Irene yang melihat suasana canggung seperti itu lalu bertanya kepada mereka.

“Enak tidak ?”

“Enak.”

“Kuahnya terlalu panas ya?”

“Tidak,” jawab bocah perempuan mewakili saudaranya.

“Kalian harus makan yang banyak ya, kenapa tidak makan pangsitnya ? Pangsitnya harus dimakan selagi panas, baru enak. Kalau tidak cukup, kakak pesan semangkuk lagi!”

Bocah perempuan itu tampak menundukkan kepala, dan dengan suara yang sangat pelan berkata pada Irene : “Sudah lama ayah dan ibu tidak makan mie pangsit seperti ini lagi !”

Irene tercengang sejenak mendengar itu, tapi Irene berkata pelan pada mereka : “Jangan khawatir, setelah kalian selesai makan, kakak akan pesan dua bungkus lagi untuk ayah-ibu kalian! Gimana setuju ?”

Setelah mendapat jaminan, kelima bocah polos itu baru bisa makan dengan tenang.

Namun, anak-anak nampaknya enggan menghabiskan lebih banyak lagi uang Irene, baru makan beberapa suap, si bocah perempuan kemudian berkata : “ Sisanya ini kami bungkus saja untuk ayah di rumah, kakak cukup beli satu bungkus saja untuk ibu!”

Setelah mendengar kata-kata polos bocah perempuan itu, Irene terhenyak sesaat, perubahan duniawi seperti apa ini, menciptakan jiwa belia yang begitu cepat dewasa, pikir Irene!

“Kakak, terima kasih.” Kata si bocah perempuan seusai makan.

“Terima kasih, kakak.”Timpa seorang bocah laki-laki ikut bicara dengan suara sangat pelan.

Banyak orang selalu merasa bahwa kehidupan sehari-hari yang mereka terima memang sudah sewajarnya seperti itu.

Share

Video Popular