Orang Tua yang Kehilangan Kehangatan Keluarga Ini Hidup Hemat Demi Membantu Anak-anak Miskin, Belakangan Seseorang yang Tidak Pernah Dibantunya Justeru Datang Membalas Budi

43
ILUSTRASI. (Internet)

Erabaru.net. Dong Sheng dulunya adalah seorang pekerja, meski telah beristeri, namun, karena mandul, isterinya kabur dengan pria lain.

Pada usia 45 tahun, Dong Sheng menikah lagi dengan seorang janda yang delapan tahun lebih muda darinya, dan membawa seorang anak laki-laki.

Dong Sheng dan isterinya ini telah hidup bersama selama 10 tahun, kedua orang ini yakni isteri dan anaknya si janda tidak kerja apa pun selain menghabiskan uang simpanan Dong Sheng.

Isterinya bahkan tidak memasak untuknya, apalagi mencuci pakaian dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Lama kelamaan, Dong Sheng pun merasa tak tahan lagi, lalu mengajukan cerai.

Namun, isterinya tidak setuju, akhirnya Dong Sheng pindah dan menyewa rumah sendiri.

Sementara rumahnya diserahkan kepada isteri dan anak si janda, tapi meski begitu, mereka masih saja datang dan meminta uang pada Dong Sheng.

Akhirnya dengan terpaksa, Dong Sheng pun meninggalkan kotanya setelah pensiun, pindah ke tempat yang baru.

Dong Sheng memiliki uang pensiun bulanan sebesar Rp. 2 juta, cukup untuk biaya hidupnya sendiri sehari-hari.

Dan selama beberapa tahun ia melewati hari-harinya yang tenang seperti itu.

Sampai pada suatu hari, ketika Dong Sheng ke sebuah sekolah dan menghadiri sebuah acara amal.

Hatinya seketika tersentuh saat melihat anak-anak bernasib malang yang tidak bisa sekolah karena miskin dan melihat perusahaan serta individu yang tanpa pamrih membantu anak-anak malang tersebut.

Dong Sheng yang tidak memiliki simpanan uang yang banyak langsung menyumbangkan Rp. 10 juta.

Sejak itu, Dong Sheng mencoba semaksimal mungkin untuk membantu anak-anak yang putus sekolah.

Dia menyumbangkan sebagian besar dana pensiun bulanannya. Ketika dia melihat sepucuk surat ucapan terima kasih, air matanya pun menetes haru.

Belakangan, ia melihat masih banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah karena miskin, namun, karena pendapatannya terbatas, dan bantuan yang diberikan juga sangat terbatas. Jadi Dong Sheng kembali bekerja seperti biasa.

Pendapatan bulanan sebesar Rp. 4 juta termasuk dana pensiunnya itu bisa menopang hidup yang baik bagi orang tua yang tinggal sendiri seperti Dong Sheng ini.

Ia hidup sederhana dan makannya juga seadanya. Bahkan demi menghemat, Dong Sheng hanya makan sayuran sepanjang bulan.

ILUSTRASI. (Internet)

 

Belakangan, mungkin karena faktor usia, Dong Sheng ditemukan jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit oleh pemilik rumah kontrakan.

Karena selalu menyumbangkan uangnya untuk anak-anak miskin, sehingga uangnya tidak banyak lagi yang tersisa.

Meski Dong Sheng berhasil diselamatkan, namun, wajahnya tampak cemas memikirkan biaya pengobatannya.

Tepat pada saat itu, seorang dokter bernama Chen Feng diam-diam ke kasir dan membayar biaya pengobatan Dong Sheng.

Setelah itu, dokter Chen Feng berkata kepada Dong Sheng, bahwa dia adalah salah seorang siswa miskin yang telah dia bantu ketika itu, dan semua prestasi yang dicapainya sekarang tak lepas dari bantuannya.

Dokter Chen Feng meminta Dong Sheng untuk menjalani perawatan di rumah sakit dengan tenang.

Beberapa hari kemudian, ketika Dong Sheng mengetahui kondisi penyakitnya, ia bersikeras ingin pulang, dia tidak ingin membuang-buang uang di rumah sakit.

Akhirnya dokter Chen Feng memberinya obat dan membiarkannya pulang ke rumah kontrakannya.

Sejak itu, dokter Chen Feng juga kerap menjenguk Dong Sheng selagi sempat.

Satu bulan kemudian, Dong Sheng merasa waktunya tidak banyak lagi, dan meminta bantuan dokter Chen Feng agar mengirim dana pensiunnya bulan ini ke sekolah, dan berkata kepada dokter Chen Feng bahwa mungkin dia tidak dapat membayar kembali biaya pengobatan yang dibayarkan dokter Chen Feng selama sakitnya.

Dokter Chen Feng mengatakan bahwa dia sendiri didanai selama beberapa tahun ketika itu, jadi sekarang dia berusaha membantu kembali semampunya, dan ini adalah hal yang wajar sebagai pembalasan atas budi seseorang.

Namun, Dong Sheng mengerutkan kening sejenak ketika doker Chen Feng menyerahkan tanda terima pengiriman kepadanya.

Ia berkata dengan ekspresi bingung, “Anak muda, saya tidak pernah mendanai Anda, karena saya tidak pernah mengirim uang menggunakan nama asli.”

Chen Feng buru-buru meminta maaf, ia mengatakan bahwa itu kelalaiannya. Lupa menggunakan nama samaran.

Dong Sheng menyuruhnya menyebut nama samarannya, namun, dokter Chen Feng tidak tahu.

Akhirnya dokter Chen Feng pun menceritakan hal yang sebenarnya kepada Dong Sheng.

Sebenarnya, dokter Chen Feng berasal dari keluarga berada, dan memang tidak pernah menerima bantuan dari Dong Sheng, hanya saja selalu terbayang dalam benak dokter Chen Feng ketika orang tua itu ke acara amal di sekolah mereka dan secara pribadi menyumbangkan Rp.10 juta saat itu.

Jadi ketika orang tua itu masuk rumah sakit dan tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar tagihan medisnya, dia pun berpikir ingin melakukan sesuatu untuk orang tua itu.

Namun khawatir orang tua itu tidak bersedia, sehingga terpaksa ia mengatakan sebagai salah satu siswa yang mendapatkan bantuan sumbangannya.

Setelah mengucapkan terima kasih, pak tua itu pun pergi dengan tenang.

Setelah kematiannya, Chen Feng memimpin dalam upacara belasungkawa dan pemakaman untuk orang tua yang baik hati itu.

Selain itu juga banyak orang yang secara spontan menghadiri pemakaman orang tua tersebut, mengantar ke peristirahatan terakhirnya.

Dong Sheng dengan tenang telah menyelesaikan perjalanan hidup terakhirnya di dunia.

Selamat jalan pak Dong Sheng yang telah menyumbangkan sisa hidupnya untuk anak-anak miskin yang kembali bisa bersekolah. (jhn/rp)

Goodtimes.my