Erabaru.net. Semasa Perang Dunia II, sebuah pasukan bertempur sengit dengan pasukan musuh di hutan, terakhir dua tentara kehilangang kontak dengan pasukannya.

Alasan mengapa kedua tentara itu bisa saling menjaga satu sama lain dalam pertempuran tersebut, karena mereka berasal dari kota yang sama.

Mereka berjalan kaki di medan yang sulit di hutan, saling memberi semangat dan menghibur.

Lebih dari sepuluh hari kemudian, mereka belum juga berhasil mengadakan kontak dengan pasukannya.

Untungnya, mereka melihat seekor rusa, dan melewati beberapa hari dengan mengandalkan daging rusa.

Mungkin karena peperangan, binatang-binatang di hutan lari atau terbunuh.

Selain rusa itu, mereka tidak pernah lagi melihat binatang apa pun. Yang tersisa hanya sedikit daging rusa yang tergantung di bahu tentara yang lebih muda.

Suatu hari, mereka bertemu musuh di hutan. Setelah pertempuran sengit, mereka berhasil lolos dari incaran musuh.

Internet

Tepat ketika mereka merasa sudah aman, terdengar suara tembakan, tentara yang lebih muda yang berjalan di depan tertembak.

Untungnya, hanya terluka di bahu. Temannya yang berjalan di belakang berlari panik menghampirinya, dan memeluknya sambil menangis pilu.

Malamnya, tentara yang tidak terluka terus bergumam tentang ibunya, matanya menatap lurus.

Internet

Mereka mengira hidup mereka sendiri akan segera berakhir, dan daging rusa yang mereka bawa juga belum disantap sedikit pun.

Tidak ada yang tahu, mental seperti apa yang mereka alami malam itu.

Keesokan harinya, pasukan menemukan mereka.

Internet

Tiga puluh tahun kemudian, tentara yang terluka tersebut mengatakan, “Saya tahu siapa yang menembak ketika itu, yaitu teman seperjuangan saya, yang meninggal tahun lalu.
Ketika dia memelukku, laras senapannya terasa panas, tapi aku memaafkannya malam itu, aku tahu dia ingin bertahan hidup sendiri dengan daging rusa, dan aku tahu dia bertahan hidup demi ibunya.”

Selama 30 tahun ke depan, saya pura-pura tidak mengetahui penembakan itu, dan tidak pernah menyinggungnya.

Internet

Perang itu sangat kejam, dan ibunya tidak sempat menunggunya pulang.

Setelah perang usai, saya dan dia memberi hormat di pusara orang tuanya.

Dia berlutut di depan potret ibunya, memohon ampunanku, tapi saya menghentikannya berbicara tentang itu, dan lebih dari 20 tahun kami kembali bersahabat, saya tidak punya alasan untuk tidak memaafkannya. ”

Seseorang yang bisa mentolerir kekerasan pandangan orang lain, selalu merasa benar, angkuh, dan egois yang tinggi itu bergantung pada kelapangan dada yang besar.

Ketika kesadaran hanya berfokus pada dendam dan sakit hati, tentu saja akan kehilangan kekuatan untuk memandang jauh ke depan.

Internet

Hanya ada satu tujuan atas segala sesuatu dalam perjalanan hidup ini, yakni mengingatkan Anda untuk menjadi sesosok orang yang lebih bijak, peduli, dan kreatif.

Lepaskan kesalahan orang lain, dan bebaskan dirimu dari belenggu pikiran, hidup pun bisa menjadi begitu indah! (jhn/rp)

Goodtimes.my

Share

Video Popular