Erabaru.net. Ayahku meninggal lebih awal, ibu tidak menikah lagi, dia takut aku menderita, dan sejak itu, aku dan ibu pun hidup bersama.

Ibuku telah merasakan getirnya hidup yang tidak bisa dibayangkan, sampai berhasil merawat dan membesarkanku hingga dewasa.

Misalnya, ibu memikul batu bara bersama sekelompok pekerja pria, dan bukan main lelahnya setiap kali pulang sampai tidak bisa meluruskan pinggang, aku hanya bisa menangis sedih melihatnya sambil memijat punggungnya.

Atap rumah kami pasti bocor saat musim hujan, dan ibuku akan memanjat ke atap seperti pria dan menambal atap yang bocor.

Saat turun dari atap rumah, kedua kakinya akan gemetar karena takut. Tapi demi aku, dia bisa mengatasi segala kesulitannya.

Sejak kecil, diam-diam aku berjanji kelak setelah dewasa harus memberikan hidup yang nyaman pada ibu. Untuk tujuan ini, aku jauh lebih kuat hidup menderita dari anak-anak lainnya sejak kecil.

Aku tidak tega melihat ibu yang banting tulang setiap hari, sementara aku duduk nyaman di kelas, tapi ibu melarangku berhenti sekolah, memaksaku harus sekolah bagaimana pun juga.

Karena kondisi keluarga, setelah lulus SMP, aku pun bersikeras berhenti sekolah. Mengetahui hal ini, Ibu menangis selama beberapa hari, dan memukulku.

Dan untuk meringankan beban ibu, aku memutuskan untuk ikut paman bekerja di suatu tempat.

Share

Video Popular