaca-kaca dan tak tahan meneteskan air mata.

Saat itu juga saya langsung memutuskan membelikan sebuah rumah untuknya, saya anggap sebagai sedikit kompensasi untuk menantu dan anak perempuannya atau cucu perempuan tiriku ini.

ILUSTRASI. (nogreaterjoy.org)

Dana pensiun yang saya simpan selama ini akhirnya bisa digunakan.

Orang-orang mengatakan saya pilih kasih, tapi saya tahu persis siapa yang baik kepada saya.

Kepada siapa saya memberikan hadiah, itu adalah urusan saya, tidak ada urusannya dengan siapa pun, apalagi orang lain. (jhn/rp)

Happies.life

VIDEO REKOMENDASI

Share
Tag: Kategori: STORY

Video Popular